Halaman

    Social Items

Ads 728x90

Apa yang dimaksud dengan kaum Muhajirin dan kaum Anshar? Tentu sebagian orang akan mempertanyakan kedua istilah tersebut karena sebagai umat Islam kita perlu mengetahui sejarah Islam pada masa Nabi. Jawaban pertanyaan tersebut berada pada pengertian dari kedua istilah tersebut.

Pengertian kaum Muhajirin adalah umat Islam yang hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) untuk menghindari penindasan orang-orang Mekkah yang menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Kata "muhajirin" sendiri berasal dari Bahasa Arab yang artinya "orang-orang yang berhijrah", namun dalam pembahasan ini khusus untuk penduduk Mekkah yang memeluk agama Islam dan hijrah ke Madinah.

Maka ketika ditanya apa yang dimaksud dengan kaum Muhajirin? Anda dapat menjawab, kaum Muhajirin adalah Umat Islam yang hijrah meninggalkan Mekkah dalam rangka menjaga keimanan dan menyelamatkan diri dari penindasan penduduk Mekkah yang menentang dakwah Rasul Muhammad SAW.

Pengertian kaum Anshar adalah orang-orang yang menolong dan menerima kaum Muhajirin ketika sampai di Madinah. Kata "anshar" berasal dari Bahasa Arab yang berarti "penolong". Maka ketika kaum Muslimin Mekkah pindah ke Madinah, orang-orang yang menolong dan menerima mereka adalah penduduk Madinah.

Saat itu, tidak semua masyarakat Madinah beragama Islam, namun mereka tetap disebut dengan kaum Anshar karena walaupun non Muslim, mereka tetap yang menolong kaum Muhajirin yang pindah di kota Madinah. Namun, pendapat yang kuat adalah kaum Muslimin penduduk Madinah yang menolong Muhajirin.

Jadi, kaum Muslimin yang hijrah dari Mekkah ke Madinah disebut dengan kaum Muhajirin, sedangkan kaum Muslimin Madinah yang menolong kaum Muhajirin disebut kaum Anshar.

Kaum Anshar menerima kaum Muhajirin dengan senang hati dan sangat gembira. Apa lagi ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah. Sambutan mereka sangat luar biasa, baik muslim maupun non Muslim penduduk Madinah sangat antusias dengan kedatangan Rasul Muhammad. Bahkan masyarakat Madinah berlomba-lomba menghiasi rumah dengan indah agar Nabi mau berkunjung dan menginap di rumah mereka.

Langkah pertama dakwah Nabi Muhammad saat di Madinah adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar yang telah telah memeluk agama Islam. Dengan begitu, kaum Muslim Mekkah tidak akan merasa asing di Madinah. Dan dengan terbentuknya tali persaudaraan di antara kaum Muhajirin dan Anshar, maka persatuan mereka akan sangat erat.

kaum muhajirin dan kaum anshar


Kaum Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan hidup dengan rukun dan saling menghormati. Meraka membentuk masyarakat yang kokoh untuk mendukung Nabi Muhammad dalam rangka menyebarkan agama Islam. Oleh sebab itu, perjuangan kedua kaum tersebut sangat berarti bagi umat Muslim.

Betapa indahnya ketika kaum Muhajirin di sambut hangat oleh kaum Anshar di Madinah. Mereka seperti kawan dekat yang telah berpisah dan bertemu lagi. Pelukan demi pelukan terbentuk di antara mereka, menyambut kedatangan saudara seiman. Apa lagi ketika Nabi Muhammad SAW yang ditemani oleh Abu Bakar dan Ali tiba di Madinah, syair Thala'al Badru 'alaina berkumandang, Nabi menunggang untanya dengan gagah dan penuh wibawa. Penduduk Madinah menyambutnya dengan sangat gembira, Bahkan mereka merasa sangat beruntung jika rumah mereka disinggahi Nabi.

Masa hijrah kaum Muhajirin terhitung sejak tahun 7 Sebelum Hijriah (613 M) sampai Fakhul Mekkah pada tahun 8 H (629 M). Setelah penaklukan Mekkah, mereka yang hijrah ke Madinah tidak lagi disebut dengan kaum Muhajirin, karena tujuan dari hijarahnya mereka adalah untuk menghindari penindasan kaum Kafir Quraisy.

Kaum Muhajirin meninggalkan tanah kelahiran mereka, termasuk rumah, harta, dan keluarga demi mempertahankan iman. Mereka hijrah karena telah mendapat tekanan dan ancaman dari kaum kafir Mekkah. Mereka menggunakan cara apapun agar kaum Muslimin mau kembali pada kepercayaan nenek moyang mereka yakni menyembah berhala dan keluar dari ajaran Islam.

Dalam sejarah islam, kaum Muslimin melakukan hijrah sebanyak dua kali. Hijrah yang pertama ke Habsyi yang terjadi pada tahun 615 M dan hijrah kedua dari Mekkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M.

Sebab-Sebab Kaum Muslimin Hijrah Ke Madinah

  1. Karena penyiksaan dan tekanan kaum Musyrikin Mekkah.
  2. Untuk menjaga iman, jiwa dan raga mereka
  3. Perintah Allah SWT melalui malaikat Jibril
  4. Penduduk Madinah menerima Islam dengan baik


Perbedaan kaum muhajirin dan anshra adalah Kaum Muhajirin merupakan kaum Muslimin yang berasal dari Mekkah kemudian hijrah ke Madinah, sedangkan kaum Anshar adalah umat Islam yang telah menolong dan menerima kaum Muhajirin ketika hijrah di Madinah. Intinya, umat Islam penduduk Mekkah yang Hijrah ke Madinah adalah kaum Muhajirin dan umat Islam penduduk Madinah yang menerima dan menolong kaum Muhajirin adalah kaum Anshar.

Pengertian dan Kisah Kaum Muhajirin dan Anshar Yang Dipersaudarakan Oleh Rasulullah SAW

Muawiyah bin Abu Sufyan adalah pendiri Dinasti Umayyah dan resmi menjadi khalifah pada tahun 661 M. Ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus saudara tiri Ummu Habibah Ramlah, salah satu istri Rasulullah SAW. Sebenarnya, Utsman bin Affan merupakan khalifah pertama dari Bani Umayyah, namun Muawiyah adalah khalifah yang menjadikan Umyyah sebagai dinasti di kekhalifahan.

muawiyah bin abu sufyan


Muawiyah juga dikenal sebagai khalifah pertama dari Bani Umayyah yang berasal dari garis keturunan Abu Sufyan bin Harb. Nama lengkap Muawiyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Umyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia memeiliki nama julukan yaitu, Abdurrahman dan al-Quraisyi al-Umawi al-Makki.

Pada masa pemerintahan Khalifah bin Abu Sufyan pusat pemerintahan atau ibu kota telah dipindahkan dari Madinah ke Damaskus. Ia juga telah melanjutkan perluasan wilayah yang telah dilakukan oleh khalifah-khalifah sebelumnya. Disamping itu, Muawiyah juga mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan menetapkan aturan kiriman pos.

Muawiyah mneninggal pada 22 Rajab tahun 60 H. Menjelang wafatnya, ia mengangkat putranya yang bernama Yazid menjadi putra mahkota untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya. Pada tahun 681 Yazid telah resmi menjadi khalifah. Itu berarti menandakan berakhirnya masa kepemimpinan Muawiyah.

Ciri-Ciri Fisik Muawiyah bin Abu Sufyan
Muawiyah memiliki fisik berbadan tinggi dan kulit yang putih. Wajahnya tampan serta memiliki aura wibawa yang kuat. Umar bin Khattab pernah berkata bahwa Muawiyah menyukai makanan yang lezat dan bergaya seperti raja. Wajar saja jika Muawiyah seperti itu, karena ia berasal dari kabilah terpandang. Selain itu, Umar berkata demikian bukan bermaksud mengejek Muawiyah, akan tetapi hanya memberi informasi saja bahwa Muawiyah memiliki ciri seperti itu.

Memeluk Agama Islam
Pendapat yang sudah mashur dikalangan umat Islam bahwa Muawiyah masuk Islam pada masa Fatkhul Makkah (Penaklukan Mekkah). Akan tetapi Muawiyah pernah berkata bahwa ia masuk Islam sebelum Penaklukan Mekkah, tepatnya dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 Hijriah.

Beliau menyembunyikan keimanannya karena pada masa itu Muawiyah dalam posisi yang sangat sulit. Mengingat ayahnya (Abu Sufyan) belum masuk Islam, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy yang menentang Nabi Muhammad SAW.

Keturunan Muawiyah
Muawiyah memiliki beberapa anak baik putra maupun putri. Berikut nama-nama anak Muawiyah:

  1. Yazid bin Muawiyah
  2. Abdurrahman bin Muawiyah
  3. Abdullah bin Muawiyah
  4. Ramlah binti Muawiyah
  5. Hindun binti Muawiyah
  6. Aisyah binti Muawiyah
  7. Atikah binti Muawiyah
  8. Shafiyyah binti Muawiyah


Ketengan: "bin" berarti anak laik-laki dan "binti" berarti anak perempuan.

Semasa hidupnya, Muawiyah memiliki beberapa istri. Nama-nama istri Muawiyah adalah Maisun binti al Kalbiyah, Fakhitah binti Qarazhah, Kanud binti Qarazhah, dan Na'ilah binti Imarah.


Sekilas Biografi Muawiyyah bin Abu Sofyan;
Nama: Muawiyah bin Abdu Sufyan
Lahir: pada tahun 602 M di Mekkah, Jazirah Arab
Wafat: 22 Rajab tahun 60 H (26 April 680 M) di Damaskus, Syria
Usia: 77 Tahun
Ayah: Abu Sufyan bin Harb
Ibu Hindun binti Utbah
Berkuasa: selama 20 tahun dari 661-680 M

Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Sebagai khalifah pertama dari Bani Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan memiliki karier yang gemilang dalam kancah politik dan sebagai pemimpin. Selain menjabat sebagai gubernur, ia juga ditunjuk sebagai pemimpin pasukan untuk memperluas kekuasaan Islam.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, Muawiyah pernah ikut pertempuran dalam Perang Yamamah, yaitu peperangan melawan Musailamah al Kadzab (nabi palsu). Setelah permasalahan internal (pemberontakan) selesai, Abu Bakar mengirim pasukan ke beberapa daerah, salah satunya negeri Syam. Dalam pasukan tersebut, terdapat satu divisi pasukan yang dipimpin oleh Muawiyah.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, ia pernah ditunjuk sebagai gubernur Syria pada tahun 639. Membentuk angkatan laut Muslim yang pertama kalinya adalah salah satu bukti bahwa ia merupakan gubernur yang cakap dan cerdas. Namun pada masa Khalifah Umar, pasukan angkatan laut belum boleh digunakan karena orang Arab pada saat itu belum begitu akrab dengan lautan. Sehingga, pada masa Utsman bin Affan angkatan laut baru dipergunakan.

Selain menjadi gubernur di masa khalifah Umar, Muawiyah juga pernah ditugaskan untuk membebaskan kota Qaisariyah (Palestina) yang memiliki benteng pertahanan dan pasukan yang kuat. Kegigihannya dalam memimpin pasukan dan berjihad membuat benteng tersebut dapat di tembus dan berhasil menguasainya. Dikisahkan pengepungan kota Qaisariyah memakan waktu hingga 1 bulan.

muawiyah bin abu sufyan
Ilustrasi Muawiyah Memimpin Pasukan

Kedua peristiwa tersebut membuat Muawiyah ditunjuk sebagai gubernur Yordania pada 17 H. Yazid bin Abu Sufyan kemudian meninggal pada tahun 18 H karena penyakit Tha'un. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Khalifah Umar menunjuknya untuk menggantikan posisi Yazid memimpin Damaskus dan Yordania (Ba'labakm dan Balqa).

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Muawiyah adalah seorang gubernur yang paling berpengaruh dan menguasai mayoritas negeri Syam. Meninggalnya dua gubernur Syam membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya yang meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria.

Ia banyak melakukan perluasan wilayah ke beberapa daerah perbatasan Syam, sehingga beberapa daerah berhasil dikuasai. Pada tahun 32 H, Cyprus (Qubrush) telah menginkari perjanjian karena Bizantium. Ia pun kembali berhasil merebut Cyprus dari kekuasaan Bizantium yang semena-mena terhadap negeri jajahannya. Setelah menguasai Cyprus Muawiyah membangun kota-kota baru dan memperbaiki keadaan ekonomi masyarakatnya.

Muawiyah Pada Masa Ali bin Abi Thalib

Sebenarnya Muawiyah sangat menghormati dan mengakui Khalifah Ali bin Abi Thalib karena keutamaanya. Namun karena terdapat perbedaan pendapat tentang hukuman terhadap pelaku pembunuhan Khalifah Utsman, Muawiyah tidak mau baiat terhadap Ali.

Karena situasi dan kondisi yang sangat pelik terjadilah Perang Shiffain antara pihak Ali dan Muawiyah. Kondisi carut-marut dalam tubuh Islam memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk membunuh Ali. Saat mendengar terbunuhnya Ali, sebenarnya Muawiyah sangat sedih karena ia menganggap dengan kematian Ali, maka banyak manusia kehilangan keutamaan, fikih, dan ilmu.

Setelah Khalifah Ali meninggal, kaum Muslimin sempat mengangkat Hasan bin Ali (cucu Nabi) sebagai pemimpin Umat Islam. Namun karena keadaan yang sangat pelik membuat Hasan menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah di Kuffah setelah enam bulan setelah pengangkatan.

muawiyah bin abu sufyan
Ilustrasi Masa Pemerintahan Muawiyah

Masa Pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan

Khalifah pertama bani Umayyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia telah memindahkan pusat pemerintahan ke Damakus karena ia telah menjadi gubernur selama 22 tahun di daerah tersebut. Selain itu, ia juga memiliki pendukung yang dapat diandalkan di sana. Muawiyah untuk pertama kalinya membentuk tim pengawal pribadi dengan alasan keamanan dirinya. Muawiyah juga memperkuat pemerintahan dengan mengembangkan armada angkatan laut yang memiliki 1.700 buah kapal.

Dalam peradaban Islam Khalifah Muawiyah berkuasa dari tahun 661 sampai 680 M. Semenjak berkuasa, Muawiyah memulai langkah-langkah untuk merubah sistem pemerintahan dari demokrasi ke sistem monarki. Ia memperkuat barisan militer dan memperluas kekuasaan administratif negara.

Pertama, ia berusaha menertibkan kebijakan militer dengan tetap mempertahankan panglima-panglima Arab yang memimpin pasukan kesukuan Arab. Selanjutnya ia berusaha meningkatkan pendapatan negara dari penghasilan pribadi dan lahan pertanian yang diambil alih dari Bizantium dan Sasania serta dari investasi pembukuan tanah baru dan irigasi.

Sejalan dengan perkembangan administrasi, kehidupan istana kekhilafahan juga teroganisir. Pegawai-pegawai administrasi, pejabat sekretaris raja, para pengawal dan juru tulis mengerumini raja sebagai mana yang telah diakukan oleh kalangan tokoh Arab sebelumnya.

Pos-pos penting dalam pemerintahan masih dijabat oleh tokoh Arab, tetapi aktifitas pemerintahan tidak lagi bergantung kepada dewan-dewan tokoh Arab, melainkan bergantung pada pejabat-pejabat profesional.

Sekalipun administrasi Umayyah bernuansa islami, namun inspirasi yang sebenarnya berasal dari praktek Bizantium dan Sasania. Organisasi kemiliteran Syria mengikuti kemiliteran Bizantium. Di Iraq pola organisasi administrasi menggunakan pola Sasania, yakni menjadi 4 bidang, Bidang Keuangan, bagian surat-menyurat, kemiliteran, dan bidang kedutaan.

Muawiyah Bin Abu Sufyan: Biografi dan Masa Pemerintahan

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah khalifah pertama yang menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad ketika Beliau SAW meninggal dunia. Menjadi khalifah dengan cara musyawarah di antara pemuka kaum Muhajirin dan Anshor membuatnya menanggung amanah yang sangat berat.

Kisah pengangkatan Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah, telah terjadi kontroversi di kalangan kaum muslimin. Pertama, kaum Syi'ah yang berpendapat bahwa, Ali bin Abi Thalib yang pantas untuk menggantikan Nabi sebagai pemimpin kaum muslimin. Kedua, kaum Sunni yang berpendapat bahwa, Nabi lebih mengutamakan musyawarah dan menolak untuk menunjuk pemimpin selanjutnya.

Musyawarah yang dilaksanakan oleh kaum Muhajirin dan Anshor juga sempat terjadi perbedaan pendapat. Golongan Muhajirin menganggap, pemimpin baru umat Islam harus diambil dari kaum Muhajirin, sedangkan golongan Anshor berpendapat bahwa, pemimpin baru kaum muslimin harus dari golongan Anshor.

Menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW, beliau menderita sakit yang cukup parah, sehingga memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat berjama'ah di masjid bersama sahabat yang lain. Ketika Nabi meninggal dunia, kondisi umat Islam sangat terguncang. Banyak kaum muslimin yang tidak percaya bahwa Nabi telah meninggal dan ada pula yang histeris karena sedih yang amat sangat mendalam.

Dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, mau tidak mau harus segera memilih pemimpin baru agar umat Islam tidak terpecah dan dapat menjaga kedaulatan Negara Islam yang berpusat di Madinah. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

Kisah Abu Bakar ash Shiddik


Kisah Abu Bakar ash Shiddiq Menjadi Khalifah

Kisah khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq di awali dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Saat itu kaum Muslimin sedang dalam keadaan terguncang karena kabar meninggalnya Nabi. Sebagian kaum muslimin tidak percaya bahwa, nabi telah wafat, sebagian yang lain dalam kondisi yang sangat sedih, sementara beberapa kaum muslimin juga ada yang amat sangat bingung karena telah ditinggal wafat Nabi.

Mereka bingung karena bagaimana umat Islam setelah Nabi meninggal dunia, serta siapa yang akan memimpin umat selanjutnya. Abu Bakar yang mendengar Nabi wafat langsung menuju rumah Rasulullah SAW. Ketika masuk ke dalam rumah Nabi, ia melihat bahwa Nabi sudah ditutup dengan kain burd hibara (buatan Yaman). Ia kemudian membuka penutup wajah Nabi dan menciumnya.

Dalam keadaan yang sangat mencekam dan histeris ini, tiba-tiba Abu Bakar keluar dari rumah Rasulullah dan berpidato dengan lantang. Isi pidato Abu Bakar Siddiq ketika Nabi Muhammad meninggal adalah: "Saudara-saudara, barang siapa yang menyembah Muhammad maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah maha hidup dan kekal".

Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah Q.S. Ali Imran: 144 yang artinya: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharad bagi Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur".

Mereka yang mendengarkan ayat yang telah dibacakan Abu Bakar menjadi sadar bahwa Nabi benar-benar wafat. Sahabat Umar bin Khattab yang tidak percaya bahwa Nabi Muhammad wafat akhirnya tersungkur. Kedua kakinya sudah tidak kuat menahan lagi setelah ia yakin bahwa nabi telah meninggal.

Musyawarah di Saqifah bani Saidah

Proses pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah berlangsung dengan dramatis. Kaum muslimin yang berada di Madinah berusaha untuk mencari pengganti Nabi sebagai pemimpin Umat Islam. Perdebatan antara kamu Anshar dan Muhajirin pun terjadi di Tsaqifah bani Saidah. Masing-masing pembesar kaum Anshar dan Muhajirin mengajukan argumen tentang siapa yang berhak untuk diangkat sebagai khalifah.

Para pembesar kaum Anshar mencalonkan seorang pemuka dari suku Khajraj yaitu, Said bin Ubaidillah untuk menggantikan Nabi sebagai khalifah. Kaum Muhajirin yaitu, Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah tdak tinggal diam dan menyampaikan pendapatnya bahwa, agar menetapkan pemimpin baru dari kalangan suku Quraisy.

Perdebatan mulai memanas. Abu Bakar lalu mengajukan dua calon khalifah ( Umar bin Khattab dan Ubaidah bin Zahrah ). Akan tetapi kedua tokoh tersebut menolak usulan Abu Bakar.

Umar yang melihat perdebatan semakin rumit langsung mengambil tindakan. Dengan suara lantang beliau membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Ubaidah pun mengikuti Umar dengan membaiat Abu bakar. Ternyata tindakan Umar yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah banyak yang setuju, sehingga proses baiat terhadap Abu Bakar terus berlanjut. Basyir bin Saad dan juga pengikutnya yang hadir dalam musyawarah juga ikut membaiatnya.

Abu Bakar yang telah diangkat oleh sebagian kaum Muslimin lalu menghampiri kaum Anshor yang hadir dalam majelis Saidah bani Tsaqifah. Ia mengatakan bahwa, kami adalah pemimpinnya dan kalian adalah para menterinya. Tindakan ini secara politik adalah untuk menghindari pertikaian antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Kisah Abu Bakar ash Shiddiq diangkat menjadi khalifah tidak hanya berakhir di situ saja.

Terdapat beberapa kaum muslimin yang tidak ikut membaiat Abu Bakar seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Salman al Fasisi, Khalid bin Said, Fadl bin al-Abbas, dan Ammah bin Yasir. Telah terjadi pertemuan antara kaum Anshar, Muhajirin, dan Ali bin Abi Thalib di rumah Fatimah. Meraka bermaksud membaiat Ali sebagai khalifah karena beranggapan bahwa beliau lebih patut menjadi khalifah karena berasal dari bani Hasyim.

Selama enam bulan, Ali bin Abi Thalib dan beberapa keluarganya tidak ikut mengucapkan sumpah setia kepada Abu Bakar. Nabi mempunyai beberapa potong tanah di Madinah dan di Khaibar. Putri Nabi (istri Ali) dan paman Nabi (Abbas) telah menuntut tanah tersebut. Tetapi Abu Bakar tidak menyetujuinya berdasarkan keterangan yang telah diucapkan oleh Rasulullah.

"Kami, Nabi-Nabi tidak dapat diwarisi", demikian ucapan Rasulullah. Apapun yang kami tinggalkan kemudian menjadi hak bersama (umat Islam). Fatimah tidak mengetahui apa yang telah diucapkan oleh ayahnya, sehingga menyebabkan terjadi salam paham.

Selama Fatimah sakit, Abu Bakar mengunjunginya dan menjelaskan permasalahan tersebut. Enam bulan setelah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, Fatimah, istri Ali meninggal dunia. Kondisi ini membuat Ali memutuskan datang menemui Abu Bakar untuk membicarakan masalah tanah.

Ali mendapatkan jawaban dari Abu Bakar yang membuat hatinya menjadi tenang. Kemudian Ali masuk ke dalam Masjid dan di hadapan orang banyak ia mengucapkan baiat sumpah setia kepada Abu Bakar.

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah selama 2 tahun 76 hari. Ia berkuasa dari tanggal 8 Juni tahun 632 M sampai 23 Agustus 634 M. Masa pemerintahan Abu Bakar banyak permasalahan dalam tubuh Islam, namun dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan ia telah meraih beberapa prestasi yang luar biasa.

Kaum Sunni dan Syi'ah

Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subjek kontroversi dan menjadi perpecahan pertama dalam islam, dimana umat terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Kaum Syi'ah percaya bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib karena telah ditunjuk oleh Nabi. Sedangkan kaum Sunni berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum Sunni berargumen bahwa Nabi mengedepankan musyawarah untuk memilih pemimpin.

Kisah Abu Bakar ash Shiddiq Diangkat Menjadi Khalifah Yang Pertama

Masa pemerintahan abu bakar ash shiddiq

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Khalifah pertama yang memimpin umat Islam setelah Rasulullah Muhammad Wafat  dari tahun 632 sampai 634 M. Lahir pada tanggal 27 Oktober tahun 573 M di Mekkah dan wafat pada tanggal 23 Agustus tahun 634 M di Madinah. Ia adalah salah satu sahabat utama Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin yang berkuasa selama 2 tahun 2 bulan.

Masa pemerintahan Abu Bakar yang hanya berlangsung selama 2 tahun dipergunakan oleh Abu Bakar dengan sangat baik. Selama kepemimpinannya masyarakat Arab di Bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuan yang pesat baik dalam bidang sosial, budaya, dan penegakan hukum. Masa pemerintahan Abu Abakar ash Shiddiq juga telah berhasil memperluas wilayah kekuasaan ke sebagian Jazirah Arab, Persia, hingga menaklukkan sebagian Bizantium.

Pengangkatan Abu Bakar Menjadi Khalifah

Peristiwa genting yang mengguncang Umat Islam telah membuat kaum Muslimin seperti terombang-ambing kebingungan. Berita tentang wafatnya Nabi Muhammad SAW telah tersebar di kalangan umat Islam. Keadaan yang sangat genting ini harus segera diadakan pengangkatan pemimpin baru yang dapat mengayomi masyarakat agar tidak terpecah belah.

Segera setelah Nabi meninggal dunia, dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar di Tsaqifah bani Saidah yang terletak di Madinah untuk memilih pemimpin baru. Dalam musyawarah tersebut telah terjadi perdebatan yang sangat alot, hingga pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai pemimpin baru dan menjadi Khalifah pertama umat Islam.

Sebelum terjadi mufakat dalam musyawarah tersebut, telah terjadi perbedaan pendapat antara kaum Muhairin dan Anshar. Mereka berselisih pendapat tentang siapa yang mengganti Nabi sebagai khalifah kaum muslimin. Pihak Muhajirin menghendaki bahwa golongan Muhajirinlah yang pantas untuk menjadi khalifah, sementara itu pihak Anshor berpendapat bahwa golongan Anshor yang pantas untuk dijadikan khalifah.

Mendengar kejadian itu, Abu Bakar mendatangi mereka dan menyodorkan dua kandidat calon khalifah yaitu; Umar bin Khattab dan Ubu Ubaidah bin Jarrah. Tidak disangka-sangka, Umar bin Khattab malah membai'at Abu Bakar sebagai khalifah. Mereka yang berselisih pendapat juga sepakat bahwa Abu Bakar adalah pemimpin kaum Muslimin selanjutnya.

Peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah telah menimbulkan perpecahan politik dalam tubuh Islam, dimana Umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Pada saat musyawarah Kaum Sunni berpendapat bahwa Nabi menolak untuk menunjuk penggantinya dan Nabi Muhammad mengedepankan musyawarah dalam memilih pemimpin, sedangkan Kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib yang menjadi pemimpin umat Islam dan ini adalah keputusan Rasulullah sendiri.

Terlepas dari kontroversi dan kebenaran dari masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya dan membai'at Abu Bakar sebagai pemimpin baru dan dua Khalifah setelahnya yaitu Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Sementara kaum Syi'ah berpendapat bahwa Ali melakukan bai'at secara pro formal setelah beberapa bulan kemudian tepatnya setelah Fatimah meninggal dunia.

Bai'at (Peresmian) Abu Bakar Sebagai Khalifah

Abu Bakar ash-Shiddiq diangkat menjadi khalifah pada tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi, setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Abu Bakar menjadi khalifah dengan cara musyawarah, yaitu antara kaum Muhajirin dan Anshor di Tsaqifah bani Saidah, Madinah.

Sebagai khalifah, Abu Bakar telah mengalami dua kali bai'at, pertama bai'at di Tsaqifah yang dikenal dengan Bai'at Hasanah dan yang ke dua di Masjid Nabawi yang dikenal dengan Bai'at 'Ammah. Bai'at yang terjadi di Tsaqifah merupakan bai'at yang dilakukan oleh pembesar kaum Muhajirin dan Anshor, sedangkan bai'at di Masjid Nabawi merupakan bai'at untuk umum atau masyarakat.

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah pertama


Menjadi Khalifah Pertama

Bai'at atau sumpah setia kepada khalifah baru yang dilaksanakan di Masjid Nabawi telah usai. Sebagai khalifah baru yang memimpin kaum muslimin Abu Bakar berdiri dan mengucapkan pidato. Pidato Abu Bakar setelah bai'at usai adalah sebagai berikut:

Aku telah kalian pilih sebagai khalifah (kepala negara), tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Karena itu, jika aku melakukan hal yang benar, maka ikutilah dan bantulah aku. Tetapi jika aku melakukan hal yang salah, perbaikilah, sebab menurut pendapatku menyatakan yang benar adalah amanah, membohongi rakyat adalah pengkhianatan.

Setelah Abu Bakar dibai'at dan resmi menjadi pemimpin umat Islam, muncul beberapa masalah yang mengancam persatuan stabilitas komunitas dan negara Islam. Pemberontakan terjadi di mana-mana yang dilakukan oleh orang-orang muslim. Beberapa suku Arab yang berasal dari Nejed dan Hijaz membangkang kepada khalifah dengan sistem yang ada. Beberapa ada juga yang menolak membayar Zakat meski tetap setia terhadap agama Islam.

Orang-orang yang telah memeluk Islam beberapa telah murtad dan kembali kepada ajaran nenek moyang untuk menyembah berhala. Mereka yang menimbulkan masalah mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen kepada Nabi Muhammad, dan dengan wafatnya Nabi maka komitmen tersebut tidak berlaku lagi.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar diwarnai dengan kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad yang kembali kepada ajaran nenek moyang dengan menyembah berhala, aktifnya orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi (nabi palsu), pemberontakan di beberapa kabilah Arab dan banyak yang ingkar membayar zakat.

Kemunculan orang-orang murtad disebabkan oleh keyakinan mereka terhadap ajaran Islam belum begitu mantap, sehingga meninggalnya Nabi Muhammad SAW dapat menggoyahkan iman mereka. Kemunculan nabi palsu sebenarnya juga terjadi pada masa Nabi Muhammad, tetapi kewibawaan Rasul Muhammad SAW telah menenggelamkan mereka, sehingga aktivitas nabi palsu tidak begitu terlihat.

Diantara nabi-nabi palsu yang terkenal adalah Musailamah al-Kadzab dari Bani Hanifah, Tulaihah bin Walid dari Bani As'ad Saj'ah, Tamimiyah dari Bani Yarbu, dan Aswad al-Ansi dari Yaman.

Pemberontakan kabilah disebabkan oleh anggapan bahwa, perjanjian damai yang mereka buat bersama Nabi SAW bersifat pribadi, sehingga dengan wafatnya Nabi, maka perjanjian tersebut telah usai. Sementara itu orang-orang yang enggan membayar zakat tergolong orang yang lemah imannya namun masih memeluk agama Islam.

Mengatasi Orang-Orang Murtad

Khalifah Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam segara mengambil tindakan tegas atas masalah yang timbul dikalangan umat. Ia menyatakan perang terhadap mereka. Peperangan tersebut dikenal dengan sebutan Perang Riddah, yaitu perang melawan kemurtadan. Dalam perang Riddah, pertempuran terbesar adalah melawan Musailamah al-Kadzab (Ibnu Habi al-Hanafi) yang menyatakan dirinya adalah nabi baru yang menggantikan Muhammad.

Pertempuran Riddah terjadi dengan begitu dahsyat. Abu Bakar memerintahkan panglima Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan Islam.  Pada akhir peperangan pasukan musuh berhasil ditumpas, sedangkan Musailamah sendiri terbunuh oleh al Wahsyi, seorang budak yang telah dibebaskan Hindun binti Abu Sofyan karena telah berhasil membunuh Hamzah (paman Nabi) dalam Perang Uhud.

Musailamah al-Kadzab adalah nabi palsu. Ia mengaku bahwa dirinya adalah nabi baru yang menggantikan Nabi Muhammad SAW. Padahal Allah telah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman, yaitu tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad. Oleh sebab itu Musailamah di juluki "al-Kadzab" yang artinya Pendusta.

Untuk menumpas aktivitas pemberontakan, Abu Bakar membentuk sebelas pasukan. Dari sebelas pasukan itu masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh, seperti Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Syurahbil bin Hasanah.

Perluasan Wilayah

Setelah menyelesaikan permasalahan internal secara penuh di kalangan umat Islam dan menumpas orang-orang yang murtad, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq memperluas wilayah kekuasaan. Khalid bin Walid pada tahun 633 M diperintah oleh Khalifah untuk melaksanakan kegiatan ekspansi di wilayah-wilayah perbatasan Syria dan Persia.

Khlid bin Walid kemudian mengirim surat kepada komandan pasukan Persia. Isi surat tersebut terdapat tiga poin penting, yaitu: Ajakan untuk memeluk Agama Islam, Kewajiban membayar pajak, dan siap untuk berperang. Humruz yang menjadi komandan pasukan Persia memilih untuk berperang melawan pasukan Islam.

Pertempuran antara pasukan Muslim dengan pasukan Persia disebut dengan Perang Rantai, karena pasukan Persia membuat barisan pertahanan dengan rantai-rantai besar yang mengikat mereka satu sama lainnya. Perang ini terjadi di Hafir, kurang lebih 50 mil sebelah utara Uballah.

Akhirnya pasukan Persia menyerah, sedangkan komandan mereka telah terbunuh. Setelah Perang Rantai selesai, juga terjadi sejumlah peperangan kecil. Pasukan Persia tersesak mundur dan terusir ke wilayah Mesopotamia.

Pasukan muslim juga telah berhasil mengepung dan menguasai wilayah Hira. Penguasa wilayah setempat menyerah dan mengadakan perdamaian dengan membayar sejumlah pajak. Khalid yang telah berhasil menguasai wilayah Hira kemudian bergerak ke arah Utara hingga sampai Ambar, yaitu sebuah wilayah yang berada di pesisir Pantai Euphrat.

Ekspedisi untuk membebaskan Syria juga telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Syria merupakan salah satu wilayah jajahan Romawi. Sejak jaman dahulu negeri Arab telah menjalin hubungan dagang dengan Syria.

peta ekspansi pada masa khalifah abu bakar
Peta Ekspansi (Image by: saripedia.wordpress.com)


Lembaga Keuangan dan Pengadilan

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum, Abu Bakar membentuk Baitul Mal (semacam lembaga keuangan) untuk menyimpan kas negara. Pengolahan kas negara diserahkan oleh seseorang yang dijuluki Amin al-Ummah oleh sahabat Nabi. Arti dari Amin al-Ummah adalah "dapat dipercaya oleh umat".

Kebijakan lain yang telah dilakukan oleh Abu Bakar tentang keuangan adalah membagi sama rata harta rampasan perang (ghanimah). Alasannya adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam akan mendapat pahala dari Allah SWT, maka biarlah di dunia mereka mendapat bagian yang sama.

Selain kebijakan dalam urusan keuangan, pada masa kepemimpinan Abu bakar juga didirikan lembaga pengadilan. Lembaga ini diketuai langsung oleh Khalifah. Jadi ketika ada permasalahan baik perdata maupun pidana, maka akan diserahkan kepada Abu Bakar.

Perkembangan Hukum

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, penetapan hukum terhadap suatu masalah telah mengalami perkembangan. Cara yang dilakukan Abu Bakar dalam menetapkan hukum ada beberapa metode. Mula-mula ia memecahkan masalah dengan al-Qur'an sebagai sumbernya. Ketika permasalahan tidak terpecahkan, maka ia cari dalam Sunnah Rasulullah (Hadits). Bila permasalahan tidak kunjung terpecahkan, Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat Nabi.

Dalam musyawarah tersebut para sahabat duduk dalam satu majelis dan melakukan ijtihad bersama (ijtihad kolektif). Maka timbullah keputusan bersama yang disebut dengan Ijma' sabahat dalam masalah tertentu.

Mengumpulkan al-Qur'an

Sejumlah Hafidz al-Qur'an (orang-orang yang hafal al-Qur'an) telah banyak yang gugur dalam perang Yamamah, sehingga Abu Bakar khawatir terhadap al-Aqur'an. Maka dari itu, Abu Bakar membentuk tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabid untuk mengumpulkan seluruh al-Qur'an yang masih berupa lembaran-lembaran untuk dijadikan dalam satu mushaf.

Kodifikasi al-Qur'an yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar belum selesai, karena Khalifah telah wafat. Sehingga pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, pengumpulan dan penulisan mushaf baru usai.

Khalifah Abu Bakar Wafat

Abu Bakar wafat pada tanggal 23 Agustus tahun 634 M (21 Jumadil Akhir 13 H). Beliau dikebumikan di Masjid Nabawi, Madinah, dekat dengan makam Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar wafat pada usia 61 tahun karena sakit yang telah dideritanya.

Kematian Abu Bakar tersebar di kalangan umat Islam, membuat para sahabat sedih berlinang air mata. Kejadian untuk memilih pemimpin baru bagi umat Islam terulang kembali. Utsman bin Khattab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar sebagai Khalifah yang selanjutnya.

Prestasi

Selama menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar telah berhasil meraih beberapa prestasi. Paling tidak ada beberapa prestasi Abu Bakar ash-Shiddiq yang dapat kami sebutkan, yaitu;

  • Berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga menaklukan dua negara adijaya (Persia dan Bizantium)
  • Berhasil menumpas pemberontakan dan kemurtadan
  • Membangun lembaga keuangan dan lembaga pengadilan
  • Mengembangkan cara penetapan hukum melalui ijtihat sahabat
  • Kodifikasi atau mengumpulkan al-Qur'an walaupun belum usai.


Kesimpulan

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah selama 2 tahun 76 hari, dari tanggal 8 Juni 632 sanpai 23 Agustus 634 M. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah dengan cara musyawarah yang dilaksanakan di Tsaqifah bani Saidah. Musyawarah yang laksanakan dalam memilih pemimpin baru telah menimbulkan perpecahan politik, yaitu antara kaum Sunni dan Syi'ah.

Ketika menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar telah meraih banyak prestasi antara lain, meperluas wilayah kekuasaan dan menaklukan negara adijaya yaitu, sebagian daerah Bizantium dan Persia. membangun lembaga keuangan (Baitul Mal) dan lembaga pengadilan, menumpas pemberontakan dan nabi palsu. Abu Bakar wafat di usia 61 tahun karena sakit yang ia derita.

Masa Pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Prestasinya

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib (dalam tulisan Arab = علي بن أﺑﻲ طالب) adalah khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan dan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang menyandang gelar Khulafaur Raysidin. Lahir pada 15 September 601 atau 13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah. Ia merupakan sepupu Nabi serta menjadi menantunya setelah menikahi salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Memeluk agama Islam pada masa awal dakwah Rasul Muhammad SAW, membuatnya termasuk golongan pemeluk Islam awal.

Julukan Ali bin Abi Thalib adalah Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Sibthain, Abu Raihanatain, dan Abu Turab. Di antara beberapa nama julukan tersebut, Ali paling menyukai Abu Turab sebagai julukannya, karena Nabi Muhammad SAW sendiri yang memberikan julukan tersebut. Turab artinya debu. Ketika Nabi mencari menantunya Ali, ternyata ia sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu menempel di punggung Ali. Kemudian Nabi duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "duduklah Abu Turab".

Nama lengkap Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab. Ayah Ali bernama Abu Thalib, salah satu paman Nabi yang berjasa mengasuh Muhammad SAW dari kecil hingga dewasa, ketika Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Ali mengikuti semua peperangan melawan kafir Quraisy, kecuali Perang Tabuk.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tahun 656 setelah Khalifah Utsman wafat dan berakhir pada tahun 661. Ia berkuasa selama 4 tahun, 223 hari dari 20 Juni 656 hingga 29 Januari 661. Masa kekuasaan Ali merupakan salah satu periode tersulit dalam sejarah Islam, karena pada saat itu telah terjadi perang saudara yang pertama dalam tubuh umat Islam yang mengakibatkan pembunuhan khalifah ke tiga Utsman bin Affan.

Biografi Ali bin Abi Thalib

Biografi Singkat Ali bin Abi Thalib

Nama Panggilan: Ali
Nama Asli: Asad bin Abu Thalib
Nama Lengkap: Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab
Julukan: Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Shibthain, Abu Rahainatain, dan Abu Turab.
Gelar: Khulafaur Rasyidin
Lahir: 15 September, 601 (13 Rajab, 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Ka'bah, Mekkah
Wafat: 29 Januari 661 (21 Ramadhan, 40 H) di Kuffah pada usia 59 tahun
Pemakaman: Sekitar Masjid Imam Ali
Suku: Quraisy dari golongan Bani Hasyim
Berkuasa: 20 Juli 656 sampai 29 Januari 661 (4 tahun, 223 hari)
Ayah: Abu Thalib
Ibu: Fatimah binti Asad
Pasangan: Fathimah binti Muhammad, Umamah binti Sainab, Fathimah binti Hizam, Laila binti Mas'ud, Asma binti 'Umaiys, Khaulah binti Ja'far, dan as-Sahba' binti Rabi'ah
Anak: Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, Muhsin, Muhammad, 'Abbas, Abdullah, Hilal

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Sejarah Singkat Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Riwayat Hidup di Masa Nabi

Ali bin Abi Thalib lahir pada 15 September 601 M  (13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Mekkah. Ayah Ali bernama Abu Thalib, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Asad. Abu Thalib merupakan paman Nabi Muhammad SAW yang mengasuh beliau ketika masih kecil dan ikut melindungi Nabi ketika ditekan oleh Kafir Mekkah. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi. Walaupun Abu Thalib tidak menyatakan Imannya ke pada Nabi, akan tetapi dalam hatinya mempercayai dan meyakini bahwa ajaran Nabi itu benar.

Masa Kecil Hingga Remaja

Ali dari lahir diberi nama Assad bin Abu Thalib. Assad artinya adalah macan, yang berarti dari pihak keluarga ingin bahwa kelak Ali menjadi sosok yang pemberani, tangguh dan disegani oleh masyarakat. Namun, Abu Thalib yang baru mengetahui bahwa anaknya diberi nama Assad, ayahnya memanggil dengan nama Ali, yang berarti luhur derajatnya.

Masa kecil Ali bin Abi Thalib telah banyak dihabiskan bersama Nabi dan Isrinya Khadijah. Karena keluarga Ali sangat sibuk, maka hal tersebut memberi kesempatan Nabi dan Khadijah untuk mengasuhnya. Ali bin Abi Thalib diasuh oleh Nabi saat berusia enam tahun.

Kehadiran Ali di tengah-tengah keluarga Nabi menjadi kebahagiaan tersendiri, bahkan ia dianggap sebagai anak oleh Nabi. Bergabungnya Ali dalam keluarga Nabi juga memberikan kesempatan untuk membalas budi kepada pamannya, karena Nabi juga pernah diasuh oleh Ayahnya Ali.

Maka akan menjadi masuk akal, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda "Aku (Nabi) adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya", karena sejak kecil hingga remaja Ali sudah bersama Nabi. Ditambah lagi ia telah menjadi menantu Nabi ketika telah menikah dengan salah satu putrinya yang bernama Fatimah binti Muhammad. Maka Ali lebih banyak memiliki kesempatan untuk selalu dekat dengan Nabi dan menerima pelajaran-pelajaran lebih dari sahabat-sahabat lainnya.

Pada usianya yang remaja, Nabi Muhammad SAW telah menerima wahyu, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa, Ali adalah laki-laki yang pertama kali mempercayai wahyu tersebut atau bisa dikatakan bahwa Ali adalah orang kedua yang percaya setelah Khadijah, istri Nabi. Diceritakan bahwa, pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Masa remaja Ali bin Abi Thalib, setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, ia banyak belajar langsung dari Nabi, karena sebagai anak asuh ia berkesempatan untuk selalu dekat dengan Beliau. Didikan langsung dari Nabi dalam semua aspek, menjadikan Ali sebagai pemuda yang sangat cerdas, berani, dan bijak.

Baca Juga: Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

Berjuang Membantu Nabi Untuk Hijrah Ke Madinah

Setelah beberapa lama masuk Islam, perintah untuk hijrah ke Madinah pun turun. Kaum Muslimin kemudian berbondong-bondong hijrah ke Madinah dan dibagi menjadi tiga ronde. Sebagian besar para sahabat Nabi akhirnya sudah hijrah dan kini tinggal Nabi Muhammad dan beberapa sahabat yang masih di Mekkah, termasuk Ali bin Abi Thalib.

Hal ini dilakukan karena jika Nabi berangkat ke Madinah bersama dengan kaum Muslimin yang lainnya, maka kaum kafir Quraisy akan menghalangi kaum Muslim lainnya. Oleh sebab itu, selain menunggu perintah dari Allah SWT, Nabi tetap tinggal di Mekkah agar kaum Muslimin tidak dihalang-halangi oleh pembesar Quraisy untuk hijrah ke Madinah.

Kini hanya Nabi, Abu Bakar ash-Shidiq, dan Ali bin Abi Thalib yang berada di Mekkah. Perintah untuk segara hijrah ke Madinah khusus bagi Nabi Muhammad akhirnya turun.

Ali saat itu masih menemani Nabi di kediamannya, sementara itu Abu Bakar berada di rumahnya sendiri. Setelah malam tiba, Nabi menuju rumah Abu Bakar secara diam-diam agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy, karena rumahnya sedang dikepung.

Ali yang malam itu menemani Nabi tetap berada di kediaman Nabi dan tidur di dalam kamarnya. Hal ini dilakukan untuk mengecoh orang-orang yang sedang mengepung rumah Nabi Muhammad. Maka ketika para kaum Quraisy mengintip ke dalam kamar Nabi, ia masih melihat bahwa Nabi masih tidur di dalam rumahnya, padahal yang mereka lihat adalah Ali bin Abi Thalib.

Seolah-olah Nabi mengorbankan Ali demi keselamatannya sendiri, akan tetapi sebenarnya Ali yang menawarkan diri untuk melindungi Nabi dengan cara seperti itu. Ia rela mengorbankan jiwanya demi Nabi Muhammad karena cintanya yang amat luar biasa.

Menjelang pagi orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Ali yang sedang tidur di dalam rumah Nabi. Mereka terkecoh, karena selama ini mereka mengira bahwa Nabi yang sedang tidur di dalam rumah. Padahal Nabi sudah berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur untuk sementara waktu.

Itulah mengapa Ali menjadi salah satu sahabat utama Nabi, karena ia rela mengorbankan jiwanya demi tegaknya Islam. Iman yang kuat dan saking cintanya terhadap Nabi, membuat Ai rela mengorbankan jiwa tanpa rasa takut. Sejarah tersebut merupakan salah satu peristiwa yang amat penting, karena dapat dijadikan suri tauladan yang baik bagi kaum Muslimin.

Baca Juga: Fathul Mekkah dan Faktor Kemenangan Pembebasan Kota Mekkah

Menetap di Madinah

Setelah hijrah ke Madinah Ali bin Abi Thalib berjuang bersama Nabi Muhammad SAW dan sahabat yang lainnya untuk menegakkan Agama Islam. Selanjutnya, ia menikah dengan salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Tertulis dalam sejarah, bahwa Ali tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup. Sebagian besar peperangan melawan orang-orang yang memusuhi Nabi telah juga telah ia ikuti.

Peperangan yang telah diikuti Ali bin Abi Thalib antara lain, Perang Badar, Perang Khandak, dan Perang Khaibar.

Beberapa saat setelah menikah dengan salah satu putri Nabi terjadilah perang yang pertama dalam sejarah Islam yaitu, Perang Badar. Selain Hamzah (paman Nabi), Ali juga menjadi pahlawan, karena banyak Quraisy Mekkah yang tumbang oleh Ali. Dalam Perang Khandaq Ali juga telah menjadi sosok yang pemberani. Ia dapat menewaskan Amar bi Abdi Wud dalam satu tebasan.

Perjanjian Hudaibyah yang telah disepakati oleh Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi telah dikhianati oleh orang-orang Yahudi, maka terjadilah Perang Khaibar. Kaum Yahudi yang bertahan di dalam Benteng Khaibar yang sangat kokoh. Para sahabat kesulitan untuk menembus benteng tersebut. Namun, Ali bin Abi Thalib dengan gagah berani mampu merangsak dan menembus benteng tersebut, serta dapat membunuh pasukan Yahudi yang dikenal pemberani dalam sekali tebas.

Sekian lama Ali berjuang bersama Nabi, tentu banyak sekali waktu yang telah ia lewatkan bersama Nabi Muhammad SAW. Apa lagi selain menjadi sepupu Nabi, ia juga menjadi menantunya. Hingga pada suatu hari Nabi Muhammad SAW wafat.

Khalifah Ali bin Abi Thalib

Menjadi Khalifah

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tanggal 20 Juni 656 sampai 29 Januari 661 kurang lebih selama 4 tahun 223 hari. Menjelang pengangkatan Ali menjadi khalifah, situasi politik sangat genting karena terbunuhnya khalifah sebelumnya, yaitu Utsman bin Affan. Dalam kekacauan tersebut, Abn Harb memegang kendali terhadap keamanan di Madinah sampai terpilihnya khalifah yang baru.

Setelah terbunuhnya Utman, maka segeralah kaum Muslimin meminta Ali untuk menggantikan khalifah sebelumnya. Mereka beranggapan, bahwa tidak ada orang yang patut untuk menjadi khalifah kecuali Ali.

Beliau sempat menolak untuk menjadi khalifah, namun akhirnya ia menerima tanggungjawab tersebut. Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dengan cara tidak seperti khalifah Abu Bakar dan Umar, sebab hanya orang-orang yang pro terhadap Ali saja yang melakukan bai'at. Ali diangkat menjadi khalifah pada hari Jumat, 13 Zulhijjah tahun 35 Hijriah.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah yang ke empat setelah Utsman bin Affan. tindakan Ali setelah resmi diangkat menjadi khalifah adalah memecat semua gubernur yang telah diangkat oleh khalifah Utsman dan mengangkat pejabat-pejabat baru. Lahan pertanian yang telah dibagikan pada masa Utsman ditarik kembali. Ia juga menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap para pejabat agar tidak terjadi penyelewengan.

Akan tetapi kebijakan atas pemecatan dan pengangkatan para pejabat menimbulkan pro dan kontra di kalangan rakyat. Ada yang menolak dan ada yang menerima serta ada pula yang netral. Pada masa pemerintahan Ali juga telah berhasil melakukan perluasan wilayah setelah pemberontakan di Kabu dan Sistan ditumpas. Mendirikan benteng-benteng yang kuat di daerah utara perbatasan Paris juga telah berhasil dibangun.

Dalam pengendalian uang beliau mengikuti prinsip-prinsip yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar. Harta yang diambil dari rakyat termasuk pajak dikembalikan ke rakyat dan untuk keperluan rakyat. Sikap jujur dan adil yang telah diterapkan oleh Ali ternyata malah menimbulkan amarah bagi sebagian orang dan kemudian membuat berpihak kepada Muawiyyah.

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib kebijakan-kebijakan untuk memulihkan kestabilan politik dan situasi umat Islam tidaklah mudah, mengingat Muawiyah dan Thalhah menuntut agar kasus pembunuhan terhadap Utsman untuk segera diusut dan diselesaikan.

Akan tetapi tuntutan tersebut belum sempat untuk diselesaikan karena beberapa hal. Pertama, karena situasi yang tidak menguntungkan yaitu kondisi umat Islam yang sedang kacau dan tidak stabil. Hal ini membuat Ali harus mengembalikan kondisi panasnya politik menjadi stabil kembali. Kedua, Menghukum para pembunuh Utsman tidak lah mudah, mengingat bahwa orang yang membunuhnya tidak hanya satu orang saja.

Perang Jamal pun tidak dapat dihindari karena pihak Thalhah dan sekutunya sulit untuk diajak damai, sehingga membuat Thalhah dan Zuabair terbunuh, sedangkan Aisyah (istri Nabi) dikembalikan ke Madinah.

Muawiyah yang telah dipecat dari jabatannya tidak terima akan hal itu. Akibatnya terjadilah Perang Siffin antara pihak Ali dan Muawiyah. Ali sebenarnya tidak menginginkan terjadinya perang, namun Muawiyah sulit untuk diajak damai. Akibatnya terjadilah peperangan yang menelan banyak korban.

Dalam Perang Siffin di pihak Ali menunjukan tanda-tanda kemenangan, sedangkan di pihak Muawiyah berada di ujung tanduk akan mengalami kekalahan. Tiba-tiba dari pihak Muawiyah ada seseorang yang mengangkat al-Qur'an di atas tombak, menunjukan ingin mengadakan gencatan senjata (arbitrase/tahkim)

Banyak dari pihak Ali yang tidak setuju untuk melakukan gencatan senjata, karena hampir dapat dipastikan bahwa kemenangan ada di pihak Ali. Namun gencatan senjata tetap disetujui oleh Khalifah Ali sehingga dilakukan perundingan.

Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Musa al-Asy'ari sebagai wakil, sedangkan dari pihak Muawiyah mengutus Amr bin Ash untuk melakukan perundingan. Sungguh disayangkan perundingan politik yang telah dilakukan ternyata merugikan pihak Ali dan boleh dikatakan bahwa dalam perundingan tersebut pihak Ali yang kalah.

Peristiwa itu membuat sebagian orang keluar dari barisan Ali. Orang-orang yang keluar dari barisan Ali disebut dengan golongan Khawarij yang kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Ali.

Akhir Hayat Ali bin Abi Thalib

Akhir Hayat

Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 29 januari tahun 661 M (21 Ramadhan tahun 40 H). Pada tanggal 27 Ramadhan Ali diserang oleh seseorang dari golongan Khawarij. Ia ditikam dengan pedang yang telah dilumiri racun, sehingga dua hari kemudian Ali meninggal dunia. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib dilakukan pada saat sujud dalam shalat subuh, hari Jumat.

Pembunuh Ali bernama Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya Ali bin Abi Tahlib, ia berwasiat agar tidak menyerang orang Khawarij, apa bila Ali selamat dari tikaman itu, Abdrrahman akan diampuni, dan bila Ia meninggal maka Abdurrahman akan dihukum dengan tikaman yang sama.

Takdir yang tidak bisa terelakkan, pada 29 Januari tepatnya pada 21 Ramadhan Ali meninggal dunia. Hasan, putra Ali sekaligus cucu Nabi memenuhi wasiat ayahnya dengan memberikan hukuman yang sama atas wasiat tersebut.

Kesimpulan

Ali bin Abi Thalib merupakan sosok dan salah satu sahabat yang luar biasa. Ia mampu melaksanakan misi yang penuh dengan risiko tanpa rasa takut ketika Nabi berangkat ke Madinah. Ali diperintahkan untuk tidur di rumah Nabi untuk memperdaya kaum Quraisy yang ingin menghalangi Nabi untuk Hijrah.

Abi bin Abi Thalib menghabiskan masa kecilnya bersama dengan Rasulullah, karena sejak umur enam tahun ia telah diasuh oleh Nabi sehingga terbentuklah kecerdasan dan kebijaksanaan yang luhur. Tidak sampai disitu saja, ketika berada di Madinah, Ali menjadi menantu Nabi setelah menikahi Fatimah, salah satu putri Nabi.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada saat kondisi umat Islam sedang genting. Banyak pemberontakan dari kalangan Muslim untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Maka terjadilah peperangan yang disebut dengan perang Jamal dan perang Siffin. Walaupun Ali lebih memilih menghindari perang saudara, namun pertikaian tidak dapat dihindari.

Perang Siffin mengakibatkan terpecahnya umat Islam menjadi tiga golongan, yaitu orang yang setia terhadap Ali, orang yang membela Muawiyah, dan orang yang keluar dari barisan Ali.


Ali bin Abi Thalib: Biografi Singkat Dari Lahir Hingga Wafat

Biografi Utsman bin Affan
Biografi Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab, berkuasa antara tahun 644 sampai 656 dan merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin dengan masa pemerintahan terlama. Sama seperti pendahulunya, ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang istimewa. Julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) telah ia dapatkan karena telah menikah dengan dua putri Nabi secara berturut-turut.

Lahir dari keluarga saudagar kaya, Utsman memiliki kepribadian yang dermawan, lembut dan murah hati. Ia pernah membeli sebuah sumur seorang yahudi dengan harga yang sangat mahal disaat kemarau panjang dan membolehkan siapa saja untuk mengambil air di sumur tersebut secara gratis. Ratusan unta, kuda, dan ribuan uang dirham telah ia shodaqohkan untuk kepentingan umat disaat Perang Tabuk berkecamuk.

Setelah Umar bin Khattab wafat, Utsman menggantikannya sebagai khalifah pada usianya yang ke 64 atau 65 tahun, sehingga menjadikanya khalifah yang tertua diantara penyandang gelar Khulafaur Rasyidin. Dibandingkan dengan pemerintahan Umar, Khalifah Utsman cenderung memberikan hak otonom yang lebih longgar kepada bawahannya, sedangkan pada masa Umar kendali kebijakan berpusat kuat pada khalifah.

Masa kepemimpinan Utsman bin Affan, perluasan wilayah dapat dilakukan secara mandiri dan dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh hingga kawasan Asia Tengah karena sistem otonom dan politik yang lebih longgar. Masyarakat baik muslim dan non muslim menjadi lebih makmur dari segi ekonomi dan kebebasan politik.

Namun terlepas dari segudang prestasi yang telah ia raih, Ustman menuai kritik keras atas beberapa kebijakan, terutama kebijakan yang dipandang lebih condong kepada keluarganya untuk menempati kedudukan yang penting. Sistem pemerintahan yang lebih bebas membuat pihak oposisi melakukan demonstrasi besar-besaran sampai berujung pada pemberontakan dan kediamannya dikepung pada tahun 656. Tidak ingin terjadi perang saudara, Utsman menolak bantuan militer saudaranya, sehingga terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada akhir pengepungan.

Biografi Utsman bin Affan

Biografi Utsman bin Affan

Nama lengkap Utsman bin Afffan adalah Utsman bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdul Manaf bin Qushay al-Amawi al-Quraisy. Lahir pada tahun 574 M atau tahun ke 42 Sebelum Hijriah di Tha'if, (masih wilayah Jazirah Arab). Nasab beliau bertemu dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang ke 4 yaitu Abdul Manaf. Melihat dari nama lengkap Utsman, beliau termasuk keturunan dari golongan Bani Umayyah.

Ayah Utsman bernama Affan bin Abi Ash (seorang saudagar kaya), sedangkan ibunya bernama Arwa binti Kurayz dari keturunan golongan Abdshams. Golongan Umayyah dan Abdshams merupakan bagian dari suku Quraisy yang terpandang di Mekkah. Ditinggal wafat oleh ayahnya saat usia muda membuat beliau mendapatkan warisan yang sangat banyak. Ia pun meneruskan bisnis ayahnya dan mengalami perkembangan yang pesat sehingga membuatnya menjadi orang terkaya di antara kaum Quraisy.

Utsman bin Khattab masuk agama Islam atas jasa sahabatnya yaitu, Abu Bakar dan termasuk salah satu as-Sabiqun al-Awwalun "golongan sahabat yang pertama kali masuk Islam. Utsman bin Affan memiliki karakter yang paling jujur, dermawan dan rendah hati di antara kaum muslimin. Beliau juga termasuk salah satu sahabat istimewa Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin.

Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab: Masa Kecil Hingga Menjadi Khalifah

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah (istri Nabi) bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ubu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberikan perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun tidak biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa? Nabi Menjawab, "Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu terhadapnya?".

Saat Utsman menjadi Khalifah ia telah mencetuskan ide yang cermerlang, yaitu membuat lembaga keamanan bagi rakyat (seperti polisi), membuat gedung pengadilan yang sebelumnya dilakukan di masjid, dan membangun perekonomian di sektor pertanian. Pada masa kepemimpinan Utsman juga mengadakan perluasan wilayah di beberapa daerah kecil yang berada di sekitar perbatasan, seperti di Syria, Persia, dan Afrika Utara. Ia pun membentuk angkatan laut yang kuat pada masanya. Dan yang paling besar prestasinya adalah mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang dibentuk menjadi satu mushaf.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, ia banyak memecat gubernur wilayah yang dianggap kurang cakap dan mengganti dengan orang-orang yang lebih cakap. Akan tetapi pejabat yang telah ia pecat banyak yang sakit hati, sehingga bersengkokol untuk membunuhnya.

Biografi Utsman bin Affan

Utsman Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Ustman bin Affan masuk islam  pada usia 64 atau 65 tahun atas jasa dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah kembali dari perjalanan berdagang ke Suriah pada tahun 611, Utsman mendengar kabar tentang misi dakwah yang telah dinyatakan Muhammad SAW. Ia pun berdiskusi dengan salah satu sahabatnya, Abu Bakar tentang dakwah dan misi Nabi. Dalam diskusi tersebut Utsman mengambil keputusan untuk masuk Islam dan menyatakan imannya kepada Nabi dengan diantar oleh Abu Bakar.

Peristiwa Penting

Ketika Utsman telah masuk agama Islam, terdapat beberapa peristiwa penting yang telah ia lalui. Perjuangan menegakkan agama Islam juga telah ia lalui bersama-sama dengan Nabi dan sahabat lainnya. Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hijrah ke Habbasyiah

Utsman hijrah ke Habbasyiah pada bulan April 615, bersama dengan istrinya, Ruqayyah dan sepuluh muslim dan tiga muslimah. Lalu mengikuti beberapa muslim lainnya. Ia yang memiliki beberapa koneksi di Habbasyiah tidak kehabisan akal untuk melanjutkan profesinya sebagai pebisnis dalam berdagang. Bisnisnya berhasil dan berkembang dengan pesat.

Baca Juga: Abu Bakar ash-Shidiq: Biografi dan Masa Kepemimpinannya

Setelah empat tahun tinggal di Habbasyiah, tersebar berita di kalangan muslim, bahwa orang-orang Quraisy Mekkah telah menerima Islam. Hal ini membuat Utsman dan istrinya beserta 39 muslim lainnya untuk kembali ke Mekkah. Namun setelah sampai di Mekkah, ternyata berita tersebut adalah hoaks. Walaupun demikian, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah selama satu tahun lebih.

2. Hijrah dan Menetap Madinah

Untuk menghindari tekanan dari kaum kafir Quraisy, tak lama setelah pindah ke Mekkah, seruan untuk hijrah ke Madinah tersebar di kalangan umat Islam. Utsman dan Ruqayyah bersama-sama dengan para sahabat hijrah ke Madinah pada tahun 622. Setelah semua kaum muslimin sampai di Madinah, barulah Nabi berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan Umar. Hal ini penting untuk dilakukan agar kafir Quraisy tidak menghalangi hijrahnya kaum muslimin.

Di Madinah, kaum Muhajirin (muslim yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) disambut dengan senang hati oleh kaum Anshor (penduduk muslim Madinah yang menerima kedatangan muslim Mekkah). Sebagian besar penduduk muslim Madinah adalah petani dan kurang berminat untuk berdagang, sedangkan orang Yahudi melakukan perdagangan hanya di kota-kota besar. Utsman menyadari adanya peluang besar untuk mempromosikan bisnis dagangnya dan memutuskan untuk menjadi pedagang di Madinah dan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

3. Menjadi Saudagar Kaya dan Dermawan

Sukses di sektor perdagangan, Ustman menjadi orang terkaya di Madinah. Ia pun dipercaya menjabat sebagai wali kota di Madinah. Pada saat Perang Tabuk berkecamuk, Utsman menyedekahkan sebagian hartanya. Tidak tanggung-tanggung ia memberikan yaitu, 950 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1000 dirham untuk keperluan perang. Bahkan di suatu riwayat, Utsman ingin menyedekahkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad, namun Nabi melarangnya agar keperluan sehari-hari untuk keluarga masih ada.

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Utsman juga pernah membeli sebuah sumur dari seorang lelaki dari suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Sumur tersebut lalu di waqafkan untuk kepentingan umum, siapapun boleh mengambil air yang berada di sumur itu. Pada masa Khalifah Abu Bakar, ia juga memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu masyarakat miskin saat musim kering. Utman bin Affan adalah sosok yang baik hati dan dermawan. Walaupun ia menjadi orang terkaya di Madinah dan menjabat sebagai wali kota, Ustman tetap rendah hati dan tidak lupa daratan.

khalifah utsman bin affan

Menjadi Khalifah

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah pada tahun 644 sampai 656 Masehi setelah Khalifah Umar bin Khattab Wafat. Dikisahkan bahwa, sebelum Utsman menjadi khalifah, terdapat enam orang yang terpilih sebagai calon khalifah. Enam kandidat tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdur Rahmah bin Aur, Sa'at bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Akan tetapi empat diantaranya mengundurkan diri dan hanya tersisa Utsman dan Ali.

Pemilihan khalifah setelah Umar wafat menggunakan sistem demokrasi. Suara rakyatlah yang menentukan siapa khalifah selanjutnya. Ini pertama kali dalam sejarah, bahwa pemilihan kepala pemerintahan Islam berdasarkan suara rakyat. Terpilihlah Ustman sebagai Khalifah karena suara rakyat cenderung memilih beliau untuk melanjutkan kepemimpinan. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H, bertepatan dengan 6 November 644 Masehi.

Baca Juga: Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Mekkah dan Madinah

Utsman bin Affan menjadi khalifah dengan cara pemilihan umum atau dengan sistem demokrasi. Berbeda dengan khalifah pendahulunya yang dipilih langsung oleh khalifah sebelumyan. Abu bakar menjadi khalifah karena isyarat Nabi Muhammad SAW. Sebelum Nabi wafat, Abu Bakar pernah diperintahkan Nabi untuk menggantikannya mengimami shalat berjama'ah di masjid. Dengan isyarat tersebut maka terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Begitu pula dengan Umar, ia menjadi khalifah karena ditunjuk langsung oleh Abu Bakar menjelang beliau wafat.

Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan

Khalifah Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah ketikan berusia 70 tahun. Ini membuat beliau termasuk ke dalam khalifah yang tertua di antara Kulafaur Rasyidin. Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, banyak sekali prestasi yang telah ia raih atas kebijakan yang ia tetapkan. Berikut beberapa prestasi gemilang yang ia dapatkan.

1. Meningkatkan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

Dengan bekal pengalaman dan kecerdasan di bidang bisnis, Utsman telah berhasil meningkatkan kesejahteraan baik penduduk Mekkah, Madinah, dan negeri taklukannya. Utsman secara jujur menyatakan bahwa ia memiliki hak untuk memanfaatkan dana publik sesuai dengan penilaian terbaiknya, dan tidak ada yang mengkritiknya. Beliau juga mengijinkan untuk menarik pinjamandari perbendaharaan publik.

Utsman juga telah melarang jual beli tanah pertanian di wilayah taklukanya, mengingat bahwa perdagangan tidak bisa berkembang. Hal ini karena mengikuti kebijakan Khalifah Umar pendahulunya dan lebih banyak penaklukan, sehingga pendapatan dari tanah meningkat secara signifikan. Reformasi ekonomi yang telah Utsman tetapkan telah mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat selama masa pemerintahannya.

Pada masa Umar, sangat ketat dalam menggunakan uang dari perbendaharaan publik. Ia tidak mengambil tunjangan atau hadiah apapun dari uang negara termasuk pejabat lainnya juga tidak mendapatkannya. Akan tetapi pada pemerintahan Utsman, menjadi agak longgar. Ia memutuskan bahwa para pejabat boleh menerima tunjangan dari negara, namun kecil jumlahnya. Akan tetapi Utsman tidak mau menerimanya, dan hanya pejabat lain yang menerima tunjangan.

2. Perluasan Wilayah

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, ekspansi perluasan wilayah mencapai Pakistan. Afika Utara, Azerbaijan, Armenia, Iskandariah, Sabur, Andalusia/Spanyol, Persia, Thaliqon, Fariab, Jauzjan, Turki, dan Thakhstan. Dua negeri adidaya pada masa itu juga berhasil ditaklulan yaitu Persia dan Romawi.

3. Muhshaf Utsmani

Penulisan Mushaf Utsmani dipicu adanya perselisihan ragam qira'at yang terjadi di beberapa wilayah. Kemudian Khalifah Utsman membentuk panitia untuk menulis sebuah mushaf yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sedangkan anggotanya adalah Abdullah bin Zubair dan Abidrrahman bin Haris. Tugas yang harus dilakukan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran atau shuhuf yang masih terpisah lalu dibukukan. Mushaf Utsmani dibakukan pada tahun 25 H (646 M).

Pemberontakan

Peristiwa ini terjadi karena ketidak puasaan atas kebijakan Utsman. Mereka yang yang ingin menggulingkan kepemeritahan beralasan bahwa banyak nipotisme dan gaya hidup yang boros pada masa pemerintahan Utsman. Beberapa sahabat terkemuka bersama mereka yang secara tebuka menentang dan meminta Utsman untuk mundur dari jabatannya. Thalhah dan Zubair ibn al-Awam termasuk di antara mereka yang memimpin para pemberontak.

Dari Mesir, sebuah utusan sekitar 1.000 orang dikirim ke Madinah dengan instruksi menggulingkan pemerintahan dan membunuh Utsman. Utusan serupa juga datang dari Kuffah dan Bashrah ke Madinah dengan tujuan yang sama. Kontingen dari Mesir menunggu Ali bin Abi Thalib untuk menawari menjadi Khalifah sebagai pengganti Utsman, Namun ia menolaknya.

Di Madinah, Utsman mendapat dukungan aktif dari Bani Umayyah, dan beberapa orang lain yang setia padanya. Namun, pemberontakan di berbagai wilayah telah tertata dan terencana dengan rapi. Sebenarnya Utsman telah ditawari oleh beberapa pejabat setianya untuk memberi bantuan pasukan kepadanya, namun ia menolaknya dengan alasan agar tidak terjadi perang saudara.

Alasan pemberontakan atas pemerintahan Khalifah Utsman adalah Utsman tidak seperti pendahulunya. Pada masa pemerintahan Umar mempertahankan disiplin dengan tangan yang keras, sementara pada masa pemerintahan Utsman, kurang teliti terhadap kekuasaan yang ia pegang dan lebih fokus pada kemakmuran ekonomi.

Pemberontakan terhadap Khalifah Utsman berawal dari banyak pejabat publik yang diangkat dari anggota keluarganya sendiri untuk menjadi gubernur, dengan alasan bahwa dengan melakukan ini dia dapat memberikan pengaruh lebih terhadap pemerintahannya.

Pengepungan dan Berakhir Pembunuhan

Pada awalnya pengepungan kediaman Khalifah Utsman tidak parah, tetapi hari demi hari para pemberontak meningkatkan tekanan terhadap Utsman. Para pemberontak memahami bahwa setelah ibadah haji usai, umat Islam di berbagai belahan dunia yang berkumpul di Mekkah akan mengunjungi Madinah dan membebaskan Utsman. Oleh sebab itu, para pemberontak memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap Utsman sebelum para peziarah Mekkah menuju Madinah.

Dalam masa pengepungan, Utsman ditawari oleh pendukungnya agar dapat mengirim pasukan ke Madinah untuk melindunginya dari pemberontak. Utsman menolak tawaran tersebut, karena Utsman tidak ingin terjadi perang saudara.

Pada tanggal 17 Juni 656, kediaman Khalifah Utsman dijaga ketat oleh para pendukungnya. Namun secara diam-diam beberapa pemberontak memanjat dinding pagar menyusup kedalam rumah. Mereka masuk ke dalam kamar Utsman kemudian membunuhnya. Sempat terjadi pertikaian antara pemberontak dengan istri dan beberapa budak yang berada di dalam rumah. Namun Allah SWT berkehendak lain, Utsman pada hari itu dapat dibunuh oleh para pemberontak.

Wafat

Khalifah Utsman bin Affan meninggal pada tanggal 17 Juni 656 di Jannat al-Baqi. Pemakaman dilaksanakan pada malam hari, karena untuk menghindari para pemberontak. Doa pemakaman dipimpin oleh Jabir bin Muta'am secara sir atau tanpa suara.

Biografi Singkat Utsman bin Affan: Sebelum Masuk Islam Hingga Wafat

Umar bin Khattab adalah khalifah yang ke dua setelah Abu Bakar ash-Shiddiq, berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Sebagai salah satu penyandang gelar Khulafaur Rasyidin, ia juga memiliki nama julukan al-Faruq. Memiliki karakter yang tegas dalam hal kebenaran dan selalu setia kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak diragukan lagi keislamannya.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, banyak sekali peristiwa penting yang patut untuk di teladani. Kisah-kisah perjuangan bersama Nabi juga menjadi keelokan tersendiri dalam kehidupan beliau. Memiliki sifat yang keras terhadap kaum kafir, namun sangat lembut hatinya dalam menghadapi orang-orang yang berada di sekitarnya. Beliau merupakan khalifah yang telah membawa pembaharuan dan berhasil memperluas kedaulatan Islam hingga dua pertiga dari wilayah Kekaisaran Romawi.

Khalifah Umar bin Khattab
Umar bin Khattab

Biografi Umar bin Khattab

Umar bin Khattah lahir pada tahun 584 M di kota Mekah dari keluarga bangsawan suku Quraisy dari bani 'Adi. Ayah Umar bernama Khattab bin Nufail dan ibunya bernama Hantamah binti Hisyam. Beliau menjadi khalifah selama 10 tahun 72 hari, dari tahun 23 Agustus 634 sampai 3 November 644. Umar Wafat pada 3 November 644 (26 Dzulhijjah 23 H) dan dimakamkan di Masjid Nabawi dekat dengan makam Nabi Muhammad.

Kisah Umar bin Khattab lengkap dari sebelum masuk Islam hingga menjadi khalifah sangat banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Maka dari itu, sangat penting untuk dipelajari. Keteladanan beliau dan sikap yang sederhana ketika sebelum menjadi khalifah maupun setelah menjadi khalifah, mementingkan rakyatnya dan tidak membeda-bedakan si miskin maupun orang kaya. Selama itu menyangkut kebenaran, maka ia akan selalu membelanya.

Sebelum Memeluk Agama Islam

Dikatakan bahwa, Umar bin Khattab sebelum masuk Islam merupakan orang yang gemar meminum khamr. Minuman memabukkan yang ia suka adalah anggur. Ia juga adalah orang yang sangat menentang agama Islam dan memegang teguh ajaran nenek moyangnya. Masa-masa sebelum masuk Islam, ia lewatkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan jahiliah, akan tetapi masih menjaga harga dirinya.

Umar dibesarkan di dalam lingkungan bani 'Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. memiliki ciri fisik badan tinggi besar dan tegap, kekar dan berotot, jenggot lebat menghiasi wajah beliau namun tetap terlihat tampan, kulitnya berwarna coklat kemerah-merahan. Nasab beliau bertemu dengan kakek Nabi Muhammad yaitu, Ka'ab.

Pada suatu hari Umar keluar dari rumahnya dengan membawa pedangnya ingin membunuh Rasulullah. Saat berada dalam perjalanan ia bertemu dengan Nu'aim bin al-'Adawi. Nuaim pun bertanya padanya, "Akan pergi kemana wahai Umar?" ia kemudian menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad". Lelaki itu pun berkata suatu hal yang lebih mencengangkan bahwa, adik perempuan dan suaminya telah masuk Islam. Ia lalu berbelok untuk menemui adiknya Fatimah dan suaminya.

Saat Umar pergi untuk menemui adiknya, Fatimah dan suaminya masih berkumpul dengan sahabat lain belajar al-Qur'an. Tiba-tiba Umar sampai dan langsung bertanya kepada adiknya Fatimah. Apakah engkau telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasullah?, Fatimah menjawab, "benar". Tanpa ragu-ragu Umar pun memukul wajah Fatimah hingga mengeluarkan darah.

Umar kembali memperhatikan Fatimah dan melihat ada sesuatu yang disembunyikannya. Ia lalu berkata, "apa yang kau sembunyikan?", Fatimah menjawab "Ini adalah shuhuf al-Qur'an". Umar ingin membacanya namun disuruh oleh adiknya untuk membersihkan seluruh badannya terlebih dahulu. Ia pun mengikuti perintah adiknya kemudian membacanya.

طه (١) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (٢) إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى

Artinya: "Thaha (hanya Allah yang mengetahui). Tidaklah Aku turunkan al-Qur'an ini membuat sukar manusia. Melainkan sebagai pengingat bagi orang-orang yang takut kepada Allah." QS. Thaha Ayat 1-3.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (١٤) إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى (١٥) فَلا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى (١٦

Artinya; "Sesungguhnya Aku Adalah Allah, tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkan shalat untuk mengingatku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri iu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa". (QS. Thaha ayat 14-16).

Membaca ayat-ayat tersebut, hati Umar menjadi bergetar. Dalam riwayat lain dikisahkah bahwa Umar mendengar ayat tersebut lalu bergetarlah hatinya dan berkata, "kalimat tersebut pasti bukan dari manusia".

Memeluk Agama Islam

Umar bin Khattab pergi ke Darul Arkom tempat Rasulullah Muhammad SAW berkumpul bersama para sahabat dengan membawa pedangnya. Para sahabat yang berada di Darul Akrom panik dengan kedatangan Umar, namun Nabi menenangkan para sahabat dengan berkata, "tenanglah, mudah-mudahan ada hikmahnya".

Hamzah bin Abdul Muthalib membukakan pintu, Umar langsung masuk dan mendekati Nabi. Lalu apa yang terjadi? ternyata Umar langsung memeluk Nabi Muhammad SAW dan menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulnya. Sahabat yang melihat peristiwa itu ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Nabi. Sebab sebelumnya Nabi pernah berdoa kepada Allah "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar bin Khattab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.

Seketika itu pula Umar membaca dua kalimat syahadad, orang-orang yang berada di ruangan bertakbir. Abdullah bin Mas'ud berkata, "kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam". Umar adalah yang orang ke 40 masuk Islam. Sebelum mendapatkan gelar al-Faruq, Umar memiliki nama julukan Singa Padang Pasir.

Umar yang memeluk agama Islam rela mengorbankan kehormatannya di mata kaum kafir Quraisy. Dulu ketika sangat membenci ajaran Islam dan mempertahankan ajaran nenek moyangnya Umar sangat disegani oleh kaum musyrikin Quraisy. Setelah ia memeluk agama Islam Umar dikucilkan dari pergaulan penduduk Mekkah serta tidak lagi dihormati oleh para petinggi Quraisy.

Berjuang Bersama Nabi Muhammad SAW

Tidak lama setelah Umar Bin Khattab masuk Islam, pada tahun 622 M ia hijrah ke Madinah bersama para sahabat lainnya. Selang beberapa hari Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Ali baru hijrah ke Madinah (Yatsrib). Disana Umar berjuang bersama Nabi dan sahabat lainnya untuk membesarkan Nama Islam. Dakwah Ralullah Muhammad SAW di Madinah bersama sahabat lainnya merupakan awal Islam berkembang sangat pesat.

Beberapa peristiwa penting telah ia ikut, di antaranya Perang Badar, Uhud, Akhyar, dan ikut terlibat dalam perang ke Syria. Umar dikenal sebagai sosok yang disegani di antara kaum Muslimin karena selalu menjadi orang yang terdepan dalam membela Nabi Muhammad. Ajaran Islam yang dulu sangat ia benci, kini selalu ia taati, bahkan pada setiap kesempatan tanpa ragu untuk menentang kawan lamanya yang dulu ikut menyiksa pengikut Nabi.

Dikisahkan bahwa setelah perintah shalat lima waktu turun, Umar pada setiap kesempatan menertibkan para sahabat untuk meluruskan dan merapatkan shaf (barisan sahlat berjamaah). Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (3550) membawakan riwayat dari Abu Utsman, "Aku pernah berhadapan dengan Umar bin Khattab yang berdiri dalam rangka meluruskan sahaf".

Dari Abdullah ibn Syaddad (seorang tabiin senior yang tsiqah), Ibn Abi Syaibah meriwayatkah bahwa, "Umar melihat dalam shaf ada sesuatu (yang kurang rapat atau lurus) maka beliau memberi isyarat dengan tangannya agar meluruskanya".

Sekian lama berjuang bersama Nabi Muhammad SAW, Umar sangat bahagia. Ia sangat mencintai Rasulullah, hingga pada tahun 10 Hijriah Nabi Muhammad wafat. Umar dikabarkan sebagai salah satu orang yang paling terguncang atas peristiwa itu. Bahkan ia menghalangi sahabat yang hendak mengurus jasad Nabi.

Abu Bakar ash-Siddiq yang mengetahui peristiwa itu berkata dengan lantang, "Barang siapa yang menyembah Nabi, Ia telah meninggal. Barang siapa yang menyembah Allah, Allah maha hidup dan tidak akan mati". Tersadarlah Umar dan sahabat lainnya, ia merasa bersalah karena telah menghalangi sahabat yang mengurus jasad Nabi.

Umar Bin Khattab Menjadi Khalifah

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Abu Bakar ash-Shidiq diangkat menjadi khalifah dan Umar sebagai salah satu penasehatnya dari kalangan kaum Muhajirin. Kisah Umar bin Khattab menjadi khalifah di awali dengan wafatnya Khalifah Abu Bakar. Sekian lama Umar menjadi penasehat, Khalifah Abu Bakar pun wafat karena sakit yang dialaminya. Umar bin Khattab akhirnya diangkat menjadi khalifah yang kedua dan menyandang gelar Khulafaur Rasydin.

Banyak sekali kisah dan prestasi yang luar biasa ketika Khalifah Umar memegang kepemimpinan. Pada masa pemerintahannya, Islam menjadi salah satu kekuatan besar yang berada di wilayah Timur Tengah. Dalam hal pemerintahan dan politik, ia telah membentuk departemen-departemen khusus untuk sebagai wadah aspirasi dan aduan masyarakat. Dia juga membentuk Baitul Mal untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Perluasan wilayah Islam juga telah dilakukan oleh Khalifah Umar. Selain menaklukan Kekaisaran Sasaniyah, Umar berhasil mengambil alih dua per tiga wilayah  dari Kekaisaran Romawi Timur. Hal ini karena para pembesar imperium Romawi pada akhir jaman berbuat sewenang-wenang atas negeri jajahannya. Oleh sebab itu, Islam dengan ajarannya yang mulia ingin membebaskannya.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Islam tumbuh dan berkembang sangat pesat. Islam telah mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari Dinasti Sassinid. Membebaskan negeri jajahan Romawi di Mesir, Palestina, Syria, Afika Utara, dan Armenia. Akhirnya, dua negara adijaya yaitu Romawi dan Persia dapat ditaklukan pada masa Khalifah Umar.

Umar juga telah melakukan banyak perubahan dalam administratif dan menontrol dari dekat kebijakan publik, termasum membangun sistem administrasi daerah-daerah yang ditaklukannya. Pada tahun 638, ia memerintahkan agar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi diperluas dan direnovasi. Pada tahun ke 17 Hijriah ia juga mengeluarkan keputusan bahwa penaggalan Islam dihitung dan dimulai saat peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Khalifah Umar dikenal dengan kepribadian yang sederhana. Walaupun ia telah menjadi kepala pemerintahan dan segudang prestasi yang telah diraih kesederhanaannya tidak berubah. Bahkan ia sering berjalan berkeliling untuk melihat keadaan masyarakat pada malam hari sendirian. Menggunakan baju lusuh agar tidak diketahui oleh masyarakat bahwa ia adalah seorang khalifah.

Kisah Umar bin Khattab saat mejadi khalifah memang sungguh luar biasa dan beberapa sangat mengharukan. Dia pernah dicaci oleh seorang wanita tua yang sangat miskin di hadapannya. Bukanya memarahi wanita tersebut, malah Umar memberikan sekantung gandum padanya. Karena saat umar menyamar menjadi rakyat jelata ia melihat bahwa wanita itu sedang memasak batu.

Khalifah Umar Wafat

Wafatnya Khalifah Umar bin Khattab pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah tahun 23 H atau 644 M, pagi selepas shalat subuh. Ia dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak Persia yang masuk Islam setelah negeri tersebut ditaklukan Umar. Pembunuhan ini konon dilakukan atas dasar dendam pribadi karena kekalahan Persia.

Kisah Umar bin Khattab: Masa Kecil Hingga Menjadi Khalifah

Abu Bakar ash-Shidiq ( أبو بكر الصديق‎ ) adalah salah satu sahabat istimewa, sekaligus sebagai mertua Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin. Beliau menjadi Khalifah yang pertama setelah Rasul wafat, dan tergolong pemeluk Islam awal pada masa dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin 'Amir bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim, bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib al-Quraisyi at-Taimi, sedangkan nama Abu Bakar merupakan nama kunniyyah beliau. Ash-Shidiq dan 'Atiq adalah nama laqb atau julukanya.

Biografi Abu Bakar
Abu Bakar ash-Shidiq
Abu Bakar lahir di Mekkah pada 27 Oktober 573 M (menurut Prof Mas'ud Hasan), dua tahun beberapa bulan setelah Nabi Muhammad di lahirkan. Berarti beliau lebih muda dua tahun dari Rasulullah. Dia juga terkenal sebagai seorang yang berprilaku terpuji, tidak pernah minum minuman yang memabukkan ( khamr )  dan selalu menjaga kehormatannya. Selain itu, beliau juga seseorang yang selalu pertama kali yakin dan membenarkan perkataan Nabi, disaat orang-orang sedang ragu.

Masa Kecil Abu Bakar Hingga Memeluk Agama Islam


Kisah Abu Bakar ash-Shidiq, pada masa kecilnya sama seperti anak-anak bangsa Arab suku Badui pada masa itu. Mereka, orang Arab menyebutnya dengan Ahlul Ba'ir atau Rakyat Unta. Pada masa kecilnya, ia sering bermain dengan unta dan kambing. Abu Bakar kecil juga menyayangi hewan peliharaan unta, karena kecintaannya itu lah ia diberi nama julukan Abu Bakar, yang artinya bapak unta. Namun, nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika ia lahir adalah Abdul Ka'bah.

Ketika berumur sepuluh tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah untuk mengikuti ayahnya bersama-sama dengan rombongan dagang lainnya. Pada saat itu Nabi yang berusia 12 tahun juga ikut serta dalam rombongan tersebut. Sekitar tahun 591, Abu Bakar yang menginjak umur 18 tahun pergi untuk berdagang meneruskan bisnis orang tuanya yakni, menjual kain. Dalam tahun-tahun berikutnya, ia sering pergi untuk berdagang bersama dengan kafilah di berbagai wilayah, seperti di Yaman. Perjalanan bisnis inilah yang membuatnya menjadi kaya.

Abu Bakar pada masa mudanya adalah seorang saudagar kaya, karena perkembangan bisnisnya yang sangat pesat. Hal tersebut mempengaruhi status sosialnya. Meski ayahnya masih hidup, beliau diakui sebagai kepala suku. Seperti anak-anak saudagar kaya lainnya, Abu Bakar adalah orang yang terpelajar, bisa menulis dan membaca serta membuat syair-syair arab yang indah.

Ketika Abu Bakar sedang dalam perjalanan dari Yaman kembali menuju Mekkah, ia memperoleh kabar dari teman-temannya bahwa, Muhammad menyatakan dirinya sebagai seorang utusan Allah. Sejak jaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah. Pada suatu hari, ia bertanya kepada Rasul, "Wahai Abul Qosim (panggilan nabi), ada apa denganmu sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu?".

Mendengar pertanyaan itu, Nabi menjawab "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan aku mengajak kamu kepada Allah". Setelah itu, Abu Bakar menyatakan bahwa dirinya masuk Islam. Mendengar pernyataan itu, Nabi Muhammad SAW merasa sangat gembira.

Dia tergolong orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan lelaki dewasa. Setelah menjadi seorang muslim, dia lebih memusatkan diri dalam kegiatan dakwah Islamiyah bersama Rasul. Banyak orang Arab memeluk agama Islam melalui Abu Bakar, di antaranya Utsman bin 'Affan, Zubeir bin Awwam, Abdurrahman bi Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Abu Bakar Bersama Nabi Muhammad SAW


Banyak sekali peristiwa penting dalam sejarah Islam tentang perjuangannya, berdakwah bersama Nabi Muhammad SAW. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain, ketika Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' Mi'raj, hijrah dari Mekkah ke madinah, dan peristiwa bagaimana sikap Abu bakar ketika Nabi Muhammad SAW wafat. Berikut ini sekilas perjuangan Abu Bakar bersama Nabi untuk berdakwah.

Abu Bakar Ketika Peristiwa Isra' Mi'raj


Isra' Mi'raj merupakan peristiwa sejarah umat Islam yang sangat luar biasa dan telah diabadikan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Isra' ayat 1. Ketika itu, atas ijin Allah SWT, Nabi bersama malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, kemudian dilanjutkan naik ke langit yang disebut Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa tersebut Rasulullah telah mendapat perintah shalat lima waktu.

Setelah kejadian tersebut, Nabi Muhammad mengumpulkan penduduk Mekkah baik yang sudah masuk Islam maupun yang belum. Setelah penduduk Mekkah sudah berkumpul, maka beliau menceritakan kejadian Isra' Mi'raj yang baru saja ia alami.

Peristiwa ini ternyata menjadi sebuah ujian iman bagi umat Muslim. Bagi Muslim yang percaya dan yakin atas peristiwa tersebut, maka Iman yang ada di dalam hati akan semakin kuat, namun jika mereka meragukan peristiwa tersebut, maka keimanan akan memudar, bahkan kemungkinan terburuk akan menjadi murtad.

Setelah Nabi menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, maka banyak dari golongan kafir Quraisy yang menganggap bahwa Nabi adalah pendusta, bahkan mereka juga menyebut Nabi telah menjadi gila. Umat Islam juga banyak yang meragukan peristiwa itu, akan tetapi Abu Bakar tampil dihadapan semua orang dan berkata dengan lantang "Engkau Benar Nabi". Artinya, Abu Bakar telah mempercayai dan membenarkan bahwa apa yang telah dialami Nabi benar-benar nyata.

Dalam sejarah Isra' Mi'raj, orang yang pertama kali membenarkan dan mempercayai bahwa Nabi telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha adalah Abu Bakar. Oleh sebab itu, kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan julukan ash-Shidiq kepada Abu Bakar.

Hijrah Nabi Muhamad ke Madinah Bersama Abu Bakar


Atas perintah Nabi, Satu demi satu kaum Muslimin berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yatsrib), sehingga umat Islam yang berada di Mekkah hanya sedikit sekali. Abu Bakar ash-Shidiq dan Ali bin Abi Thalib masih setia menemani Nabi di Mekkah. Nabi belum hijrah ke Madinah karena masih menunggu perintah dari Allah SWT.

Kamu Musyrikin Mekkah mengetahui bahwa Rasulullah SAW akan meninggalkan Mekkah dan menuju Madinah, sehingga ingin menghentikan upaya hijrah Nabi. Para pemuka Quraisy mengadakan perkumpulan ( rapat ) untuk membahas dan merencanakan tindakan apa yang akan diambil terhadap Nabi Muhammad. Setelah rapat usai, mereka memutuskan untuk membubuh Nabi.

Upaya dan rencana kaum kafir Quraisy telah diketahui oleh Rasulullah. Melalui Malaikat Jibril, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk hijrah pada malam itu juga. Malaikat Jibril berkata "Muhammad malam ini kamu jangan tidur di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanmu untuk hijrah ke Madinah".

Malam itu juga, kediaman Nabi dijaga ketat oleh kaum Quraisy agar dapat memantau dan memastikan bahwa Nabi tidak meninggalkan rumah. Keluarlah Nabi dari rumahnya pada malam hari setelah lewat dua pertiga malam, kemudian mengambil pasir dan melemparkannya kepada orang-orang Quraisy yang ingin membunuh Nabi. Dengan ijin Allah SWT, orang-orang yang mengepung rumah Nabi tertidur sejenak, sehingga beliau dapat pergi dari rumah tanpa diketahui oleh mereka.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 622 M ( 2 Rabi'ul Awwal tahun ke 13 dari kenabian. Malam itu Nabi meninggalkan rumah menuju rumahnya Abu Bakar untuk mengajaknya. Setelah Sahabat Abu Bakar menyelesaikan persiapannya, ia bersama Nabi menuju Gua Tsur untuk bersembunyi selama tiga hari kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebelum Nabi meninggalkan kediamannya, sahabat Ali bin Abi Thalib ditugaskan untuk tidur ditempat yang biasanya Nabi tidur. Oleh sebab itu, ketika kaum Quraisy mengintip ke dalam kamar, mereka menganggap bahwa Nabi masih tidur di dalam rumah, padahal yang sedang tidur di dalam rumah adalah Ali.

Setelah tiga hari berlalu, Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah. Mereka ditemani oleh dua orang sahabat sebagai petunjuk jalan, karena menggunakan jalur yang tidak biasa dilalui oleh kebanyakan orang dan untuk menghindari kejaran kafir Quraisy.

Perjalanan yang dilalui Nabi dan sahabatnya sangat berat, namun dengan keyakinan dan keikhlasan akhirnya sampai di Madinah dengan selamat. Dua sahabat istimewa yang mencintai nabi sangat berjasa, yaitu Abu Bakar yang setia menemani Nabi hijrah dan Ali yang rela mengorbankan jiwa demi baginda Nabi.

Sesampainya di Madinah, Abu Bakar ash-Shidiq dan sahabat lainnya berjuang untuk membesarkan agama Islam. Dan di Madinahlah Islam dapat berkembang dengan pesat. Selama 10 tahun Nabi Muhammad SAW berdakwah di Madinah, hingga pada suatu hari Beliau menderita sakit.

Masa Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq


Menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW mengalami sakit yang sangat parah, sehingga kesusahan untuk mengimami sholat di masjid. Abu Bakar sebagai salah satu sahabat Nabi yang istimewa diperintah Nabi untuk mengimami sholat berjama'ah. Ada yang berpendapat bahwa peristiwa ini merupakan isyarat, bahwa Nabi memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Ketika Rasulullah meninggal dunia, umat Islam berselisih pendapat. Sebagian sahabat berpandangan bahwa Nabi telah wafat, sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa Nabi tidak meninggal atau tidak percaya bahwa Nabi tercinta telah wafat.

Berita tentang meninggalnya Rasulullah SAW telah sampai kepada Abu Bakar, sehingga ia langsung menuju ke rumah Nabi untuk membuktikan berita tersebut. Beliau masuk ke dalam kamar Nabi lalu membuka penutup wajah Rasul lalu mencium keningnya. Abu Bakar membenarkan berita tersebut, kemudian keluar dari rumah untuk menemui sahabat.

Lalu Abu Bakar berkata dengan suara yang sangat lantang, "siapa saja yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal. Dan siapa saja yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwa hanya Allah yang maha hidup". Setelah itu Abu Bakar membaca QS. Ali-Imron ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Dan tidaklah Muhammad itu melainkan seorang Rasul. Telah wafat sebelum ini para Rasul. Apakah jika Rasuk wafat atau terbunuh, kalian akan berpaling dari ajaranya?

Setelah kaum muslimin mendengar ayat tersebut, mereka menjadi tenang. Kemudian beberapa kamu muslimin dari golongan Muhajirin dan Anshor berkumpul untuk bermusyawarah menentukan pemimpin umat Islam. Setelah terjadi perdebatan yang alot di antara mereka, akhirnya mereka sepakat bahwa Abu Bakar yang akan menjadi Khilafah. Umar bin 'Afan lalu membaiat Abu Bakar dan seluruh umat Islam tidak ada yang menolaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 632 M.

Peristiwa Penting Saat Abu Bakar Menjadi Khalifah


Abu Bakar memiliki sifat yang berani, tegas, dan selalu menjunjung tinggi kebenaran. Ia memiliki sifat yang adil, tidak membeda-bedakan antara yang miskin dan kaya. Meski telah diangkat menjadi khalifah, beliau tidak berubah sama sekali, kerendahan hati masih tetap melekat dalam dirinya.

Lalu apa saja peristiwa penting pada masa pemerintahan Abu Bakar saat menjadi khalifah?

Di antaranya adalah telah terjadi Perang Riddah yang disebabkan oleh kemunculan nabi palsu yang bernama Musailamah al-Kadzab, banyak kaum muslimin yang enggan membayar zakat, dan juga ada yang kembali menyembah berhala. Perang tersebut mengakibatkan Musailamah terbunuh sehuingga berhasil dimenangkan oleh Abu Bakar dan pasukannya.

Ekspedisi ke utara setelah menstabilkan keadaan internal kaum muslimin dan menguasai jazirah Arab. Dalam ekspedisi tersebut, Khalifah Abu Bakar memerintahkan beberapa jenderal Islam untuk melawan kekaisaran Bizantium dan Sassanid. Seorang jenderal pasukan Khalid bin Walid berhasil menaklukan Iraq sementara ekspedisi ke Suriah juga berhasil meraih kemenangan.

Selain peristiwa di atas, pada masa pemerintahannya, Abu Bakar ash-Shidiq juga berperan dalam melestarikan dan mengumpulkan teks-teks al-Quran. Peristiwa penting ini dikarenakan bayak para sahabat penghafal al-Quran yang gugur dalam perang Riddah, sehingga Umar mengusulan agar membuat tim untuk mengumpulkan teks-teks al-Quran.

Dalam mengumpulkan teks-teks tersebut tidaklah mudah, sehingga setelah Abu Bakar wafat teks-teks yang terkumpul di lanjutkan oleh Khalifah Umar dan selesai pada masa Khalifah Utsman. Maka terbentuklah Mushhaf Utsmani yang kita pakai sampai sekarang ini. Ketua panitia tim untuk membuat mushhaf ini adalah Zaid bin Tsabit.

Peristiwa-peristiwa penting di atas juga merupakan sebagian dari prestasi Abu Bakar saat menjadi khalifah. Jika dirangkum secara singkat, prestasi Abu Bakar adalah sebagai berikut

  1. Berhasil menumpas nabi palsu dan pengikutnya.
  2. Membereskan masalah internal dalam masyarakat Islam dan memperluas wilayah kekuasaan Islam.
  3. Mengumpulkan teks-teks al-Qur'an, walaupun tidak usai namun pada masa Khalifah Utsman berhasil diselesaikan.


Wafatnya Abu Bakar ash-Shidiq


Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq wafat pada tanggal 23 Agustus 634 M, di Madinah karena sakit yang diderita pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad, di rumah putrinya Aisyah ( istri Nabi ) dekat masjid Nabawi.

Keluarga Abu Bakar ash-Shidiq


Ayah Abu Bakar bernama Utsman bin 'Amir dikenal dengan sebutan Abu Quhafa. Beliau berasal dari Bani Tamim. Ibu Abu Bakar bernama Salma binti Shakhar dikenal dengan sebutan Ummul Khair. Pasangan Abu Bakar adalah Qutailah binti Abbdul Uzza, Zainab binti Amir, Asma binti Umays, dan Habibah binti Kharijah.

Abu Bakar dikaruniai putra yang bernama Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad. Sedangkan ptir Abu Bakar adalah Asma, Awwam, Aisyah (istri Nabi) dan Ummu Kultsum.

Kisah singkat Abu Bakar ash-Shidiq ini semoga memberi hikmah bagi kita semua. Meski menjadi khalifah ia masih tetap rendah hati dan berprilaku terpuji. Ia juga selalu tenang dalam berbagai hal, bijaksana saat mengambil keputusan dan yang paling utama adalah selalu menjunjung tinggi ajaran Islam walau bagaimanapun keadaannya.

Abu Bakar ash-Shidiq : Biografi dan Masa Kepemimpinannya

Subscribe Our Newsletter