Halaman

    Social Items

Ads 728x90

Biografi Utsman bin Affan
Biografi Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab, berkuasa antara tahun 644 sampai 656 dan merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin dengan masa pemerintahan terlama. Sama seperti pendahulunya, ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang istimewa. Julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) telah ia dapatkan karena telah menikah dengan dua putri Nabi secara berturut-turut.

Lahir dari keluarga saudagar kaya, Utsman memiliki kepribadian yang dermawan, lembut dan murah hati. Ia pernah membeli sebuah sumur seorang yahudi dengan harga yang sangat mahal disaat kemarau panjang dan membolehkan siapa saja untuk mengambil air di sumur tersebut secara gratis. Ratusan unta, kuda, dan ribuan uang dirham telah ia shodaqohkan untuk kepentingan umat disaat Perang Tabuk berkecamuk.

Setelah Umar bin Khattab wafat, Utsman menggantikannya sebagai khalifah pada usianya yang ke 64 atau 65 tahun, sehingga menjadikanya khalifah yang tertua diantara penyandang gelar Khulafaur Rasyidin. Dibandingkan dengan pemerintahan Umar, Khalifah Utsman cenderung memberikan hak otonom yang lebih longgar kepada bawahannya, sedangkan pada masa Umar kendali kebijakan berpusat kuat pada khalifah.

Masa kepemimpinan Utsman bin Affan, perluasan wilayah dapat dilakukan secara mandiri dan dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh hingga kawasan Asia Tengah karena sistem otonom dan politik yang lebih longgar. Masyarakat baik muslim dan non muslim menjadi lebih makmur dari segi ekonomi dan kebebasan politik.

Namun terlepas dari segudang prestasi yang telah ia raih, Ustman menuai kritik keras atas beberapa kebijakan, terutama kebijakan yang dipandang lebih condong kepada keluarganya untuk menempati kedudukan yang penting. Sistem pemerintahan yang lebih bebas membuat pihak oposisi melakukan demonstrasi besar-besaran sampai berujung pada pemberontakan dan kediamannya dikepung pada tahun 656. Tidak ingin terjadi perang saudara, Utsman menolak bantuan militer saudaranya, sehingga terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada akhir pengepungan.

Biografi Utsman bin Affan

Biografi Utsman bin Affan

Nama lengkap Utsman bin Afffan adalah Utsman bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdul Manaf bin Qushay al-Amawi al-Quraisy. Lahir pada tahun 574 M atau tahun ke 42 Sebelum Hijriah di Tha'if, (masih wilayah Jazirah Arab). Nasab beliau bertemu dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang ke 4 yaitu Abdul Manaf. Melihat dari nama lengkap Utsman, beliau termasuk keturunan dari golongan Bani Umayyah.

Ayah Utsman bernama Affan bin Abi Ash (seorang saudagar kaya), sedangkan ibunya bernama Arwa binti Kurayz dari keturunan golongan Abdshams. Golongan Umayyah dan Abdshams merupakan bagian dari suku Quraisy yang terpandang di Mekkah. Ditinggal wafat oleh ayahnya saat usia muda membuat beliau mendapatkan warisan yang sangat banyak. Ia pun meneruskan bisnis ayahnya dan mengalami perkembangan yang pesat sehingga membuatnya menjadi orang terkaya di antara kaum Quraisy.

Utsman bin Khattab masuk agama Islam atas jasa sahabatnya yaitu, Abu Bakar dan termasuk salah satu as-Sabiqun al-Awwalun "golongan sahabat yang pertama kali masuk Islam. Utsman bin Affan memiliki karakter yang paling jujur, dermawan dan rendah hati di antara kaum muslimin. Beliau juga termasuk salah satu sahabat istimewa Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin.

Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab: Masa Kecil Hingga Menjadi Khalifah

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah (istri Nabi) bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ubu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberikan perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun tidak biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa? Nabi Menjawab, "Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu terhadapnya?".

Saat Utsman menjadi Khalifah ia telah mencetuskan ide yang cermerlang, yaitu membuat lembaga keamanan bagi rakyat (seperti polisi), membuat gedung pengadilan yang sebelumnya dilakukan di masjid, dan membangun perekonomian di sektor pertanian. Pada masa kepemimpinan Utsman juga mengadakan perluasan wilayah di beberapa daerah kecil yang berada di sekitar perbatasan, seperti di Syria, Persia, dan Afrika Utara. Ia pun membentuk angkatan laut yang kuat pada masanya. Dan yang paling besar prestasinya adalah mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang dibentuk menjadi satu mushaf.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, ia banyak memecat gubernur wilayah yang dianggap kurang cakap dan mengganti dengan orang-orang yang lebih cakap. Akan tetapi pejabat yang telah ia pecat banyak yang sakit hati, sehingga bersengkokol untuk membunuhnya.

Biografi Utsman bin Affan

Utsman Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Ustman bin Affan masuk islam  pada usia 64 atau 65 tahun atas jasa dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah kembali dari perjalanan berdagang ke Suriah pada tahun 611, Utsman mendengar kabar tentang misi dakwah yang telah dinyatakan Muhammad SAW. Ia pun berdiskusi dengan salah satu sahabatnya, Abu Bakar tentang dakwah dan misi Nabi. Dalam diskusi tersebut Utsman mengambil keputusan untuk masuk Islam dan menyatakan imannya kepada Nabi dengan diantar oleh Abu Bakar.

Peristiwa Penting

Ketika Utsman telah masuk agama Islam, terdapat beberapa peristiwa penting yang telah ia lalui. Perjuangan menegakkan agama Islam juga telah ia lalui bersama-sama dengan Nabi dan sahabat lainnya. Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hijrah ke Habbasyiah

Utsman hijrah ke Habbasyiah pada bulan April 615, bersama dengan istrinya, Ruqayyah dan sepuluh muslim dan tiga muslimah. Lalu mengikuti beberapa muslim lainnya. Ia yang memiliki beberapa koneksi di Habbasyiah tidak kehabisan akal untuk melanjutkan profesinya sebagai pebisnis dalam berdagang. Bisnisnya berhasil dan berkembang dengan pesat.

Baca Juga: Abu Bakar ash-Shidiq: Biografi dan Masa Kepemimpinannya

Setelah empat tahun tinggal di Habbasyiah, tersebar berita di kalangan muslim, bahwa orang-orang Quraisy Mekkah telah menerima Islam. Hal ini membuat Utsman dan istrinya beserta 39 muslim lainnya untuk kembali ke Mekkah. Namun setelah sampai di Mekkah, ternyata berita tersebut adalah hoaks. Walaupun demikian, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah selama satu tahun lebih.

2. Hijrah dan Menetap Madinah

Untuk menghindari tekanan dari kaum kafir Quraisy, tak lama setelah pindah ke Mekkah, seruan untuk hijrah ke Madinah tersebar di kalangan umat Islam. Utsman dan Ruqayyah bersama-sama dengan para sahabat hijrah ke Madinah pada tahun 622. Setelah semua kaum muslimin sampai di Madinah, barulah Nabi berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan Umar. Hal ini penting untuk dilakukan agar kafir Quraisy tidak menghalangi hijrahnya kaum muslimin.

Di Madinah, kaum Muhajirin (muslim yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) disambut dengan senang hati oleh kaum Anshor (penduduk muslim Madinah yang menerima kedatangan muslim Mekkah). Sebagian besar penduduk muslim Madinah adalah petani dan kurang berminat untuk berdagang, sedangkan orang Yahudi melakukan perdagangan hanya di kota-kota besar. Utsman menyadari adanya peluang besar untuk mempromosikan bisnis dagangnya dan memutuskan untuk menjadi pedagang di Madinah dan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

3. Menjadi Saudagar Kaya dan Dermawan

Sukses di sektor perdagangan, Ustman menjadi orang terkaya di Madinah. Ia pun dipercaya menjabat sebagai wali kota di Madinah. Pada saat Perang Tabuk berkecamuk, Utsman menyedekahkan sebagian hartanya. Tidak tanggung-tanggung ia memberikan yaitu, 950 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1000 dirham untuk keperluan perang. Bahkan di suatu riwayat, Utsman ingin menyedekahkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad, namun Nabi melarangnya agar keperluan sehari-hari untuk keluarga masih ada.

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Utsman juga pernah membeli sebuah sumur dari seorang lelaki dari suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Sumur tersebut lalu di waqafkan untuk kepentingan umum, siapapun boleh mengambil air yang berada di sumur itu. Pada masa Khalifah Abu Bakar, ia juga memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu masyarakat miskin saat musim kering. Utman bin Affan adalah sosok yang baik hati dan dermawan. Walaupun ia menjadi orang terkaya di Madinah dan menjabat sebagai wali kota, Ustman tetap rendah hati dan tidak lupa daratan.

khalifah utsman bin affan

Menjadi Khalifah

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah pada tahun 644 sampai 656 Masehi setelah Khalifah Umar bin Khattab Wafat. Dikisahkan bahwa, sebelum Utsman menjadi khalifah, terdapat enam orang yang terpilih sebagai calon khalifah. Enam kandidat tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdur Rahmah bin Aur, Sa'at bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Akan tetapi empat diantaranya mengundurkan diri dan hanya tersisa Utsman dan Ali.

Pemilihan khalifah setelah Umar wafat menggunakan sistem demokrasi. Suara rakyatlah yang menentukan siapa khalifah selanjutnya. Ini pertama kali dalam sejarah, bahwa pemilihan kepala pemerintahan Islam berdasarkan suara rakyat. Terpilihlah Ustman sebagai Khalifah karena suara rakyat cenderung memilih beliau untuk melanjutkan kepemimpinan. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H, bertepatan dengan 6 November 644 Masehi.

Baca Juga: Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Mekkah dan Madinah

Utsman bin Affan menjadi khalifah dengan cara pemilihan umum atau dengan sistem demokrasi. Berbeda dengan khalifah pendahulunya yang dipilih langsung oleh khalifah sebelumyan. Abu bakar menjadi khalifah karena isyarat Nabi Muhammad SAW. Sebelum Nabi wafat, Abu Bakar pernah diperintahkan Nabi untuk menggantikannya mengimami shalat berjama'ah di masjid. Dengan isyarat tersebut maka terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Begitu pula dengan Umar, ia menjadi khalifah karena ditunjuk langsung oleh Abu Bakar menjelang beliau wafat.

Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan

Khalifah Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah ketikan berusia 70 tahun. Ini membuat beliau termasuk ke dalam khalifah yang tertua di antara Kulafaur Rasyidin. Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, banyak sekali prestasi yang telah ia raih atas kebijakan yang ia tetapkan. Berikut beberapa prestasi gemilang yang ia dapatkan.

1. Meningkatkan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

Dengan bekal pengalaman dan kecerdasan di bidang bisnis, Utsman telah berhasil meningkatkan kesejahteraan baik penduduk Mekkah, Madinah, dan negeri taklukannya. Utsman secara jujur menyatakan bahwa ia memiliki hak untuk memanfaatkan dana publik sesuai dengan penilaian terbaiknya, dan tidak ada yang mengkritiknya. Beliau juga mengijinkan untuk menarik pinjamandari perbendaharaan publik.

Utsman juga telah melarang jual beli tanah pertanian di wilayah taklukanya, mengingat bahwa perdagangan tidak bisa berkembang. Hal ini karena mengikuti kebijakan Khalifah Umar pendahulunya dan lebih banyak penaklukan, sehingga pendapatan dari tanah meningkat secara signifikan. Reformasi ekonomi yang telah Utsman tetapkan telah mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat selama masa pemerintahannya.

Pada masa Umar, sangat ketat dalam menggunakan uang dari perbendaharaan publik. Ia tidak mengambil tunjangan atau hadiah apapun dari uang negara termasuk pejabat lainnya juga tidak mendapatkannya. Akan tetapi pada pemerintahan Utsman, menjadi agak longgar. Ia memutuskan bahwa para pejabat boleh menerima tunjangan dari negara, namun kecil jumlahnya. Akan tetapi Utsman tidak mau menerimanya, dan hanya pejabat lain yang menerima tunjangan.

2. Perluasan Wilayah

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, ekspansi perluasan wilayah mencapai Pakistan. Afika Utara, Azerbaijan, Armenia, Iskandariah, Sabur, Andalusia/Spanyol, Persia, Thaliqon, Fariab, Jauzjan, Turki, dan Thakhstan. Dua negeri adidaya pada masa itu juga berhasil ditaklulan yaitu Persia dan Romawi.

3. Muhshaf Utsmani

Penulisan Mushaf Utsmani dipicu adanya perselisihan ragam qira'at yang terjadi di beberapa wilayah. Kemudian Khalifah Utsman membentuk panitia untuk menulis sebuah mushaf yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sedangkan anggotanya adalah Abdullah bin Zubair dan Abidrrahman bin Haris. Tugas yang harus dilakukan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran atau shuhuf yang masih terpisah lalu dibukukan. Mushaf Utsmani dibakukan pada tahun 25 H (646 M).

Pemberontakan

Peristiwa ini terjadi karena ketidak puasaan atas kebijakan Utsman. Mereka yang yang ingin menggulingkan kepemeritahan beralasan bahwa banyak nipotisme dan gaya hidup yang boros pada masa pemerintahan Utsman. Beberapa sahabat terkemuka bersama mereka yang secara tebuka menentang dan meminta Utsman untuk mundur dari jabatannya. Thalhah dan Zubair ibn al-Awam termasuk di antara mereka yang memimpin para pemberontak.

Dari Mesir, sebuah utusan sekitar 1.000 orang dikirim ke Madinah dengan instruksi menggulingkan pemerintahan dan membunuh Utsman. Utusan serupa juga datang dari Kuffah dan Bashrah ke Madinah dengan tujuan yang sama. Kontingen dari Mesir menunggu Ali bin Abi Thalib untuk menawari menjadi Khalifah sebagai pengganti Utsman, Namun ia menolaknya.

Di Madinah, Utsman mendapat dukungan aktif dari Bani Umayyah, dan beberapa orang lain yang setia padanya. Namun, pemberontakan di berbagai wilayah telah tertata dan terencana dengan rapi. Sebenarnya Utsman telah ditawari oleh beberapa pejabat setianya untuk memberi bantuan pasukan kepadanya, namun ia menolaknya dengan alasan agar tidak terjadi perang saudara.

Alasan pemberontakan atas pemerintahan Khalifah Utsman adalah Utsman tidak seperti pendahulunya. Pada masa pemerintahan Umar mempertahankan disiplin dengan tangan yang keras, sementara pada masa pemerintahan Utsman, kurang teliti terhadap kekuasaan yang ia pegang dan lebih fokus pada kemakmuran ekonomi.

Pemberontakan terhadap Khalifah Utsman berawal dari banyak pejabat publik yang diangkat dari anggota keluarganya sendiri untuk menjadi gubernur, dengan alasan bahwa dengan melakukan ini dia dapat memberikan pengaruh lebih terhadap pemerintahannya.

Pengepungan dan Berakhir Pembunuhan

Pada awalnya pengepungan kediaman Khalifah Utsman tidak parah, tetapi hari demi hari para pemberontak meningkatkan tekanan terhadap Utsman. Para pemberontak memahami bahwa setelah ibadah haji usai, umat Islam di berbagai belahan dunia yang berkumpul di Mekkah akan mengunjungi Madinah dan membebaskan Utsman. Oleh sebab itu, para pemberontak memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap Utsman sebelum para peziarah Mekkah menuju Madinah.

Dalam masa pengepungan, Utsman ditawari oleh pendukungnya agar dapat mengirim pasukan ke Madinah untuk melindunginya dari pemberontak. Utsman menolak tawaran tersebut, karena Utsman tidak ingin terjadi perang saudara.

Pada tanggal 17 Juni 656, kediaman Khalifah Utsman dijaga ketat oleh para pendukungnya. Namun secara diam-diam beberapa pemberontak memanjat dinding pagar menyusup kedalam rumah. Mereka masuk ke dalam kamar Utsman kemudian membunuhnya. Sempat terjadi pertikaian antara pemberontak dengan istri dan beberapa budak yang berada di dalam rumah. Namun Allah SWT berkehendak lain, Utsman pada hari itu dapat dibunuh oleh para pemberontak.

Wafat

Khalifah Utsman bin Affan meninggal pada tanggal 17 Juni 656 di Jannat al-Baqi. Pemakaman dilaksanakan pada malam hari, karena untuk menghindari para pemberontak. Doa pemakaman dipimpin oleh Jabir bin Muta'am secara sir atau tanpa suara.

Biografi Singkat Utsman bin Affan: Sebelum Masuk Islam Hingga Wafat

Biografi Utsman bin Affan
Biografi Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab, berkuasa antara tahun 644 sampai 656 dan merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin dengan masa pemerintahan terlama. Sama seperti pendahulunya, ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang istimewa. Julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) telah ia dapatkan karena telah menikah dengan dua putri Nabi secara berturut-turut.

Lahir dari keluarga saudagar kaya, Utsman memiliki kepribadian yang dermawan, lembut dan murah hati. Ia pernah membeli sebuah sumur seorang yahudi dengan harga yang sangat mahal disaat kemarau panjang dan membolehkan siapa saja untuk mengambil air di sumur tersebut secara gratis. Ratusan unta, kuda, dan ribuan uang dirham telah ia shodaqohkan untuk kepentingan umat disaat Perang Tabuk berkecamuk.

Setelah Umar bin Khattab wafat, Utsman menggantikannya sebagai khalifah pada usianya yang ke 64 atau 65 tahun, sehingga menjadikanya khalifah yang tertua diantara penyandang gelar Khulafaur Rasyidin. Dibandingkan dengan pemerintahan Umar, Khalifah Utsman cenderung memberikan hak otonom yang lebih longgar kepada bawahannya, sedangkan pada masa Umar kendali kebijakan berpusat kuat pada khalifah.

Masa kepemimpinan Utsman bin Affan, perluasan wilayah dapat dilakukan secara mandiri dan dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh hingga kawasan Asia Tengah karena sistem otonom dan politik yang lebih longgar. Masyarakat baik muslim dan non muslim menjadi lebih makmur dari segi ekonomi dan kebebasan politik.

Namun terlepas dari segudang prestasi yang telah ia raih, Ustman menuai kritik keras atas beberapa kebijakan, terutama kebijakan yang dipandang lebih condong kepada keluarganya untuk menempati kedudukan yang penting. Sistem pemerintahan yang lebih bebas membuat pihak oposisi melakukan demonstrasi besar-besaran sampai berujung pada pemberontakan dan kediamannya dikepung pada tahun 656. Tidak ingin terjadi perang saudara, Utsman menolak bantuan militer saudaranya, sehingga terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada akhir pengepungan.

Biografi Utsman bin Affan

Biografi Utsman bin Affan

Nama lengkap Utsman bin Afffan adalah Utsman bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdul Manaf bin Qushay al-Amawi al-Quraisy. Lahir pada tahun 574 M atau tahun ke 42 Sebelum Hijriah di Tha'if, (masih wilayah Jazirah Arab). Nasab beliau bertemu dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang ke 4 yaitu Abdul Manaf. Melihat dari nama lengkap Utsman, beliau termasuk keturunan dari golongan Bani Umayyah.

Ayah Utsman bernama Affan bin Abi Ash (seorang saudagar kaya), sedangkan ibunya bernama Arwa binti Kurayz dari keturunan golongan Abdshams. Golongan Umayyah dan Abdshams merupakan bagian dari suku Quraisy yang terpandang di Mekkah. Ditinggal wafat oleh ayahnya saat usia muda membuat beliau mendapatkan warisan yang sangat banyak. Ia pun meneruskan bisnis ayahnya dan mengalami perkembangan yang pesat sehingga membuatnya menjadi orang terkaya di antara kaum Quraisy.

Utsman bin Khattab masuk agama Islam atas jasa sahabatnya yaitu, Abu Bakar dan termasuk salah satu as-Sabiqun al-Awwalun "golongan sahabat yang pertama kali masuk Islam. Utsman bin Affan memiliki karakter yang paling jujur, dermawan dan rendah hati di antara kaum muslimin. Beliau juga termasuk salah satu sahabat istimewa Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin.

Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab: Masa Kecil Hingga Menjadi Khalifah

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah (istri Nabi) bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ubu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberikan perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun tidak biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa? Nabi Menjawab, "Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu terhadapnya?".

Saat Utsman menjadi Khalifah ia telah mencetuskan ide yang cermerlang, yaitu membuat lembaga keamanan bagi rakyat (seperti polisi), membuat gedung pengadilan yang sebelumnya dilakukan di masjid, dan membangun perekonomian di sektor pertanian. Pada masa kepemimpinan Utsman juga mengadakan perluasan wilayah di beberapa daerah kecil yang berada di sekitar perbatasan, seperti di Syria, Persia, dan Afrika Utara. Ia pun membentuk angkatan laut yang kuat pada masanya. Dan yang paling besar prestasinya adalah mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang dibentuk menjadi satu mushaf.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, ia banyak memecat gubernur wilayah yang dianggap kurang cakap dan mengganti dengan orang-orang yang lebih cakap. Akan tetapi pejabat yang telah ia pecat banyak yang sakit hati, sehingga bersengkokol untuk membunuhnya.

Biografi Utsman bin Affan

Utsman Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Ustman bin Affan masuk islam  pada usia 64 atau 65 tahun atas jasa dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah kembali dari perjalanan berdagang ke Suriah pada tahun 611, Utsman mendengar kabar tentang misi dakwah yang telah dinyatakan Muhammad SAW. Ia pun berdiskusi dengan salah satu sahabatnya, Abu Bakar tentang dakwah dan misi Nabi. Dalam diskusi tersebut Utsman mengambil keputusan untuk masuk Islam dan menyatakan imannya kepada Nabi dengan diantar oleh Abu Bakar.

Peristiwa Penting

Ketika Utsman telah masuk agama Islam, terdapat beberapa peristiwa penting yang telah ia lalui. Perjuangan menegakkan agama Islam juga telah ia lalui bersama-sama dengan Nabi dan sahabat lainnya. Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hijrah ke Habbasyiah

Utsman hijrah ke Habbasyiah pada bulan April 615, bersama dengan istrinya, Ruqayyah dan sepuluh muslim dan tiga muslimah. Lalu mengikuti beberapa muslim lainnya. Ia yang memiliki beberapa koneksi di Habbasyiah tidak kehabisan akal untuk melanjutkan profesinya sebagai pebisnis dalam berdagang. Bisnisnya berhasil dan berkembang dengan pesat.

Baca Juga: Abu Bakar ash-Shidiq: Biografi dan Masa Kepemimpinannya

Setelah empat tahun tinggal di Habbasyiah, tersebar berita di kalangan muslim, bahwa orang-orang Quraisy Mekkah telah menerima Islam. Hal ini membuat Utsman dan istrinya beserta 39 muslim lainnya untuk kembali ke Mekkah. Namun setelah sampai di Mekkah, ternyata berita tersebut adalah hoaks. Walaupun demikian, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah selama satu tahun lebih.

2. Hijrah dan Menetap Madinah

Untuk menghindari tekanan dari kaum kafir Quraisy, tak lama setelah pindah ke Mekkah, seruan untuk hijrah ke Madinah tersebar di kalangan umat Islam. Utsman dan Ruqayyah bersama-sama dengan para sahabat hijrah ke Madinah pada tahun 622. Setelah semua kaum muslimin sampai di Madinah, barulah Nabi berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan Umar. Hal ini penting untuk dilakukan agar kafir Quraisy tidak menghalangi hijrahnya kaum muslimin.

Di Madinah, kaum Muhajirin (muslim yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) disambut dengan senang hati oleh kaum Anshor (penduduk muslim Madinah yang menerima kedatangan muslim Mekkah). Sebagian besar penduduk muslim Madinah adalah petani dan kurang berminat untuk berdagang, sedangkan orang Yahudi melakukan perdagangan hanya di kota-kota besar. Utsman menyadari adanya peluang besar untuk mempromosikan bisnis dagangnya dan memutuskan untuk menjadi pedagang di Madinah dan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

3. Menjadi Saudagar Kaya dan Dermawan

Sukses di sektor perdagangan, Ustman menjadi orang terkaya di Madinah. Ia pun dipercaya menjabat sebagai wali kota di Madinah. Pada saat Perang Tabuk berkecamuk, Utsman menyedekahkan sebagian hartanya. Tidak tanggung-tanggung ia memberikan yaitu, 950 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1000 dirham untuk keperluan perang. Bahkan di suatu riwayat, Utsman ingin menyedekahkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad, namun Nabi melarangnya agar keperluan sehari-hari untuk keluarga masih ada.

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Utsman juga pernah membeli sebuah sumur dari seorang lelaki dari suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Sumur tersebut lalu di waqafkan untuk kepentingan umum, siapapun boleh mengambil air yang berada di sumur itu. Pada masa Khalifah Abu Bakar, ia juga memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu masyarakat miskin saat musim kering. Utman bin Affan adalah sosok yang baik hati dan dermawan. Walaupun ia menjadi orang terkaya di Madinah dan menjabat sebagai wali kota, Ustman tetap rendah hati dan tidak lupa daratan.

khalifah utsman bin affan

Menjadi Khalifah

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah pada tahun 644 sampai 656 Masehi setelah Khalifah Umar bin Khattab Wafat. Dikisahkan bahwa, sebelum Utsman menjadi khalifah, terdapat enam orang yang terpilih sebagai calon khalifah. Enam kandidat tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdur Rahmah bin Aur, Sa'at bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Akan tetapi empat diantaranya mengundurkan diri dan hanya tersisa Utsman dan Ali.

Pemilihan khalifah setelah Umar wafat menggunakan sistem demokrasi. Suara rakyatlah yang menentukan siapa khalifah selanjutnya. Ini pertama kali dalam sejarah, bahwa pemilihan kepala pemerintahan Islam berdasarkan suara rakyat. Terpilihlah Ustman sebagai Khalifah karena suara rakyat cenderung memilih beliau untuk melanjutkan kepemimpinan. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H, bertepatan dengan 6 November 644 Masehi.

Baca Juga: Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Mekkah dan Madinah

Utsman bin Affan menjadi khalifah dengan cara pemilihan umum atau dengan sistem demokrasi. Berbeda dengan khalifah pendahulunya yang dipilih langsung oleh khalifah sebelumyan. Abu bakar menjadi khalifah karena isyarat Nabi Muhammad SAW. Sebelum Nabi wafat, Abu Bakar pernah diperintahkan Nabi untuk menggantikannya mengimami shalat berjama'ah di masjid. Dengan isyarat tersebut maka terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Begitu pula dengan Umar, ia menjadi khalifah karena ditunjuk langsung oleh Abu Bakar menjelang beliau wafat.

Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan

Khalifah Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah ketikan berusia 70 tahun. Ini membuat beliau termasuk ke dalam khalifah yang tertua di antara Kulafaur Rasyidin. Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, banyak sekali prestasi yang telah ia raih atas kebijakan yang ia tetapkan. Berikut beberapa prestasi gemilang yang ia dapatkan.

1. Meningkatkan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

Dengan bekal pengalaman dan kecerdasan di bidang bisnis, Utsman telah berhasil meningkatkan kesejahteraan baik penduduk Mekkah, Madinah, dan negeri taklukannya. Utsman secara jujur menyatakan bahwa ia memiliki hak untuk memanfaatkan dana publik sesuai dengan penilaian terbaiknya, dan tidak ada yang mengkritiknya. Beliau juga mengijinkan untuk menarik pinjamandari perbendaharaan publik.

Utsman juga telah melarang jual beli tanah pertanian di wilayah taklukanya, mengingat bahwa perdagangan tidak bisa berkembang. Hal ini karena mengikuti kebijakan Khalifah Umar pendahulunya dan lebih banyak penaklukan, sehingga pendapatan dari tanah meningkat secara signifikan. Reformasi ekonomi yang telah Utsman tetapkan telah mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat selama masa pemerintahannya.

Pada masa Umar, sangat ketat dalam menggunakan uang dari perbendaharaan publik. Ia tidak mengambil tunjangan atau hadiah apapun dari uang negara termasuk pejabat lainnya juga tidak mendapatkannya. Akan tetapi pada pemerintahan Utsman, menjadi agak longgar. Ia memutuskan bahwa para pejabat boleh menerima tunjangan dari negara, namun kecil jumlahnya. Akan tetapi Utsman tidak mau menerimanya, dan hanya pejabat lain yang menerima tunjangan.

2. Perluasan Wilayah

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, ekspansi perluasan wilayah mencapai Pakistan. Afika Utara, Azerbaijan, Armenia, Iskandariah, Sabur, Andalusia/Spanyol, Persia, Thaliqon, Fariab, Jauzjan, Turki, dan Thakhstan. Dua negeri adidaya pada masa itu juga berhasil ditaklulan yaitu Persia dan Romawi.

3. Muhshaf Utsmani

Penulisan Mushaf Utsmani dipicu adanya perselisihan ragam qira'at yang terjadi di beberapa wilayah. Kemudian Khalifah Utsman membentuk panitia untuk menulis sebuah mushaf yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sedangkan anggotanya adalah Abdullah bin Zubair dan Abidrrahman bin Haris. Tugas yang harus dilakukan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran atau shuhuf yang masih terpisah lalu dibukukan. Mushaf Utsmani dibakukan pada tahun 25 H (646 M).

Pemberontakan

Peristiwa ini terjadi karena ketidak puasaan atas kebijakan Utsman. Mereka yang yang ingin menggulingkan kepemeritahan beralasan bahwa banyak nipotisme dan gaya hidup yang boros pada masa pemerintahan Utsman. Beberapa sahabat terkemuka bersama mereka yang secara tebuka menentang dan meminta Utsman untuk mundur dari jabatannya. Thalhah dan Zubair ibn al-Awam termasuk di antara mereka yang memimpin para pemberontak.

Dari Mesir, sebuah utusan sekitar 1.000 orang dikirim ke Madinah dengan instruksi menggulingkan pemerintahan dan membunuh Utsman. Utusan serupa juga datang dari Kuffah dan Bashrah ke Madinah dengan tujuan yang sama. Kontingen dari Mesir menunggu Ali bin Abi Thalib untuk menawari menjadi Khalifah sebagai pengganti Utsman, Namun ia menolaknya.

Di Madinah, Utsman mendapat dukungan aktif dari Bani Umayyah, dan beberapa orang lain yang setia padanya. Namun, pemberontakan di berbagai wilayah telah tertata dan terencana dengan rapi. Sebenarnya Utsman telah ditawari oleh beberapa pejabat setianya untuk memberi bantuan pasukan kepadanya, namun ia menolaknya dengan alasan agar tidak terjadi perang saudara.

Alasan pemberontakan atas pemerintahan Khalifah Utsman adalah Utsman tidak seperti pendahulunya. Pada masa pemerintahan Umar mempertahankan disiplin dengan tangan yang keras, sementara pada masa pemerintahan Utsman, kurang teliti terhadap kekuasaan yang ia pegang dan lebih fokus pada kemakmuran ekonomi.

Pemberontakan terhadap Khalifah Utsman berawal dari banyak pejabat publik yang diangkat dari anggota keluarganya sendiri untuk menjadi gubernur, dengan alasan bahwa dengan melakukan ini dia dapat memberikan pengaruh lebih terhadap pemerintahannya.

Pengepungan dan Berakhir Pembunuhan

Pada awalnya pengepungan kediaman Khalifah Utsman tidak parah, tetapi hari demi hari para pemberontak meningkatkan tekanan terhadap Utsman. Para pemberontak memahami bahwa setelah ibadah haji usai, umat Islam di berbagai belahan dunia yang berkumpul di Mekkah akan mengunjungi Madinah dan membebaskan Utsman. Oleh sebab itu, para pemberontak memutuskan untuk mengambil tindakan terhadap Utsman sebelum para peziarah Mekkah menuju Madinah.

Dalam masa pengepungan, Utsman ditawari oleh pendukungnya agar dapat mengirim pasukan ke Madinah untuk melindunginya dari pemberontak. Utsman menolak tawaran tersebut, karena Utsman tidak ingin terjadi perang saudara.

Pada tanggal 17 Juni 656, kediaman Khalifah Utsman dijaga ketat oleh para pendukungnya. Namun secara diam-diam beberapa pemberontak memanjat dinding pagar menyusup kedalam rumah. Mereka masuk ke dalam kamar Utsman kemudian membunuhnya. Sempat terjadi pertikaian antara pemberontak dengan istri dan beberapa budak yang berada di dalam rumah. Namun Allah SWT berkehendak lain, Utsman pada hari itu dapat dibunuh oleh para pemberontak.

Wafat

Khalifah Utsman bin Affan meninggal pada tanggal 17 Juni 656 di Jannat al-Baqi. Pemakaman dilaksanakan pada malam hari, karena untuk menghindari para pemberontak. Doa pemakaman dipimpin oleh Jabir bin Muta'am secara sir atau tanpa suara.

Subscribe Our Newsletter