Halaman

    Social Items

Ads 728x90

Pengertian Sejarah

Pengertian sejarah secara umum adalah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kejadian masa lalu yang penuh dengan peristiwa penting harus dikenang, bila perlu diabadikan dalam sebuah dokumen, baik dalam bentuk gambar, tulisan, atau video, karena semua itu akan menjadi bukti bahwa sebuah kejadian atau peristiwa benar-benar terjadi.

Dalam penelitian sejarah sangat memerlukan sumber sejarah, karena dapat dijadikan sebagai rujukan, dasar, dan bukti bahwa suatu peristiwa masa lampau yang diceritakan memang benar-benar terjadi dan bukan hoaks. Seperti naskah proklamasi yang berada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat, adalah bukti bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia memang benar-benar telah terjadi.

Ahli sejarah menyebutkan bahwa definisi sejarah dapat diartikan sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas secara sistematis tentang seluruh perubahan, perkembangan, dan dinamika kehidupan masyarakat yang telah terjadi pada masa lampau. Pembahasan dan kajian sejarah harus secara sistematis dan kaidah-kaidah metode penelitian sejarah yang telah berlaku.

Pengertian Sejarah

Pengertian Sejarah Secara Umum
Pengertian Sejarah Secara Umum
Pengertian sejarah secara terminologi adalah suatu peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu berdasarkan sumber atau peninggalan-peninggalan masa lampau. Suatu sejarah dapat dikatakan benar (bukan hoaks) karena ada bukti yang menunjukkan kebenarannya.

Banyak sekali sejarah yang masih menjadi misteri dan kontroversi, dikarenakan belum adanya bukti yang cukup kuat untuk membenarkannya. Berbagai teori dan argumentasi yang dipaparkan oleh para pakar sejarawan kadang, bahkan sering berbeda-beda. Walaupun para ahli sejarawan mengemukakan sebuah teori dan argumen berdasarkan masing-masing sumber sejarah, namun jika suatu sejarah masih sepenggal-sepenggal informasi yang didapat dari peninggalan masa lalu, maka bisa saja benar dan bisa saja salah.

Dengan demikian, pengertian sejarah adalah kejadian atau peristiwa masa lalu yang dikaji secara sistematis berdasarkan bukti sejarah (peninggalan-peninggalan masa lampau seperti candi atau prasasti).

Pengertian Sejarah Secara Bahasa

Pengertian Sejarah Secara Bahasa
Ilustrasi Pengertian Sejarah Secara Bahasa

Secara bahasa, kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun berarti "pohon kayu". Mengapa sejarah di ibaratkan seperti pohon kayu?, karena pohon kayu berasal dari benih, kemudian akan tumbuh sampai memiliki cabang-cabang yang banyak dan saling berhubungan. Begitu pula dengan sejarah, ia akan berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu dan memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Misalnya, seseorang yang baru lahir di ibaratkan benih dari sejarah. Orang yang lahir lama-lama akan tumbuh menjadi besar dan dewasa, dengan berjalannya waktu, orang tersebut akan membuat sejarahnya dengan sendirinya. Orang-orang yang berpengaruh atau orang yang berprestasi biasanya akan membawa perubahan besar. Oleh karenanya, ketika seseorang mengalami hal yang luar biasa dan berpengaruh di masyarakat akan membawa perubahan yang akan menjadi sejarah.

Jadi, sejarah secara terminologi adalah arti kata sejarah yang berasal dari bahasa Arab (syajaratun) adalah pohon kayu. Untuk mendalami dan lebih memahami arti kata sejarah kami merekomendasikan untuk membaca Pengertian dan Asal-Usul Kata Sejarah.

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli
Para Ahli Sejarawan
Orang-orang yang telah mendalami ilmu sejarah serta mengembangkan dan menemukan teori-teori baru akan disebut dengan Pakar Sejarawan. Di samping itu, ada juga yang menyebutnya Ahli Sejarah. Banyaknya Para Pakar Sejarah membuat ilmu sejarah menjadi berkembang, sehingga ilmu di bidang sejarah tidak akan habisnya.

Para Ahli Sejarah, telah memberikan pendapat yang berbeda-beda mengenai pengertian sejarah. Kendati demikian, inti dari masing-masing pengertian sama saja, hanya bahasa mereka yang membedakannya. Berikut ini beberapa pendapat pengertian sejarah menurut para ahli:

1. Ibnu Khaldun
Pengertian sejarah menurut Ibnu Khaldun adalah sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.

2. J. V. Bryce

Definisi sejarah menurut J. V. Bryce adalah sebuah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.

3. Leopold Von Ranke

Menurut Leopald Von Ranke, definisi dan pengertian sejarah sangat sederhana yaitu hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi.

4. Aristoteles

Pengertian sejarah menurut Aristoteles merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal tersusun dalam bentuk kronologi. Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, record-record atau bukti-bukti yang konkrit.

5. J. Bank

Sejarah adalah semua kejadian/peristiwa masa lampau. Sejarah dapat membantu para siswa untuk memahami perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Semua kejadian yang dimaksud dalam pendapat tersebut adalah kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia. Dalam kejadian atau peristiwa tersebut terdapat bagaimana manusia berperilaku.

6. Thomas Carlyle

Pengertian sejarah menurut Thomas Carlyle merupakan sebuah peristiwa pada masa lampau yang mempelajari tentang biografi orang terkenal. Mereka merupakan seorang penyelamat pada zamannya. Mereka juga merupakan orang yang besar yang dicatat sebagai peletak dasar sejarah tersebut.

7. R. G. Collingwood

Pengertian sejarah menurut R. G. Collingwood adalah sebuah bentuk penyelidikan tentang hal-hal yang telah dilakukan oleh manusia pada masa lampau.

8. Herodotus

Pengertian sejarah menurut Herodotus yang dijuluki sebagai The Father of History adalah sejarah dapat diartikan sebagai satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.

9. Wiliam H. Frederick

Menurut William H. Frederick, kata sejarah berasal dari bahasa Arab ‘syajaratun’ yang berarti pohon atau keturunan atau asal-usul. Dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘sejarah’. Menurut kata syajarah atau sejarah berarti gambaran silsilah atau keturunan.

10 Edward Hallet Carr

Sejarah menurut Edward Hallet Carr adalah dialog yang tak pernah selesai antara masa sekarang dan masa lampau, suatu proses interaksi yang berkesinambungan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya.

11. Karl Popper

Ilmu sejarah menurut Karl Popper adalah ilmu pengetahuan yang tertarik pada peristiwa-peristiwa spesifik dan penjelasannya. Sejarah sering dideskripsikan sebagai peristiwa-peristiwa masa lalu sebagaimana peristiwa itu benar-benar terjadi secara aktual.

12. Rober V. Daniels

Menurut Robert V. Daniels, pengertian sejarah adalah kenangan dari tumpuan masa silam. Sejarah dimaksud dalam definisi sejarah manusia sebagai pelaku sejarah. Kemampuan yang dimiliki oleh manusia adalah kemampuan untuk menangkap kejadian-kejadian yang ada di sekelilingnya. Hasil tangkapan tersebut menjadi ingatan atau memori dalam dirinya yang akan menjadi sumber sejarah.

13. John Tosh

Definisi sejarah menurut John Tosh adalah memori kolektif, sumber pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial orang-orang dan prospek orang-orang tersebut di masa yang akan datang.

14. Beverley Southgate

Arti sejarah menurut Beverley Southgate adalah suatu studi tentang masa lampau dimana suatu studi yang hasilnya secara ideal merupakan suatu penyajian masa lalu sebagaimana adanya. Hasil pembelajaran ini dapat juga bermanfaat sebagai pelajaran moral bagi manusia.

15. Ismaun

Arti sejarah menurut Ismaun adalah suatu ilmu pengetahuan tentang kisah mengenai peristiwa-peristiwa yang benar-benar telah terjadi atau berlangsung dalam segala aspeknya di masa lampau. Sejarah merupakan catatan atau rekaman pilihan yang disusun secara teliti tentang segala aspek kehidupan umat manusia di masa lampau.

16. W. J. S. Poerwadarminta

Pengertian sejarah menurut W. J. S. Poerwadarminta dibahas dalam buku berjudul Kamus Umum Bahasa Indonesia, dimana arti sejarah dapat diartikan sebagai :

  • Silsilah atau asal-usul.
  • Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
  • Ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar telah terjadi.

17. Drs. Sidi Gazalba

Definisi sejarah menurut Drs. Sidi Gazalba adalah masa lalu manusia dan seputarnya yang disusun secara ilmiah dan lengkap meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan pemahaman tentang apa yang berlaku.

18. Moh. Hatta

Pengertian sejarah menurut Moh. Hatta adalah dalam wujudnya tentang masa lampau. Sejarah bukan sekadar melahirkan kriteria dari kejadian di masa lalu, tetapi pemahaman masa lampau yang mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematik pelajaran bagi manusia berikutnya.

19. Moh. Ali

Pengertian sejarah menurut Moh. Ali adalah sejarah merupakan keseluruhan perubahan dan kejadian-kejadian yang benar-benar telah terjadi. Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perubahan-perubahan yang benar-benar terjadi di masa lampau.

20. Muhammad Yamin

Pengertian sejarah menurut Muhammad Yamin adalah ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

21. Kuntowijoyo

Pengertian sejarah menurut Kuntowijoyo adalah hal-hal yang menyuguhkan fakta secara diakronis, ideografis, unik, dan empiris.

  • Sejarah bersifat diakronis karena berhubungan dengan waktu.
  • Sejarah bersifat ideografis karena sejarah menggambarkan dan menceritakan sesuatu.
  • Sejarah bersifat unik karena berisi hasil penelitian tentang hal unik.
  • Sejarah bersifat empiris artinya sejarah bersandar pada pengalaman manusia yang sungguh-sungguh.

22. Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, pengertian sejarah adalah peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia sebagai makhluk bermasyarakat yang terjadi di masa lampau.

23. Rochiati Wiriatmaja

Pengertian sejarah menurut Rochiati Wiriatmadja bahwa sejarah adalah disiplin ilmu yang menjanjikan etika, moral, kebijaksanaan, nilai-nilai spritual dan kultural karena kajiannya yang bersifat memberikan pedoman kepada keseimbangan hidup, harmoni dalam nilai-nilai, keteladanan dalam keberhasilan dan kegagalan dan cerminan pengalaman kolektif yang menjadi kompas untuk kehidupan masa depan.

24. Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, pengertian sejarah adalah peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia sebagai makhluk bermasyarakat yang terjadi di masa lampau.

25. Taufik Abdullah

Pengertian sejarah menurut Taufik Abdullah adalah tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu di masa lampau yang dilakukan di tempat tertentu.

26. Sartono Kartodirdjo

Pengertian sejarah menurut Sartono Kartodirdjo merupakan bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lalu, dan untuk mengungkapnya dapat melalui aktualisasi dan penetasan pengalaman masa lalu. Menceritakan suatu kejadian adalah cara membuat hadirnya kembali peristiwa tersebut dengan cara pengungkapan verbal.

Kesimpulan


Arti kata sejarah adalah syajaratun yang berarti pohon kayu. Pengertian sejarah secara umum adalah kejadian atau peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau berdasarkan bukti-bukti sejarah. Sedangkan pengertian sejarah menurut para ahli sendiri terdapat perbedaan, bahkan sepertinya mereka berbeda-beda dalam mendefinisikan sejarah, namun secara umum tidak lepas dari masa lampau yang terjadi pada masyarakat.

Artikel Terkait:
Sejarah Sebagai Peristiwa, Seni, Ilmu, dan Kisah Beserta Contohnya
Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah dalam Penelitian Sejarah
4 Ruang Lingkup Sejarah LENGKAP Ciri-Ciri dan Contohnya

Pengertian Sejarah: Secara Umum, Bahasa, dan Menurut Para Ahli

Teori Gujarat adalah salah satu teori masuknya agama Islam ke Indonesia yang mengatakan bahwa "Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang Gujarat dari India". Para sarjana, khususnya dari Belanda (Ahli Sejarawan Belanda) banyak yang mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara berasal dari Gujarat sekitar abad ke 13 M.

Pendukung Teori Gujarat adalah Snouck Hurgronje dan J. Pijnapel. Kedua Sejarawan tersebut Pakar dan ahli tentang sejarah Timur Hindia. Teori ini juga didukung oleh Ilmuan dari Eropa, Amerika, dan lainnya. sehingga dalam bu­ku-buku sejarah yang ditulis oleh para orientalis, hampir sepakat mengatakan bahwa Islam baru tiba di Indonesia abad ke-13.

Bukti-bukti Teori Gujarat antara lain, ditemukan batu nisan Sultan Samudra Pasai Malik As-Saleh yang bercorak khas Islam Gijarat India tahun 1927, catatan Marcopolo tahun 1992 yang mengatakan "di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk agama Islam dan banyak pedagang Islam dari India", dan hubungan dagang Indonesia dan India sudah terjalin lama melalui jalur Indonesia - Cambay - Timur Tengah - Eropa.

Kekebihan dan Kekuarangan Teori Gujarat

Adapun kelebihan dan kekurangan dari Teori  Gujarat adalah sebagai berikut;

1. Kelebihan Teori Gujarat

Keunggulan Teori Gujarat tentang masuknya Islam di Indonesia yang berkembang adalah sebagai berikut.
  • Banyak Sejarawan yang mendukung teori Gujatat di antaranya, Bernard H.M Vlekke, J.P Moquetta, W.F Stutterheim, beberapa Sarjana Belanda dan beberapa Ilmuan dari Eropa dan Amerika.
  • Karena didukung oleh ilmuan dari Eropa dan Amerika, sehingga buku-buku yang ditulis para orientalis hampir sepakat bahwa Islam baru tiba sekitar abad ke 13 M.
 
2. Kekurangan Teori Gujarat
  • Kerajaan Samudra Pasai menganut mahzab Syafi'i, sedangkan India Gujarat adalah penganut mahzab Hanafi.
  • Ketika islamisasi di Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan sebuah Kerajaan Hindu, baru satu tahun kemudian Gujarat ditaklukan oleh kekuasaan Muslim.
  • Tidak dijelaskan antara masuk dan berkembangnya Islam.

Kelebihan dan kelemahan Teori Gujarat termsuk teori yang dianggap kuat, namun masih perlu adanya penelitian lebih lanjut, sehingga dapat menutupi kelemahan-kelemahan yang telah disebutkan.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Gujarat

Sejarah sebagai kisah
Sejarah Sebagai Kisah

Belajar sejarah tidak dapat terlepas dari empat ruang lingkup sejarah. Salah satu ruang dan lingkup sejarah adalah sejarah sebagai kisah. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah “kisah”. Kisah biasanya berupa penuturan atau cerita seseorang tentang suatu peristiwa baik yang ia alami sendiri atau yang dialami orang lain. Namun, sejarah sebagai kisah bukan hanya berupa penuturan saja (lisan), akan tetapi sejarah sebagai kisah juga dapat berbentuk tulisan.

Keterangan menunjukkan bahwa sejarah sebagai kisah terdapat dua bentuk atau jenis. Pertama adalah sejarah sebagai kisah dalam bentuk lisan atau penuturan langsung seseorang melalui lisan terhadap suatu peristiwa. Artinya seseorang bercerita sebuah peristiwa dengan menggunakan ungkapan lisan. Kedua, sejarah sebagai kisah dalam bentuk tulisan, yaitu seseorang menceritakan sebuah peristiwa atau sejarah menggunakan tulisan. Biasanya kisah dalam bentuk tulisan ini berwujud buku.

Pengertian Sejarah Sebagai Kisah

Banyak sekali definisi atau pengertian sejarah sebagai kisah. Hal ini disebabkan oleh Para Sejarawan yang ikut andil dalam memberikan perhatian terhadap sejarah. Sejarah sebagai kisah adalah hal yang sangat penting, karena semua hasil karya cipta manusia merupakan suatu bukti dari kisah manusia yang hidup dan dinamis. Berikut ini adalah pengertian sejarah sebagai kisah yang diambil dari beberapa sumber.


  1. Sejarah sebagai kisah adalah hasil karya, cipta, dan penelitian berbagai ahli yang kemudian menulisnya. (Sumber: Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta; PT. Widya Duta Grafika, 2009, hlm. 5).
  2. Sejarah sebagai kisah adalah kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. (Sumber: Ibid., Hlm. 5).
  3. Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang menyangkut penulisan peristiwa tersebut oleh seseorang sesuai dengan konteks zamannya dan latar belakangnya. (Sumber: Dwi Ari Listiani, Sejarah 1: Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta:  Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009, Hlm. 5)
  4. Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang dapat terjadi berulang kali, karena kisah dari suatu peristiwa tersebut dapat ditulis oleh siapa saja dan kapan saja. (Sumber: Ibid., Hlm. 5).
  5. Sejarah sebagai kisah ialah cerita berupa narasi yang disusun dari memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi atau berlangsung pada waktu lampau atau sejarah serba subjek. (Sumber; Marwan Supriyadi, Sejarah 1: Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta: PT. Perca, 2009, Hlm. 12).
  6. R. Moh. Ali dalam Ismaun menyatakan sejarah sebagai kisah ialah cerita berupa narasi yang disusun dari memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi atau berlangsung pada waktu yang lampau. (Sumber; Ibid.,).


Sejarah sebagai kisah dapat diulang-ulang, ditulis oleh siapa saja, dan kapan saja. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah, diperlukan suatu proses rekonstruksi dengan metode sejarah. Hal ini terkait dengan sejarah sebagai ilmu. Sejarah sebagai ilmu sudah tentu memiliki objek, tujuan dan memiliki metode. Sebagai ilmu sejarah juga bersifat empiris dan tetap berupaya menjaga objektivitasnya, sekalipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan subjektivitasnya.

Contoh Sejarah Sebagai Kisah

Banyak sekali contoh-contoh sejarah sebagai kisah. Bahkan sejarah atau peristiwa yang saat ini masih diabadikan dan diingat masyarakat Indonesia juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah. Yang perlu dipahami kembali adalah sejarah sebagai kisah adalah  kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, berarti ketika seseorang bercerita kembali tentang sejarah masa silam maka itu dapat disebut dengan sejarah sebagai kisah. Atau jika ada seseorang yang menulis kembali sejarah proklamasi maka tulisan itu juga dapat disebut dengan sejarah sebagai kisah.

Jadi contoh sejarah sebagai kisah antara lain:

  1. Dalam bentuk tulisan berarti setiap tulisan yang menceritakan suatu sejarah seperti, Kisah Perjuangan Pangeran Dipoegoro, Kisah detik-detik proklamasi dan kisah atau cerita lainnya yang mengandung sejarah dalam bentuk tulisan.
  2. Jika seseorang bercerita tentang kehebatan para pahlawan dalam menghadapi penjajah dengan ungkapan atau lisan, maka itu juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah. Misalnya seseorang menceriakan kembali perjuangan Pangeran Dipodegoro, maka itu dapat dijadikan sejarah sebagai kisah.

Contoh Sejarah Sebagai Kisah

Intinya, jika seseorang menceritakan kembali mengenai sejarah masa silam, baik menggunakan lisan atau tulisan, maka itu disebut dengan sejarah sebagai kisah. Bahkan jika kamu bercerita tentang Ayahmu yang berjuang untuk menafkahi keluarga, baik dengan tulisan atau lisan, itu juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah.

Faktor Subjektivitas Sejarah Sebagai Kisah

Sebagaimana telah dikemukan di atas, sejarah sebagai kisah akan bersifat subjektif. Interpretasi atau penafsiran yang dilakukan oleh penulis sejarah akan subjektif. Subjektivitas tersebut terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian si penulis atau penutur sejarah. Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut.

1.  Kepentingan atau interes dan nilai-nilai

Kepentingan dalam penulisan sejarah sangat ditentukan oleh tujuan dari penulisan sejarah tersebut. Dalam penulisan sejarah tersebut, berbagai kepentingan muncul, baik yang bersifat pribadi, kelompok, maupun secara formal negara. Misalnya dalam penulisan sejarah sebagai mata pelajaran di sekolah, maka sangat menonjol kepentingan negara.

Pengajaran sejarah di sekolah memiliki misi untuk membangun semangat kebangsaan. Oleh karena itu, penulisan sejarah buku ajar harus mengandung nilai-nilai kebangsaan. Peristiwa-peristiwa yang ditulis diseleksi dan dipilih untuk kepentingan penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Subjektivitas ditentukan pula oleh nilai-nilai yang dimiliki penulis sejarah. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, keyakinan, moral, etika, dan lain-lain. Agama yang dianut oleh seorang penulis dapat menjadi sumber nilai dalam penulisan sejarah. Misalnya seorang penulis sejarah yang memiliki kegiatan aktif dalam kegiatan dakwah sebuah organisasi Islam, dia akan menulis sejarah organisasi yang ia masuki dengan penuh penilaian yang positif terhadap organisasi tersebut.

2.  Kelompok sosialnya

Profesi yang dimiliki oleh penulis sejarah akan mewarnai hasil penulisannya. Sejarawan, wartawan, guru, penulis bebas dan lain-lain, merupakan bentuk profesi. Profesi-profesi tersebut bisa disebut dengan kelompok sosial. Dalam kelompok sosial, biasanya individu bergaul atau berhubungan dengan sesama pekerjaannya atau statusnya.

Tidak sedikit dari profesi yang bukan sejarawan menulis sejarah. Misalnya, wartawan menulis peristiwa sejarah dalam surat  kabar atau majalahnya. Begitu pula, ada guru yang menulis sejarah untuk kepentingan pengajaran sekolahnya.

Setiap kelompok sosial tersebut kemungkinan akan berbeda dalam memberikan interpretasi terhadap sejarah yang ditulisnya. Seorang sejarawan, akan menulis sejarah dengan menggunakan kaidah-kaidah akademik dari ilmu sejarah. Langkah-langkah penelitian sejarah sebagai salah satu dari disiplin ilmu pengetahuan akan digunakan oleh sejarawan dalam menulis sejarah.

Dalam hal ini, sejarah menjadi suatu tulisan ilmiah. Kepentingannya adalah untuk lingkungan akademik, misalnya di perguruan tinggi.

Profesi guru sebagai pendidik akan menampilkan penulisan sejarah untuk kepentingan nilai-nilai kependidikan. Hal ini dapat kita lihat dalam bukubuku pelajaran sejarah yang ada di sekolah. Peristiwa sejarah yang ditampilkan bukan untuk kepentingan akademik yang bersifat ilmiah, tetapi ditujukan untuk kepentingan nilai-nilai kependidikan yang bersifat praktis.

Walaupun buku sejarah di sekolah ditujukan untuk kepentingan nilainilai kependidikan, tidaklah berarti mengabaikan aspek ilmiah dari buku tersebut. Hanya kadar ilmiah yang ditampilkan tidak sederajat dengan di perguruan tinggi.

 3. Perbendaharaan pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan berpengaruh terhadap hasil karya tulis sejarah yang ditulisnya. Profesi yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadi ukuran seberapa jauh pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan tersebut dapat berupa pengetahuan fakta maupun pengetahuan dari ilmu pengetahuan. Penulis yang memiliki pengetahuan fakta yang banyak, maka cerita sejarahnya akan lebih lengkap, mendetail, dan memberikan informasi yang lebih banyak.

Penutur lisan pun akan dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya ketika ia menuturkan kisah sejarah. Kisah sejarah akan memiliki perbedaan  antara seorang penutur yang mengalami langsung peristiwa tersebut dengan yang tidak langsung menyaksikannya.

Seorang saksi yang melihat suatu peristiwa sejarah akan memiliki pengetahuan fakta yang lebih banyak dibanding dengan orang yang tidak terlibat langsung, walaupun orang tersebut mengetahuinya. Misalnya, apabila kita menanyakan kepada seorang mantan prajurit pada masa perang dengan Belanda, maka ceritanya akan lebih lengkap.

 4. Kemampuan berbahasa

Pengkisahan dalam bentuk tulisan pada dasarnya merupakan kemampuan berbahasa yang ditampilkan dalam bentuk tulisan. Interpretasi terhadap sumbersumber sejarah akan menggunakan kaidah-kaidah bahasa penulisan. Dalam bahasa, seseorang yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik akan berbeda dengan yang tidak terampil dalam bahasa tulisan.

Seorang penulis yang kurang terampil berbahasa tulisan, mungkin saja cerita sejarah yang ditampilkannya sulit dipahami karena bahasa yang digunakan kurang baik. Walaupun pemaparan faktanya cukup banyak.

Baca Juga:

Itulah penjelasan mengenai pengertian sejarah sebagai kisah, contoh sejarah sebagai kisah dan faktor subjetivitas sejarah sebagai kisah. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan dapat memudahkan pemahaman Anda.

Sejarah Sebagai Kisah: Pengertian, Contoh, dan Faktor Subjetivitas

Ciri-ciri sejarah sebagai peristiwa
Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Peristiwa

A. Pendahuluan

Sejarah memiliki empat ruang lingkup yang disebut dengan ruang lingkup sejarah. Empat ruang lingkup sejarah itu adalah Sejarah Sebagai Ilmu, Sejarah Sebagai Kisah, Sejarah Sebagai Seni, dan Sejarah Sebagai Peristiwa. Keempat ruang lingkup tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembahasan pelajaran sejarah. Memang jika memandang sejarah dari segi pengertiannya, bisa dibilang cukup sederhana, namun ketika kita mempelajari sejarah secara mendalam, ternyata pelajaran sejarah memiliki cakupan yang sangat luas.

Sejarah sebagai peristiwa adalah salah satu dari ruang lingkup sejarah. Sejarah sebagai peristiwa juga memiliki ciri-ciri yang melekat pada dirinya. Ciri-ciri utama sejarah sebagai peristiwa adalah; Abadi, Unik, Berpengaruh dan Penting. Dari keempat ciri-ciri tersebut akan dibahas dan dijelaskan pada kesempatan kali ini. 

B. Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Peristiwa

Ketika ciri-ciri utama sejarah sebagai peristiwa adalah abadi, unik, berpengaruh, dan penting, maka suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah haruslah memiliki tiga karakteristik tersebut. Penjelasan ciri-ciri sejarah sebagai peristiwa adalah sebagai berikut:

1. Abadi

Sejarah yang dikenang sepanjang masa baik oleh seseorang maupun masyarakat akan menjadi abadi. Ada sebuah kata hikmah yang berbunyi “menulislah agar kamu abadi”, “berbuat baiklah agar kamu abadi”, dan “bermanfaatlah bagi orang lain agar kamu abadi”. Tiga kata hikmah tersebut saya rasa dapat memberikan penjelasan kepada para pembaca tentang ciri sejarah sebagai peristiwa yang bersifat abadi.

Abadi dalam arti masih tetap dikenang dan disimpan dalam ingatan dan hati sanubari seseorang atau kelompok masyarakat. Contoh, peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 yang hingga saat ini masih tetap di ingat dan diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tujubelasan. Para tokoh proklamator juga masih diingat dan dikenang karena jasanya sebagai wujud terima kasih kita kepada mereka. Peristiwa 17 Agustus 1945 akan tetap abadi dan tidak berubah karena masyarakat Indonesia selalu mengingatnya dan secara turun temurun diajarkan pada generasi baru.

2. Unik

Sejarah merupakan sesuatu yang nyata, namun kita tidak dapat kembali dan mencapainya lagi. Karena waktu yang telah lewat tidak akan pernah terulang kembali. Begitu pula peristiwa yang sudah terjadi, hanya terjadi satu kali saja dan tidak akan ada peristiwa yang sama terulang kembali.

Maka dari itu, ciri-ciri sejarah sebagai peristiwa yang ke-2 adalah unik yang berarti tidak akan bisa terulang kembali dan jika peristiwa itu ingin diulang kembali, tidak akan sama persis dari peristiwa sebelumnya. Unik artinya berbeda dari yang lain.

3. Berpengaruh

Sejarah sebagai peristiwa memiliki ciri-ciri berpengaruh atau memberikan dampak terhadap peristiwa yang akan datang. Baik berpengaruh secara langsung atau pun tidak langsung.

Seperti peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang memberikan pengaruh terhadap para Pahlawan. Walaupun para penjajah masih ngeyel untuk menjajah Indonesia yang sudah menyatakan kemerdekaannya, akan tetapi karena peristiwa tersebut para pejuang pahlawan semakin bersengat untuk memukul mundur para penjajah.

4. Penting

Peristiwa yang penting akan menjadi sejarah yang berharga dan akan selalu diingat. Baik diingat oleh pribadi seseorang atau diingat oleh kelompok masyarakat. Jika tidak dianggap penting, maka suatu peristiwa akan dilupakan dan akan terhapus dari ingatan sehingga akan hilang begitu saja. Seperti peristiwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

C. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpukan bahwa sejarah sebagai peristiwa memiliki ciri-ciri utama yaitu:

  • Abadi, yang berarti akan selalu diingat dan dikenang sepanjang masa serta tidak akan berubah-ubah.
  • Unik, yang artinya berbeda dari yang lain dan tidak akan terulang kembali di masa depan.
  • Berpengaruh, yaitu memberikan dampak atau pengaruh bagi kehidupan di masa mendatang.
  • Penting, artinya suatu peristiwa itu dianggap penting baik bagi seseorang maupun bagi masyarakat.

Baca Juga:

Itulah informasi mengenai ciri-ciri sejarah sebagai peristiwa. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan Anda.

Penjelasan Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Peristiwa

Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa
9 Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa

Memahami sejarah sebagai peristiwa tidak akan sempurna jika kita tidak mengetahui contoh-contohnya. Oleh sebab itu dalam artikel ini akan membahas mengenai beberapa contoh sejarah sebagai peristiwa beserta penjelasannya. Namun, sebelum para pembaca mengetahui contoh sejarah sebagai peristiwa, akan lebih baik jika para pembaca untuk mengetahui dan memahami pengertian sejarah sebagai peristiwa terlebih dahulu.

Berikut ini adalah contoh-contoh sejarah sebagai peristiwa:

  • Peristiwa 26 Desember
  • Peristiwa 212
  • Gempa Bumi Lombok
  • Peristiwa Pembakaran Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid
  • Peristiwa Rengasdengklok
  • Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
  • Pertempuran Ambarawa
  • Serangan Umum 1 Maret
  • Peristiwa Bandung Lautan Api


Berikut ini adalah keterangan dari contoh-contoh di atas.

1. Peristiwa 26 Desember
Contoh pertama adalah peristiwa 26 Desember 2014 yang terjadi di Aceh. Gelombang raksasa tsunami telah menghancurkan Aceh dan sekitarnya. Sebelumnya terjadi gempa dahsyat berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter di dasar laut dekat Pulau Simeuleu dan hanya beberapa jam saja gelombang besar itu mencapai daratan Afrika.
Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa
Peristiwa Tsunami di Aceh

Bencana terbesar sepanjang sejarah ini juga disebut dengan bencana internasional. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa tsunami di Aceh merupakan bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa korban tewas akan melebihi 100 ribu orang. Bahkan Indonesia dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah.

Di negara kita Indonesia terkenal dengan sebutan Peristiwa 26 Desember. Banyak sekali korban akibat peristiwa ini. Pada tanggal 30 Desember 2014, Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, menyebut jumlah korban sedikitnya 115.000 orang tewas. Pada akhir pemberitaan sedikitnya 130 ribu arang tewas di kawasan Aceh.

2. Aksi Bela Islam 212
Merupakan Aksi Bela Islam yang ke-3, sebelumnya terdapat dua Aksi Bela Islam yang telah dilaksanakan. Disebut dengan Aksi 212 karena pelaksanaannya pada tanggal 2 Desember (bulan ke-12), tahun 2016. Aksi ini merupakan peristiwa lanjutan penuntutan ke-2 terhadap  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menistakan agama. Sebelumnya terdapat aksi bela Islam yang terjadi pada 4 November.

Aksi atau peristiwa 212 dilaksanakan di halaman Monumen Nasional (MoNas), Jakarta. Polisi mengklaim bahwa yang hadir pada peristiwa tersebut berjumlah 200 ribu, sedangkan penyelenggara aksi tersebut mengklaim hingga jutaan orang. Dalam aksi ini sejumlah kegiatan yang dilaksanakan adalah berdoa dan melakukan salat Jumat bersama. Presiden Joko Widodo hadir dalam acara ini dan disambut hangat oleh para peserta aksi. Oh, iya.... Aksi ini dipimpin oleh  Muhammad Rizieq Shihab atau dikenal dengan Habib Rizieq.

3. Gempa Bumi di Lombok
Peristiwa gempa bumi di Lombok yang terjadi pada 5 Agustus 2018 merupakan bencana yang cukup memilukan. BKM menyebutkan gempa bumi berkekuatan 7,0 SR episenter di darat pada 18 km barat laut Lombok Timur, kedalaman 15 km  merupakan gempa utama. Sedangkan gempa yang terjadi pada 29 Juli 2018 dan sederet gempa susulan lalu, merupakan gempa awalan.

Gempa ini berpotensi tsunami untuk Kabupaten Lombok Barat bagian utara dan Kabupaten Lombok Timur bagian utara, dengan status Waspada. Waktu kedatangan tsunami diperkirakan pada 5 Agustus 2018 pukul 18.48 Wita, dengan tinggi tsunami maksimum 0,5 meter.

Gempa kali ini berpotensi terjadinya gelombang tsunami dan telah terjadi gelombang tsunami di empat titik, yakni di Pelabuhan Carik Lombok Utara 13,5 cm pada pukul 18.38 Wita, Pelabuhan Badas Sumbawa Utara 10 cm pada pukul 18.54 Wita, dan Pelabuhan Lembar Lombok Selatan dan Pelabuhan Pantai Benoa Bali 2 cm pada pukul 19.58 Wita.

4. Pembakaran Bendera Kalimat Tauhid
Peristiwa ini masih kontroversi namun dapat dijadikan contoh sejarah sebagai peristiwa. Peristiwa ini terjadi pada hari Senin 22 Oktober 2018 di Lapangan Alun-Alun Kecamatan Limbang, Kabupaten Garut saat perayaan Hari Santri Nasional. Pembakaran bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid, yang viral videonya tersebut dilakukan oleh anggota Banser.

Pada awalnya, Hari Santri Nasional tersebut sudah disepakati tidak boleh mengibarkan bendera apa pun selain bendera merah putih. Namun, pada saat acara sedang berlangsung tiba-tiba terdapat oknum yang mengibarkan bendera selain Merah Putih. Sehingga, pada pukul 09.30 Wib telah terjadi pembakaran diduga bendera HTI (Hizbut Thahrir Indoesia) yang dilakukan oleh peserta kegiatan atau anggota Banser. 

5. Konflik/Pertentetangan (Peristiwa Rengasdengklok)
Yang dimaksud dengan konflik atau pertentangan di sini salah satu contohnya adalah peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini merupakan peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda Indonesia terhadap Ir. Soekarno dan Bung Hatta yang emudian dibawa ke Rengasdengklok, Karawang. Terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB penculikan tersebut bertujuan untuk mendesak agar mempercepat proklamasi Republik Indonesia.

Konflik atau pertentangan antar kedua pihak yaitu, antara golongan muda dan golongan tua berbeda pendapat kapan pelaksanaan proklamasi. Karena golongan muda ingin segera mungkin proklamasi untuk dilaksanakan, sedangkan golongan tua berpendapat tunggu waktu yang tepat untuk dilaksanakan. Hingga akhirnya golongan muda menculik keduanya. Akan tetapi, walaupun terjadi peristiwa tersebut alhamdulillah pada akhirnya kedua belah pihak sepakat dalam melaksanakan proklamasi.

6. Proklamasi Kemerdekaan RI
Hari yang sangat bersejarah bagi seluruh bangsa dan tanah air Indonesia. Selama berabad-abad lamanya dijajah oleh Belanda dan Jepang. Para pejuang nasional Indonesia selama itu pula memperjuangkan agar dari penjajah. Untuk anak cucu keturunan mereka, untuk kita semua. Hingga pada waktunya, pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Atas Nama Bangsa Indonesia, seorang proklamator mengumumkan pada dunia, bahwa Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa
Proklamasi Kemerdekaan RI

Bendera tanah air Indonesia merah putih telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, Sayuti Melik yang mengetik teks proklamasi kemerdekaan, dan Lapangan IKADA (sekarang menjadi Monas) menjadi saksi bisu. Teks proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.

7. Pertempuran Ambarawa
Pertempuran Ambarawa adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Ambarawa, sebelah selatan Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Terjadi pada tanggal 12 Desember 1945 sekitar pukul 04.30 serangan mulai dilancarkan. Pertempuran yang dipimpin oleh Kol. Soedirman berlangsung sengit dan berjalan selama 4 hari.

Pemimpin pasukan Indonesia menggunakan taktik gelar sumpit, atau atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

8. Serangan Umum 1 Maret
Jatuh pada tahun 1949 dan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran. Dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Pihak yang terkait dalam pertempuran ini adalah Indonesia dan Belanda.

Tiga alasan penting yang dikemukakan Bambang Sugeng untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:

  • Yogyakarta adalah Ibukota RI (pada saat itu), sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam, akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.
  • Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) serta pengamat militer dari PBB.
  • Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan memahami dan menguasai situasi/daerah operasi.


Dalam serangan terhadap Yogya, pihak Indonesia mencatat korban sebagai berikut: 300 prajurit tewas, 53 anggota polisi tewas, rakyat yang tewas tidak dapat dihitung dengan pasti. Menurut majalah Belanda De Wappen Broederterbitan Maret 1949, korban di pihak Belanda selama bulan Maret 1949 tercatat 200 orang tewas dan luka-luka.

9. Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa pembakaran besar-besaran yang terjadi di Bandung pada tanggal 23 Maret 1946. Pihak yang terlibat pada peristiwa ini adalah Indonesia dan Inggris. Pada waktu itu, Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. 
Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa
Peristiwa Bandung Lautan Api

Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA.

Penjelasan

Sejarah sebagai peristiwa merupakan kejadian yang benar-benar terjadi di masa silam dan dianggap penting oleh seseorang atau kelompok dan kejadian itu memberikan pengaruh terhadap masa depan. Dari penjelasan tersebut, sembilan peristiwa di atas dapat dijadikan contoh sejarah sebagai peristiwa. Karena peristiwa tersebut oleh masyarakat terutama Indonesia berpengaruh terhadap masa depan Indonesia. Peristiwa di atas juga memberikan kesan yang luar biasa.

Baca Juga:
Pengertian dan Contoh Sejarah Sebagai Seni
Penjelasan LENGKAP Sejarah Sebagai Ilmu
Penjelasan Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Peristiwa

Itulah beberapa contoh sejarah sebagai peristiwa yang dapat kami informasikan kepada pembaca. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kita semua. Apa bila terdapat kesalahan dalam penulisan mohon kiranya untuk memberikan komentar di kolom komentar.

9 Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa dan Penjelasannya

Pengertian Sejarah Sebagai Peristiwa dan Contohnya
Sejarah Sebagai Peristiwa dan Contohnya
Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau tentu ada yang penting untuk dibahas dan ada pula yang tidak atau kurang penting. Sebuah peristiwa dianggap penting apabila peristiwa tersebut memberikan pengaruh terhadap masa yang selanjutnya. Bisa saja suatu peristiwa yang penting tersebut tidak langsung dianggap penting, namun setelah peristiwa itu berlalu dan dengan berjalannya waktu, peristiwa itu baru dirasakan pengaruhnya, sehingga dianggap penting pada masa berikutnya.

Berkaitan dengan konsep sejarah sebagai peristiwa, maka kita akan membicarakan tentang suatu kejadian, kenyataan, aktualitas manusia yang telah terjadi atau berlangsung pada masa lampau. Peristiwa penting merupakan merupakan pokok pembahasan dalam sejarah. Peristiwa adalah  sebuah gerak yang terjadi pada suatu masa dan mengakibatkan peristiwa lainnya.

Peristiwa dalam cakupan sejarah berarti segala sesuatu yang telah berlangsung pada masa lalu dan menimbulkan akibat pada kehidupan manusia pada waktu itu dan pada masa setelahnya. Artinya, segala sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau dapat berpengaruh atau mempengaruhi kehidupan manusia dan lingkungan yang akan datang.

Pengertian Sejarah Sebagai Peristiwa

R. Moh. Ali dalam Ismaun menyatakan bahwa  sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian, kenyataan, aktualitas, sejarah in concreto, yang sebenarnya telah terjadi atau berlangsung pada waktu atau masa yang lampau. Sejarah sebagai peristiwa, berarti suatu kejadian di masa lampau, sesuatu yang sudah terjadi, dan sekali jadi (einmalig), tidak bisa diulang.

Sejarah sebagai peristiwa adalah suatu kenyataan yang objektif, artinya kenyataan yang benar-benar ada dan terjadi dalam kehidupan masyarakat manusia. Kenyataan ini ada dan dapat dilihat dari fakta-fakta sejarahnya.

Peristiwa sejarah terjadi dalam ruang lingkup yang beragam. Mulai dari ruang lingkup yang lebih kecil sampai kepada ruang lingkup yang lebih besar. Ruang lingkup secara administratif pemerintahan bisa mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi, negara, dan dunia. Sebuah peristiwa sejarah bisa saja terjadi hanya di negara tertentu saja, misalnya bagaimana perubahan pada masyarakat di Inggris dengan adanya Revolusi Industri, apakah mereka tetap menjadi buruh atau pekerjaan lainnya.


Contoh-Contoh Sejarah Sebagai Peristiwa

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sejarah sebagai peristiwa merupakan suatu kejadian masa silam yang kemudian memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia di masa depan. Artinya, sebuah peristiwa dapat dianggap sejarah karena memberikan dampak atau pengaruh terhadap kehidupan yang akan datang.

Dari penjelasan tersebut terdapat beberapa contoh sejarah sebagai peristiwa yang akan kami sampaikan pada artikel ini. Berikut ini adalah beberapa contoh sejarah sebagai peristiwa:

1. Penemuan Sepeda Ontel

Peristiwa ketika kendaraan sepeda baru saja ditemukan mungkin tidak langsung dirasakan pengaruhnya oleh masyarakat luas. Namun, setelah beberapa tahun ke depan, lambat tetapi pasti, pengaruh terhadap penemuan sepeda ternyata dapat berpengaruh terhadap gaya hidup manusia. Yang tadinya pergi ke suatu tempat dengan cara berjalan kaki, kini pergi ke mana pun menggunakan sepeda.

Begitu pula peristiwa ketika mobil atau sepeda motor ditemukan dan baru saja berhasil diciptakan. Peristiwa tersebut juga memberikan pengaruh terhadap gaya hidup manusia. Bahkan sampai saat ini mobil dan sepeda motor menjadi sebuah kendaraan yang sangat favorit di kalangan baik muda maupun dewasa. Maka dari itu, karena penemuan ketiga kendaraan tersebut memberikan pengaruh terhadap masa depan, maka peristiwa tersebut dapat dijadikan contoh sejarah sebagai ilmu.

2.  Adanya Pertentangan atau Konflik

Contoh sejarah sebagai peristiwa yang selanjutnya adalah peristiwa terjadinya konflik atau pertentangan. Misalnya, pertentangan atau konflik yang terjadi pada peristiwa menjelang proklamasi. Pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia sempat terjadi pertentangan antara generasi tua dan generasi muda.

Pertentangan itu terjadi karena perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua mengenai waktu yang tepat untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Nah, dari peristiwa pertentangan tersebut ternyata melahirkan peristiwa baru yang disebut dengan peristiwa Rengasdengklok. Jadi peristiwa pertentangan antar kedua golongan tersebut ternyata mempengaruhi tindakan mereka.

3. Peristiwa Ekonomi 

Contohnya adalah Perdagangan dan Pelayaran di Selat Malaka. Pada mulanya perdagangan rempah-rempah di Nusantara terutama pulau Jawa hanya menjangkau daerah lokal. Artinya perdagangan pada masa itu belum menjangkau seluruh dunia.

Sejak adanya pelabuhan Selat Malaka, ternyata perdagangan rempah-rempah di Nusantara menjadi maju pesat. Karena pada saat itu Pelabuhan Selat Malaka merupakan tempat persinggahan atau  atau merapatnya kapal-kapal dari segala penjuru dunia. Malaka merupakan tempat pertemuan pedagang-pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, Indonesia, dan Cina.

Baca Juga: 

Itulah penjelasan mengenai pengertian sejarah sebagai peristiwa dan contohnya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menambah pengetahuan anda. Banyak salah dalam penulisan saya mohon maaf, jika Anda berkenan silahkan memberi tahu kami melalui kolom komentar.

Pengertian Sejarah Sebagai Peristiwa dan Contohnya LENGKAP

Ciri ciri sejarah sebagai seni
Ciri-ciri Sejarah Sebagai Seni

Memahami sejarah sebagai seni, selain harus mempelajari pengertian dan contoh-contohnya, Anda juga harus memahami ciri-ciri dari sejarah sebagai seni. Adapun contoh sejarah sebagai seni terdiri dari empat macam yaitu:

  • Intuisi
  • Imajinasi
  • Emosi
  • dan Gaya Bahasa


Empat ciri-ciri atau karakteristik di atas harus terdapat pada sejarah ketika dikatakan sebagai seni. Intinya sejarah dapat dikatakan sebagai seni jika terdapat empat ciri-ciri tersebut.

Penjelasan Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Seni

Kami akan mencoba menjelaskan keempat ciri-ciri di atas dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. Berikut ini penjelasan ciri-ciri sejarah sebagai seni:

1. Intuisi

Seni memerlukan intuisi untuk menemukan, menggali dan menyajikan sebuah peristiwa. Sesuatu yang masih misteri (sejarah misalnya) juga memerlukan intuisi untuk menemukan kebenaran. Maka dari itu, sejarah sebagai seni, juga memerlukan intuisi dalam menyelidiki, menggali, dan menyajikan informasi yang berkaitan dengan masa lampau.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa, intuisi juga diperlukan oleh sejarawan dalam memahami sebuah peristiwa. Walaupun demikian, intuisi yang dipergunakan untuk mengali dan menemukan kebenaran sejarah, harus tetap berdasarkan data dan fakta yang diperoleh di lapangan. Kira-kira mirip seorang detektif yang menguak sebuah kasus.

2. Imajinasi

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang secara umum. Oleh sebab itu layaknya seniman, sejarawan juga membutuhkan imajinasi untuk membantu dalam menggali, memahami, dan membayangkan bagaimana suatu peristiwa berlangsung.

Jadi, sejarah bisa dikatakan sebagai seni ketika suatu sejarah dapat dipahami, digali, dan ditemukan menggunakan imajinasi dan disajikan dalam bentuk imajinasi seorang sejarawan. Meski demikian, imajinasi seorang sejarawan juga harus dibatasi oleh data dan fakta yang ia dapatkan di lapangan agar tidak berlebihan dalam memberikan informasi sejarah.

3. Emosi

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Artinya, sejarah sebagai seni harus mampu menghadirkan emosi bagi orang yang membaca atau mencari informasi sejarah, sehingga mendapatkan pemahaman yang utuh atau lebih baik.

Seperti menceritakan sebuah peristiwa yang menyedihkan, sejarawan harus dapat menghipnotis para pembaca agar sang pembaca dapat merasa kesedihan yang dirasakan oleh pelaku sejarah. 

4. Gaya Bahasa

Dalam menyampaikan peristiwa sejarah, baik menggunakan tulisan maupun lisan, seorang sejarawan harus menggunakan bahasa yang menarik, lugas, dan sistematis. Gaya bahasa yang baik, lugas, meyakinkan, menarik, dan sistematis akan membuat pembaca menjadi antusias dan penasaran untuk mendengarkan atau membaca sejarah. Kira-kira mirip karya sastra yang penuh dengan estetika.

Baca Juga:

Itulah penjelasan 4 ciri-ciri sejarah sebagai seni. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan dan memahami tentang sejarah sebagai seni. Terdapat kesalahan dalam penulisan mohon untuk para pembaca memberi komentar.

4 Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Seni dan Penjelasannya

8 contoh sejarah sebagai seni
Penjelasan Contoh Sejarah Sebagai Seni

Sejarah sebagai seni adalah sejarah yang dikemas, disajikan dan dipandang sebagai keindahan untuk menceritakan informasi masa lampau. Dalam menyampaikan informasi tentang sejarah dibutuhkan rasa, imajinatif, komunikatif dan keindahan agar sang pembaca menjadi tertarik. Untuk itu, mempelajari pengertian sejarah sebagai seni saja tidak akan sempurna tanpa mengetahui contoh-contoh sejarah sebagai seni.

Berikut ini adalah contoh-contoh sejarah sebagai seni, di antaranya adalah:

  • Seni Pahat
  • Seni Patung
  • Seni Arsitektur
  • dan Seni Tari Tradisional.


Penjelasan Contoh-Contoh Sejarah Sebagai Seni

Contoh saja tanpa adanya penjelasan saya rasa masih sulit untuk dimengerti. Oleh karena itu kami akan mencoba menjelaskan contoh-contoh sejarah sebagai seni. Tidak hanya contoh di atas, akan tetapi kami akan menambah jumlah contoh-contoh lain, semampu kami.

“Sejarah dikatakan sebagai seni, karena dalam penulisan sejarah, seorang sejarawan memerlukan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa yang komunikatif.

Berikut ini penjelasan 8 contoh sejarah sebagai seni:

1. Lukisan

Lukisan merupakan salah satu seni yang sangat populer di seluruh dunia. Dalam pembuatan lukisan, tergantung pada si pembuat lukisan tersebut. Lukisan yang dibuat oleh seorang profesional tentu mengandung seni yang terdapat unsur-unsur intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa yang komunikatif.

Lalu apa hubungannya dengan sejarah sebagai seni? Ingat bahwa sejarah dikatakan sebagai seni karena terdapat unsur-unsur seni. Apalagi jika lukisan tersebut sengaja dibuat untuk menggambarkan seseorang atau kelompok masyarakat tertentu.
contoh sejarah sebagai seni
Contoh sejarah sebagai seni berbentuk lukisan

Jika kalian pernah belajar peninggalan manusia purba, tentu akan menjumpai gambar-gambar di goa-goa yang dibuat oleh manusia purba. Gambar tersebut merupakan sejarah mereka yang diungkapkan melalui seni lukisan atau gambar. Jadi, gambar atau lukisan tersebut dapat dijadikan salah satu contoh sejarah sebagai seni.

2. Pahatan

Yang dimaksud di sini adalah pahatan pahatan yang bernilai seni dan salah satu contoh pahatan yang bernilai seni adalah relief. Lukisan dan relief hampir sama, yang membedakannya adalah jika relief gambar dalam bentuk 3 dimensi, sedangkan lukisan adalah gambar 2 dimensi.

Relief yang mengandung seni biasanya terdapat pada bangunan candi. Relief tersebut biasanya menggambarkan sejarah kehidupan masyarakat masa lampau, sehingga terdapat unsur sejarah yang melekat pada relief candi. Jadi seni pahat yang berbentuk relief dapat dijadikan contoh sejarah sebagai seni. Karena relief biasanya menceritakan sejarah kehidupan masyarakat masa lampau yang disajikan dalam bentuk seni gambar tiga dimensi.

3. Arsitektur

Arsitektur bangunan pasti mengandung seni. Arsitektur bangunan dapat menggambarkan kehidupan suatu masyarakat, apakah arsitek tersebut terasa megah, mewah, atau sederhana. Bahkan arsitektur bangunan juga dapat menggambarkan keangkuhan.

Salah satu contoh sejarah sebagai seni adalah arsitektur bangunan baik bangunan seperti candi, keraton, benteng, dan rumah adat. Salah satu arsitektur lainnya adalah bangunan sebagai simbol keagamaan seperti masjid, wihara, atau kuil. Dalam arsitektur gaya yang disampaikan candi borobudur misalnya, terdapat sejarah yang sangat luar biasa yang ingin disampaikan oleh pembuatnya.

4. Pakaian Adat

Pakaian adat adalah salah satu simbol dari suatu masyarakat atau suku-suku. Pakaian adat yang telah dibuat pada masa silam tentu memiliki nilai sejarah juga memiliki nilai seni. Pakaian adat juga menjadi salah satu ciri khas suatu kelompok masyarakat. Cara pembuatannya juga tidak mungkin sembarangan yang penting jadi. Oleh sebab itu, pakaian adat terutama masyarakat Indonesia memiliki sejarah yang bernilai seni.

5. Tarian Tradisional

Tarian tradisional atau tarian adat juga salah satu contoh sejarah sebagai seni. Tarian merupakan sebuah seni yang mengedepankan gerakan-gerakan tertentu. Gerakannya pun tidak asal gerak, tetapi setiap gerak memiliki makna.

Memahami koreografi dan makna yang terkandung dalam setiap gerakan tari tradisional tidak bisa hanya mengandalkan sisi ilmiah semata. Dibutuhkan intuisi, imajinasi, dan emosi yang matang bagi mereka yang ingin memahami tari tradisional ini secara utuh sebagai bukti peradaban manusia.

6. Seni Patung

Tujuan patung dibuat tergantung pada si pembuat patung tersebut, apakah hanya sekedar untuk hiasan atau untuk mencari uang. Tetapi yang perlu ditekankan adalah setiap patung memiliki unsur seni, walaupun tidak semua patung memiliki nilai seni yang tinggi. Namun hal tersebut akan berbeda ketika membicarakan patung Sphinx.
contoh sejarah sebagai seni
Sphinx adalah contoh sejarah sebagai seni

Patung sphinx adalah patung yang biasanya dibuat untuk menggambarkan seorang raja atau tokoh dalam bentuk singa perkasa. Bentuk singa tersebut menggambarkan seseorang atau sebuah negara yang kuat dan perkasa seperti singa. Oleh karena itu, patung sphinx tergolong patung yang memiliki unsur sejarah yang menggambarkan seseorang. Jadi, patung sphix dapat dijadikan salah satu contoh sejarah sebagai seni karena, patung tersebut menggambarkan keperkasaan seseorang atau masyarakat dalam bentuk patung singa.

7. Wayang Kulit

Wayang kulit awalnya merupakan sebuah media untuk menceritakan sebuah legenda yang dipercaya oleh sebagian orang. Akan tetapi yang perlu ditekankan pada contoh sejarah sebagai seni di sini adalah nilai sejarah yang mengandung unsur seni. Wayang kulit sudah ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu sudah ada. Di seluruh dunia juga mengenalnya. Di dalam alur ceritanya mengandung ajaran-ajaran kebaikan. Oleh sebab itu, wayang kulit juga termasuk contoh sejarah sebagai seni.

8. Novel Sejarah

Novel merupakan tulisan-tulisan yang mengutamakan seni keindahan bahasa. Namun, terdapat novel yang diangkat dari kisah nyata. Kisah nyata tersebut diambil dari seorang tokoh dalam suatu masyarakat. Walaupun sebuah novel sejarah lebih mengedepankan keindahan bahasa, tetapi harus sesuai dengan kisah nyata yang sesungguhnya tanpa harus mengorbankan fakta yang terjadi di lapangan.

Oleh sebab itu, novel yang diambil dari sejarah merupakan contoh dari sejarah sebagai seni. Alasannya, sejarah yang diceritakan oleh penulis tersebut benar-benar terjadi dan berdasarkan oleh fakta. Cerita atau peristiwa nyata dikemas dalam bentuk tulisan dalam sebuah novel yang menekankan keindahan bahasa.

Artikel BerkaitanPenjelasan LENGKAP Sejarah Sebagai Ilmu

Itulah 8 contoh sejarah sebagai seni yang sudah kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam pelajaran sejarah. Terdapat kesalahan dalam tulisan ini, mohon untuk para pembaca memberi tahu melalui kolom komentar.

8 Contoh Sejarah Sebagai Seni dan Penjelasannya

Sejarah Sebagai Seni dan Contohnya
Sejarah Sebagai Seni

Dalam pelajaran sejarah, terdapat empat ruang lingkup sejarah. Salah satunya adalah sejarah sebagai seni. Seni sendiri adalah suatu karya yang dibuat oleh manusia yang di dalamnya terdapat unsur-unsur estetika atau keindahan. Lalu apa yang dimaksud sejarah sebagai seni? Apa hubungannya sejarah dengan seni?Lalu bagaimana contoh sejarah sebagai seni? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab secara lengkap melalui penjelasan-penjelasan di bawah ini.

Berikut ini penjelasan tentang pengertian sejarah sebagai seni dan contohnya.

A. Pengertian Sejarah Sebagai Seni

Sejarah sebagai seni adalah penjelasan sejarah yang melibatkan imajinasi, keindahan dan emosional dan gaya. Pengertian lain sejarah sebagai ilmu adalah sejarah yang dikemas sedemikian rupa agar pembaca tertarik untuk mencari informasi tentang masa lampau karena keindahan akan tetapi tidak mengurangi unsur keilmiahan dan keakuratan pada informasi tersebut.

Sejarah juga dapat berperan sebagai seni yang mengedepankan nilai estetika. Sejarah dalam hal ini bukan dipandang dari segi etika atau logika. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pemikiran Dithley seorang sejarawan sekaligus filusuf modern, ia menyatakan bahwa “sejarah adalah pengetahuan tentang cita rasa”.

Jadi, inti pengertian sejarah sebagai seni adalah pengetahuan tentang masa lampau yang dikemas sedemikian rupa agar pembaca tertarik atas informasi sejarah karena keindahan, akan tetapi tidak mengurangi keilmiahan dan keakuratan informasi tersebut.

Jadi meskipun sejarah disusun berdasarkan bahan-bahan secara ilmiah, tetapi penyajiannya menyangkut soal keindahan bahasa, dan seni penulisan; maka kita cenderung untuk menyimpulkan bahwa sejarah termasuk juga sebagai karya seni, tetapi yang benar-benar seni juga tidak, sebab proses penelitiannya dilakukan secara ilmiah. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam proses penelitiannya sumber sejarah bersifat ilmiah, tetapi dalam taraf penulisannya sejarah bersifat seni.

Tokoh yang menganjurkan sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Ia menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena memerlukan imajinasi dan seni. Dithley juga berpendapat bahwa sejarah adalah pengetahuan tentang rasa. Dithley juga menambahkan bahwa pemahaman dengan cara imajinatif mampu menjadikan fakta sejarah lebih hidup dan lebih berarti. Itulah sebabnya, menurut George Macauly Travelyan dalam penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti.

Dengan demikian, diperlukan seni dalam penulisan sejarah sehingga tercipta suatu peristiwa sejarah yang dapat dipelajari secara urut, lengkap, menarik, dan tidak membosankan. Oleh karena itu, seorang sejarawan harus bersedia menjadi ahli seni untuk menghidupkan kembali kisah kehidupan di masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Dengan demikian selain elemen ilmiah sejarah juga mengandung elemen seni.

Melalui pendekatan seni, fakta sejarah akan menjadi lebih hidup dan bernyawa. Kita pun akan lebih menghayati kejadian sejarah, dapat lebih menghargai tokoh atau manusia yang terjun langsung dalam tragedi dan peristiwa sejarah. Kita bisa lebih menghayati momentum sejarah, misalnya, dengan membaca sastra-sejarah (biasanya dalam bentuk novel, roman).

Misalnya dengan membaca novel Arus Balik karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan perubahan politik yang terjadi di Nusantara pada masa Kerajaan Demak mendominasi Kepulauan Nusantara, ketika bangsa Portugis (Peringgi) telah  menguasai Selat Malaka. Meskipun tokoh utama dalam novel ini (Wiranggaleng dan Idayu) bersifat fiktif, namun sebagian tokoh lainnya adalah pelaku sejarah yang nyata.


B. Contoh Sejarah Sebagai Seni

Mengetahui dan memahami pengertian sejarah sebagai seni tidak akan sempurna ketika kita tidak mengetahui contoh sejarah sebagai seni. Maka dari itu untuk melengkapi pemahaman tentang sejarah sebagai seni, akan disebutkan beberapa contoh sejarah sebagai seni.

Sejarah dikatakan sebagai seni, karena dalam penulisan sejarah, seorang sejarawan memerlukan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa yang komunikatif.

Di atas sudah disebutkan bahwa pengertian sejarah sebagai seni adalah informasi tentang masa lampau (sejarah) yang mengedepankan keindahan, namun tidak mengurangi keakuratan dan keilmiahan informasi tersebut.

Dari pengertian tersebut contoh-contoh sejarah sebagai seni adalah sebagai berikut:

1. Tarian Tradisional

Tarian tradisional diciptakan tidak hanya sebagai hiburan dan kesenian saja. Jika kita teliti lebih dalam, tarian tradisional juga mengandung unsur sejarah. Hal ini juga berlaku terhadap tarian adat. Karena tarian adat juga mengandung unsur sejarah yang menggambarkan peristiwa masa lampau. Dalam tarian tradisional atau adat juga terkandung unsur emosi, imajinatif, intuisi, dan gaya bahasa.

2. Seni Pahat

Seni pahat yang dimaksud adalah seni pahat yang merupakan peninggalan sejarah yang dapat dijadikan sumber sejarah, seperti seni pahat yang terdapat pada candi atau bangunan kuno lainnya. Biasanya seni pahat seperti relief menggambarkan kehidupan kelompok atau masyarakat tertentu. Dan untuk mempelajari serta meneliti seni tersebut dibutuhkan imajinasi dan emosi/rasa.

3. Seni Arsitektur

Setiap bangunan pasti memiliki arsitektur tidak terkecuali bangunan-bangunan peninggalan sejarah. Candi, Kerato/Kerajaan, rumah adat, dan bangunan keagamaan juga memiliki ciri khas arsitektur tertentu. Arsitektur juga merupakan seni yang membutuhkan imajinatif untuk membuatnya. Dan setiap arsitektur yang berbeda tentu menggambarkan sejarah yang berbeda pula.

4. Pakaian Adat

Sejarah sebagai seni juga terdapat pada pakaian adat. Karena dalam pakaian adat terdapat unsur-unsur seni yang dikemas dalam bentuk pakaian. Sejarah yang terdapat pada pakaian adat adalah simbol-simbol dari ciri khas suku tertentu.

Baca Juga:
4 Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Seni dan Penjelasannya
8 Contoh Sejarah Sebagai Seni dan Penjelasannya
Penelitian Sejarah: Pengertian, Tujuan, Langkah-Langkah, DLL

Itulah penjelasan mengenai pengertian sejarah sebagai seni dan contoh sejarah sebagai seni. Semoga bermanfaat untuk kita semua dan dapat menambah pengetahuan tentang pelajaran sejarah. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan artikel ini, mohon untuk pembaca mengkonfirmasi di kontak komentar.

Pengertian dan Contoh Sejarah Sebagai Seni

Sejarah Sebagai Ilmu

Dibawah ini penjelasan lengkap tentang sejarah sebagai ilmu yang meliputi pengertian sejarah sebagai ilmu, ciri-ciri atau karakteristik sejarah sebagai ilmu, syarat-syarat sejarah sebagai ilmu, sendi-sendi sejarah sebagai ilmu, dan fungsi sejarah sebagai ilmu.

Banyak sekali pembahasan mengenai sejarah sebagai ilmu. Hal ini dapat dilihat dari pengertiannya yang cukup rumit, panjang dan tidak gampang untuk menyederhanakan definisinya. Belum lagi proses-proses untuk mencapai sejarah dapat dikategorikan sebagai ilmu. Harus disusun secara sistematis, sesuai prosedur, menggunakan metode-metode penelitian, dan harus sesuai dengan asas-asas untuk dapat mencapai peringkat sejarah yang diakui sebagai ilmu.

Untuk itu, kami akan berusaha untuk menjelaskan sejarah sebagai ilmu dengan sederhana, singkat, dan padat. Diawali dengan pengertian sejarah sebagai ilmu,

Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu adalah suatu pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang disusun secara sistematis melalui metode penelitian yang berdasarkan asas atau prinsip penelitian sejarah, serta menggunakan teknik yang ilmiah dan harus memiliki kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Sederhananya, sejarah dapat dikatakan sebagai ilmu karena merupakan suatu pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan suatu kebenaran peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.

Panjang banget kan pengertiannya? Aku juga merasa begitu....!

Yang jelas dan simpel mengenai definisi sejarah sebagai ilmu adalah: penelitian dan pengembangan tentang peristiwa masa lampau yang dilakukan secara sistematis dengan cara atau pendekatan metode ilmiah. Yang harus digaris bawahi dalam pengertian di atas adalah:


  1. Sejarah, artinya penelitian itu harus berkaitan dengan sejarah atau peristiwa masa lampau.
  2. Penelitian, artinya peristiwa masa lampau (sejarah) dapat dikategorikan sebagai ilmu harus melalui penelitian atau penyidikan yang menyeluruh berdasarkan bukti atau sumber sejarah.
  3. Sistematis, yaitu sejarah atau peristiwa masa lampau harus dicatat dan disusun sesuai dengan metode penelitian sejarah.
  4. Metode, yaitu; dalam penelitian sejarah harus menggunakan metode yang telah disepakati oleh para ahli sejarah.
  5. Kesimpulan, artinya sejarah yang telah diteliti berdasarkan bukti/sumber sejarah dengan metode dan disusun secara sistematis harus menarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
  6. Ilmiah adalah sesuatu yang dapat di pertanggungjawabkan dan dibuktikan berdasarkan penelitian.


Melihat dari poin-poin penting tersebut, maka pengertian sejarah sebagai ilmu dapat juga didefinisikan sebagai berikut:

Sejarah dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena penyidikan dan penelitian tentang peristiwa masa lalu menggunakan metode ilmiah, dengan menguji hipotesis empiris yang diverifikasi. Sebagaimana ilmu lainnya, ilmu sejarah menarik kesimpulan berdasarkan bukti pengamatan. Kesimpulan (apakah suatu hipotesis dapat diterima atau ditolak berdasarkan fakta, bukan opini. Fakta yang dimaksud adalah fakta yang didapat dari pengamatan tadi.

Pengertian di atas terasa belum lengkap jika tidak menyebutkan pendapat para ahli sejarawan. Maka dari itu, inilah pengertian sejarah sebagai ilmu menurut para ahli sejarah:

  1. C.E Berry : Sejarah adalah suatu ilmu, tidak kurang tidak lebih.
  2. York Powell : sejarah bukanlah hanya sekadar suatu cerita indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu pengetahuan.
  3. Ismaun : Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (a body of knowledge) tentang peristiwa dan cerita yang terjadi di dalam masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur, dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh para sejarawan.


Sejarah sebagai ilmu itu mempelajari sejarah sebagai aktualitas dan mengadakan penelitian serta pengkajian tentang peristiwa dan cerita sejarah. Sejarah sebagai ilmu ialah suatu disiplin, cabang pengetahuan tentang masa lalu, yang berusaha menuturkan dan mewariskan pengetahuan mengenai masa lalu suatu masyarakat tertentu.

Menurut Imaun, sejarah sebagai ilmu meliputi:

  1. Metode khusus sejarawan untuk merekonsruksi secara kritis, analitis dan imajinatif peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau berdasarkan bukti-bukti peninggalan, data, tulisan, dan rekaman
  2. Pernyataan, pendapat dan pandangan sejarawan yang diungkapkan berdasarkan dokumen, text-book atau kisah-kisah tentang peristiwa yang benar-benar terjadi pada waktu yang lalu.


Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Ilmu

Pengetahuan yang didapat berdasarkan penelitian disebut ilmu. Suatu pengetahuan disebut ilmu jika memenuhi beberapa kriteria, yakni : (1) memiliki metode yang efisien, (2) memiliki obyek yang definitif, (3) memiliki formulasi kebenaran yang umum, (4) adanya penyusunan yang sistematis, dan (5) memiliki kebenaran yang objektif.

Sejarah sebagai ilmu memiliki beberapa ciri atau karakteristik. Secara umum ilmu sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan memiliki 5 ciri/karakteristik, yaitu bersifat empiris, memiliki objek, memiliki objek, memiliki teori, memiliki metode, dan memiliki generalisasi (kesimpulan). Menurut Kontowijoyo, ciri-ciri atau karakteristik sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut:

1. Bersifat Empiris

Empiris adalah pengalaman atau sesuatu yang pernah dilakukan dan dirasakan. Namun, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman manusia, maka sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman-pengalaman manusia tersebut direkam atau dicatat melalui beberapa media, misalnya batu yang diukir atau ditulis (prasasti) dan kertas yang berisi catatan atau naskah kuno.

Media yang merekam pengalaman manusia disebut peninggalan sejarah atau sumber-sumber sejarah. Contoh peninggalan sejarah adalah prasasti, dokumen atau naskah kuno, bangunan seperti bangunan keraton/kerajaan dan lain-lain. Jadi, ciri pertama sejarah sebagai ilmu adalah bersifat empiris, karena sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia.

2. Mempunyai Objek

Seperti ilmu pengetahuan lainnya, sejarah sebagai ilmu juga memiliki objek. Objek sejarah adalah aktivitas manusia dalam konteks dimensi waktu, karena waktu merupakan unsur yang sangat penting bagi kajian sejarah. Peristiwa yang telah terjadi sudah pasti tidak akan terhindar dari waktu kejadian. Waktu atau masa dapat disimbolkan dengan tanggal, bulan, tahun, atau jam. Maka dari itu, salah satu ciri atau karakteristik sejarah sebagai ilmu adalah memiliki objek dan objek yang dimaksud adalah manusia dan waktu.

3. Memiliki Teori

Layaknya cabang ilmu pengetahuan lainnya, sejarah juga memiliki teori. Teori-teori yang dimaksud adalah kumpulan kaidah-kaidah pokok ilmu sejarah. Dalam filsafat teori atau kaidah pokok disebut dengan epistimemologi. Kaidah-kaidah pokok dan teori sejarah ini digunakan mendukung argumentasi atas terjadinya sejarah yang telah terjadi.

Salah satu gagasan pokok tentang teori sejarah adalah seperti pendapat Ibnu Khaldun.  Adapun inti atau pokok-pokok Ibnu Khaldun adalah sebagai berikut:
1.Kebudayaan adalah masyarakat manusia yang didasarkan atas hubungan manusia  dan Tuhan (di satu sisi) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.
2. Bahwa kebudayaan dan perkembangan melalui 4 fase

  • Fase primitif nomaden
  • Fase urbanisasi
  • Fase kemewahan
  • Fase kemunduran yang mengantakan  kehancuran


4. Mempunyai Metode

Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu yang selanjutnya adalah memiliki metode dan metode yang dimaksud adalah metode penelitian sejarah. Tujuan akhir dari sebuah metode adalah untuk mencari dari kebenaran suatu peristiwa. Yang dimaksud dengan metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian suatu peristiwa sejarah dan permasalahannya.

Telah disepakati oleh para akademisi bahwa segala sesuatu dapat dikatakan sebagai  ilmu pengetahuan harus melalui metode yang sudah disepakati. Pada umumnya metode yang digunakan dalam penelitian sejarah adalah metode historis. Dan yang perlu dicatat bahwa, untuk mencari sebuah kebenaran dari suatu sejarah,  terdapat metode atau cara untuk menemukan kebenaran itu sendiri.

5. Mempunyai Generalisasi/ kesimpulan

Generalisasi adalah kesimpulan umum. Sebuah penelitian yang harus melalui  metode, diwajibkan untuk memiliki kesimpulan. kesimpulan sejarah bisa menjadi koreksi kesimpulan ilmu lain. Kesimpulan umum dalam sejarah lebih mendekati pola-pola atau kecenderungan dari suatu peristiwa sehingga dari kecenderungan bisa dilihat bagaimana di tempat lain atau bagaimana yang akan datang. Itulah generalisasi dalam sejarah.

Syarat-Syarat Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu selain memiliki ciri atau karakteristik, juga memiliki persyaratan yang harus dipenuhi. Dalam buku Sejarah karya Dwi Arilisiani (2009:6) menyebutkan enam persyaratan yang dimiliki sejarah sebagai ilmu. Syarat-syarat sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut:

1.  Memiliki Tujuan

Setiap cabang ilmu memiliki tujuan masing-masing, tidak terkecuali sejarah sebagai ilmu. Dengan memiliki tujuan, suatu ilmu akan terfokus dan tidak keluar dari jalur pembahasan. Lalu apa tujuan ilmu sejarah?. Jawabannya tersirat pada objek kajian sejarah itu sendiri.

Objek kajian sejarah adalah kehidupan manusia masa lampau, yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang sebagai kontinuitas kehidupan. Sejarah memiliki ruang lingkup yang jelas, yakni apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dirasakan oleh manusia.

Jadi syarat pertama sejarah sebagai ilmu adalah harus memiliki tujuan, karena dengan tujuan tersebut akan menjadi lebih fokus dalam membahas pada bidang sejarah.

2. Memiliki Metode

Metode dalam arti yang luas adalah cara atau jalan untuk melakukan sesuatu menurut aturan tertentu. Dengan menggunakan metode, maka seseorang dapat melakukan kegiatan secara lebih terarah. Dengan demikian kegiatan tersebut bersifat lebih praktis sehingga dapat mencapai hasil maksimal.

Kumpulan pengetahuan yang memiliki metode akan dapat tersusun secara lebih terarah, lebih teratur serta lebih mudah dipelajari. Tanpa suatu metode, suatu pengetahuan mengenai apa pun tidak dapat digolongkan ke dalam ilmu. Sejarah memiliki metode tersendiri dalam kerangka penelitiannya, yakni metode sejarah meliputi pengumpulan, mengadakan penilaian sumber (kritik), penafsiran data dan penyajian dalam bentuk cerita sejarah (historiografi).

Jadi syarat yang ke-dua adalah harus memiliki metode, tanpa adanya metode, maka sejarah tidak bisa dikatakan sebagai ilmu.

3.  Pemikiran yang Rasional

Ilmu hanya dapat dipahami dengan akal pikiran yakni dengan menggunakan penalaran yang sehat. Analisis yang dilakukan terhadap sejumlah pengetahuan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh aturan-aturan logika untuk mencapai suatu kesimpulan. Proses penyimpulan itu disebut penalaran.

4.  Penyusunan yang Sistematis

Penyusunan secara sistematis memungkinkan pengetahuan yang diteliti saling berkaitan dengan bidang ilmu lain sehingga merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain.  Penyusunan secara sistematis pengetahuan sejarah mulai dari langkah yang pertama (pengumpulan sumber) sampai dengan yang terakhir (penulisan sejarah sebagai kisah).

5.  Kebenaran Bersifat Objektif

Pengetahuan ilmiah dapat dikomunikasikan dengan orang lain dan kebenarannya dapat diterima oleh orang lain juga, karena sesuai dengan kenyataan (objektif). Sejarah sepanjang menyangkut tentang fakta adalah objektif.
Oleh karena fakta sejarah adalah objektif, maka penulisannya harus berdasarkan fakta tersebut. Dengan demikian, sejarah memiliki kebenaran objektif.

Dengan kriteria seperti tersebut di atas, maka jelas bahwa sejarah dapat dimasukkan dalam ilmu tersendiri. Jadi ilmu sejarah memperoleh kedudukan sebagai ilmu setelah pelbagai peristiwa sejarah itu disoroti sebagai suatu
permasalahan dengan cara menganalisis hubungan sebab akibat sedemikian rupa, sehingga dapat ditemukan hukum-hukum sejarah tertentu yang menjadi patokan bagi terjadinya peristiwa.

6.  Sejarah sebagai Seni

Meskipun sejarah disusun berdasarkan bahan-bahan secara ilmiah, tetapi penyajiannya menyangkut soal keindahan bahasa, dan seni penulisan; maka kita cenderung untuk menyimpulkan bahwa sejarah termasuk juga sebagai karya seni, tetapi yang benar-benar seni juga tidak, sebab proses penelitiannya dilakukan secara ilmiah. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam proses penelitiannya sumber sejarah bersifat ilmiah, tetapi dalam taraf penulisannya sejarah bersifat seni.

Sendi-Sendi Sejarah Sebagai Ilmu

Dalam buku sejarah kelas 10 karya Marwan (2009: 14-15) menyebutkan bahwa; “Sedangkan Muhammad Yamin dalam Ismaun mengemukakan sembilan sendi sejarah sebagai ilmu, yaitu:” ilmu pengetahuan, hasil penyidikan, bahan penyelidikan, cerita, kejadian, masyarakat manusia, waktu yang lampau, tanggal dan tarikh, dan yang terakhir penafsiran atau syarat khusus.

1. Ilmu Pengetahuan

Sendi pertama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah suatu ilmu pengetahuan sebagai petumbuhan hikmah kebijaksanaan (rationalism) manusia. Dengan perkataan lain, sejarah itu adalah suatu sistem ilmu pengetahuan, yakni sebagai daya cipta manusia untuk mencapai hasrat ingin tahu serta perumusan sejumlah pendapat yang tersusun sekitar suatu pokok permasalahan tertentu dan sehubungan dengan itu tak dapat dilepaskan sifatnya sebagai ilmu tentang berlakunya hukum sebab dan akibat atau kausalitas.

2. Hasil Penyelidikan

Sejarah sebagai cabang imu pengetahuan disusun menurut hasil-hasil penyelidikan (investigation, research) yang dilakukan dalam masyarakat manusia. Jadi, penyelidikan adalah penyaluran hasrat ingin tahu oleh manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada taraf setinggi itu disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah berdasarkan hasil penelitian dan pemikiran.

3. Bahan Penyelidikan

Ilmu sejarah ialah hasil penelitian dengan menggunakan bahan-bahan penyelidikan sebagai kenyataan. Semua disebut sumber sejarah, baik berupa benda, dokumen tertulis, maupun tradisi lisan.

4. Cerita

Sendi cerita yang berupa pelaporan tentang kejadian pada zaman yang lampau. Untuk membedakan cerita biasa dengan dongeng, sejarah dalam pengertian ilmiah harus menunjukkan hubungan antara satu gejala dengan gejala lain secara kronologis. Cerita adalah anasir subjektif, tetapi anasir ini menghubungkan dengan bahan sejarah yang objektif secara rapih.

5. Kejadian

Yang diselidiki atau diriwayatkan dalam pengertian sejarah ialah kejadian dalam masyarakat manusia pada zaman lampau. Kejadian itu meliputi sekumpulan masyarakat dan keadaan-keadaan yang berpengaruh. Semuanya itu ialah objek sejarah yang harus diseleksi dan diteliti. Kejadian ialah hal-hal yang terjadi. Muhammad Yamin menyatakan bahwa rangkaian kejadian itu mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain, ada kausalitasnya.

6. Masyarakat Manusia

Kejadian pada zaman yang lampau itu berlaku dalam masyarakat manusia, yakni gejala, perbuatan, dan keadaan masyarakat manusia dalam ruang dan waktu yang menjadi objek sejarah. Muhammad Yamin dalam hal ini menegaskan pembatasannya dengan mengutif ucapan Ernst Bernheim bahwa Nur der Mensch ist Object der Geschiktswissenshart (Hanya manusialah yang menjadi objek sejarah).

7. Waktu yang Lampau

Sejarah menyelidiki kejadian-kejadian pada zaman atau waktu yang lampau. Sedangkan gejala-gejala masyarakat pada waktu sekarang dan tinjauan kemungkinan pada waktu yang akan datang menjadi bidang objek ilmu politik dan futurologi. Jikalau batas-batas waktu dalam tiga babakan dahulu, kini dan nanti kita hilangkan, maka sang waktu menjadi tidak berpangkal dan tidak berujung. Begitulah penentuan waktu itu penting sekali sebagai batas tinjauan dan ruang gerak kita guna memudahkan pemahaman masalah bagaimana tonggak-tonggak dalam perjalanan sejarah itu.

8. Tanggal dan Tarikh

Waktu yang telah lampau adalah demikian jauh dan lamanya, sehingga sukar mengirakannya. Apabila sang waktu itu bermula atau berpangkal. Masa lampau itu tak pernah putus dari rangkaian masa kini dan masa nanti, sehingga waktu dalam perjalanan sejarah adalah suatu kontinuitas. Oleh karena itulah, untuk memudahkan ingatan manusia dalam mempelajari sejarah perlu ditentukan batas awal dan akhirnya setiap babakan dengan satuan waktu sebagai petunjuk kejadian: tahun, bulan, tanggal/hari, jam dan detik, windu, dasawarsa atau dekade, abad, milenium atupun usia relatif.

9. Penafsiran atau Syarat Khusus

Penyelidikan sejarah secara ilmiah dibatasi oleh cara meninjau yang dinamakan juga menafsirkan keadaan-keadaan yang telah berlalu. Cara menafsirkan itu kita namakan tafsiran atau interpretasi sejarah, yang menentukan warna atau corak sejarah manakah atau apakah yang terbentuk sebagai hasil penyelidikan yang telah dilakukan.

Misalnya Sejarah Dunia, Sejarah Nasional, Sejarah Kesenian, Sejarah Pendidikan, dan sebagainya. Selain itu ideologi atau paham tertentu dapat menentukan corak sejarah. Misalnya, penafsiran sejarah menurut paham Liberalisme, paham Marxisme dan menurut paham Pancasila. Cara penafsiran dari sudut pandang ilmu tertentu atau ideologi tertentu merupakan syarat khusus dalam rangkaian sendi sejarah.

Informasi mengenai sendi-sendi sejarah sebagai ilmu pengetahuan di atas bersumber dari Buku karya Marwan Supriyadi, “Sejarah SMA Jilid 1 Kelas X, yang diterbitkan oleh departemen pendidikan nasional dari PT Perca, tahun 2009, halaman 14-15.

Fungsi Sejarah Sebagai Ilmu

Menurut Ismaun, bahwa fungsi sejarah sebagai ilmu pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua funsi yaitu, fungsi ilmiah dan fungsi paraktis.

  1. Fungsi Ilmiah (teoretis), ialah sama dengan fungsi ilmu pada umumnya. Menurut Betrand Russel ada dua fungsi, yaitu: Untuk memungkinkan kita mengetahui atau mengerti sesuatu. Memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu. 
  2. Fungsi Praktis, yakni dari ilmu sejarah diperoleh kegunaan praktis (practical value). Fungsi praktis pengajaran sejarah dapat diartikan secara positif, tetapi juga dapat diartikan secara negatif. Fungsi sejarah pada hakikatnya untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman yang mendalam dan lebih baik tentang masa lampau, untuk dapat memahami masa sekarang serta dalam prospektif masa yang akan datang.

Contoh Sejarah Sebagai Ilmu

Contoh sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
1. Teori masuknya Islam ke Indonesia
2. Teori masuknya Hindu-Budha ke Indonesia

Itulah penjelasan mengenai sejarah sebagai ilmu yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan sang pembaca sekalian.


Penjelasan LENGKAP Sejarah Sebagai Ilmu

Subscribe Our Newsletter