Halaman

    Social Items

Ads 728x90

Secara umum bentuk muka bumi terdiri atas dua bagian yakni, daratan dan lautan (perairan). Jika kita perhatikan gambar peta, daratan disimbolkan dengan warna hijau, putih, dan coklat, sedangkan lautan biasanya menggunakan simbol warna biru. Daratan yang luas disebut benua dan lautan yang luas sering disebut dengan samudera.

Sebenarnya, permukaan bumi yang kita tempati ini tidak rata seperti pada peta, ada bagian yang menonjol ke atas ada pula yang cekung ke bawah. Bagian yang menonjol ke atas dapat berupa gunung, pegunungan, bukit, daratan tinggi, dan sebagainya. Bagian yang cekung dapat berupa lembah, danau, dan sungai. Penampakan tinggi dan rendahnya permukaan bumi disebut dengan bentuk relief muka bumi.

macam macam bentuk permukaan bumi
Bentuk Muka Bumi

Lalu bagaimana dengan bentuk dasar laut? Pada dasarnya, dasar laut adalah daratan yang tertutup air.  Oleh sebab itu,  dasar laut juga tidak rata seperti daratan. Ada bagian yang menonjol ke atas seperti pegunungan yang ada dibawah laut, ada pula bagian yang cekung ke bawah seperti palung laut dan lubuk laut.

Macam Macam Bentuk Muka Bumi Daratan dan Lautan


Seperti yang telah disebutkan bahwa permukaan bumi tidak rata, ada benjolan dan lekukan yang membuat bentuk muka bumi menjadi bervariasi. Ada gunung, dataran rendah, dataran tinggi, danau, sungai, palung laut dan sebagainya.

Perhatikanlah daratan yang ada di daerahmu! Apakah berupa pegunungan? atau apakah ada jurang, sungai, danau? Apa bila di tempat tinggalmu terdapat salah satunya, maka di daerahmu termasuk salah satu bentuk muka bumi daratan. Jika teman-teman ingin mengetahui bentuk-bentuk muka bumi, silahkan simak penjelasan di bawah ini.

Bentuk Muka Bumi Daratan

gambar bentuk muka bumi daratan
Gambar Bentuk Muka Bumi Daratan

Secara garis besar bentuk relief daratan terdiri atas gunung, pegunungan, bukit dan perbukitan, lembah, jurang, ngarai, sungai, danau, dataran tinggi, dataran rendah, plato, dan depresi kontinental. Dari berbagai macam bentuk daratan muka bumi tersebut akan dijelaskan secara gamblang.

1. Gunung

Gunung adalah daratan bumi yang menonjol ke atas karena tenaga endogen yang berasal dari dalam bumi sehingga membentuk Gerak Orogenesa yang mendorong permukaan bumi ke atas seperti bentuk kerucut yang berdiri dengan megah. Contoh bentuk daratan muka bumi yang menonjol di Indonesia adalah Gunung Merapi, Gunung Kerinci, dan Gunung Rinjani. Gunung terdiri dari tiga bagian yakni, puncak, lereng, dan kaki gunung.

2. Pegunungan

Sama halnya dengan gunung, pegunungan juga bentuk permukaan bumi yang menonjol ke atas bagaikan kerucut yang berdiri megah. Namun gunung dan pegunungan memiliki perbedaan yaitu, gunung hanya terdiri dari satu gunung saja, sementara pegunungan terdiri dari beberapa gunung.

Jadi pegunungan merupakan rentetan atau rangkaian gunung yang menjulang tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Pegunungan memiliki ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Contoh bentuk muka bumi daratan pegunungan di Indonesia adalah Pegunungan Jaya Wijaya (Papua) dan Pegunungan Himalaya di India.

3. Bukit

Bentuk muka bumi daratan selanjutnya adalah bukit. Prinsipnya hampir sama dengan gunung, bentuknya seperti kecurut, akan tetapi bukit hanya memiliki ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut. Bukit terbentuk karena tenaga endogen yang mendorong permukaan bumi ke atas sehingga membentuk tonjolan. Tenaga endogen adalah tenaga atau kekuatan yang berasal dari dalam bumi yang umumnya bersifat membangun.

4. Perbukitan

Perbukitan adalah rangkaian bentuk permukaan bumi yang menonjol ke atas dengan ketinggian kurang dari 500 meter dari permukaan laut. Bukit terdiri dari satu bukit, sedangkan perbukitan terdiri atas beberapa bukit yang saling berdampingan. Bukit juga disebut dengan pegunungan rendah dengan ketinggian 500 mdpl (meter dari permukaan laut).

5. Lembah

Lembah merupakan daratan atau area tanah rendah yang dikelilingi oleh pegunungan atau perbukitan. Luasnya dapat mencapai ribuan kilo meter persegi. Lembah juga terkadang berada di tepi sungai. Contoh bentuk permukaan bumi yang berupa lembah adalah Lembah Indus (Pakistan), Lembah Baliem (Papua) dan Lembah Grand Canyon (Amerika Serikat). Hal yang paling menakjubkan dari salah satu bentuk relief daratan ini adalah struktur tanah yang subur dan membentuk pemandangan yang indah.

6. Jurang

Jurang adalah bentuk muka bumi berupa daratan yang dalam serta mempunyai dinding yang sempit dan curam. Perbedaan lembah dan jurang cukup signifikan yakni memiliki permukaan yang sempit dan diapit oleh tebing yang terjal, umumnya dibentuk oleh bebatuan yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, "tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal", terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan, dan sepanjang pantai.

7. Ngarai

Nagari adalah daratan yang menyerupai lembah, memiliki sisi dinding yang curam dan hampir tegak lurus dengan permukaan tanah atau bebatuan. Sama seperti jurang, ngarai terbentuk karena reaksi alam. Perbedaan antara jurang dan ngarai adalah jurang terbentuk karena proses erosi, sedangkan ngarai terbentuk akibat terkikis oleh air dalam jangka waktu yang lama. Contoh ngarai di Indonesia adalah Cukang Taneuh di Jawa Barat dan Nagarai Sianok di Sumatra Barat.

8. Sungai

Sungai adalah daratan berbentuk cekung ke bawah yang memanjang dan dialiri oleh air secara terus menerus dalam jumlah yang besar. Sungai merupakan salah satu bentuk muka bumi daratan yang aliran airnya dari hulu (sumber) ke hilir (muara).

Sungai terbentuk dalam beberapa cara, di antaranya yang paling umum akibat air hujan, mata air, atau cairan gletser yang mengalir dari atas ke tempat yang lebih rendah, sehingga akan membentuk sebuah saluran yang besar dan memanjang. Contoh sungai yang terkenal di Indonesia adalah Sungai Musi (Palembang) dan Sungai Bengawan Solo (Solo).

9. Danau

Bentuk daratan muka bumi yang selanjutnya adalah danau yang di gambarkan cekung ke bawah dengan area yang luas. Tidak seperti sungai yang identik dengan bentuk memanjang dan air mengalir, danau berupa cekungan luas namun air yang ada di dalamnya tenang atau tidak mengalir.

Danau sendiri adalah cekungan besar yang ada di daratan permukaan bumi dan terdapat air yang menggenang di dalam permukaan cekung tersebut. Airnya bisa saja air tawar atau air asin. Contoh bentuk muka bumi yang berupa danau adalah Danau Toba dan Danau Maninjau.

10. Dataran Tinggi

Daratan tinggi adalah suatu daerah datar yang berada pada ketinggian di atas 200 meter dari permukaan laut, bahkan dapat mencapai ketinggian 1.000 meter. Jika digambarkan, bentuknya tidak datar seperti meja, namun ada yang berupa gundukan-gundukan besar bergelombang. Dataran tinggi merupakan daerah daratan yang mengalami pengangkatan dari dalam bumi.

Lalu apa perbedaannya antara dataran tinggi, gunung, dan bukit? Kalau gunung bisa disebut dengan dataran tinggi, namun dataran tinggi belum tentu dapat disebut dengan gunung. Gambarannya seperti ini, puncak gunung bisa disebut dataran tinggi, namun puncak gunung belum bisa disebut gunung, karena gunung terdiri atas puncak, lereng, dan kaki gunung.

11. Dataran Rendah

Dataran rendah adalah salah satu bentuk permukaan bumi dengan hamparan tanah yang luas dan berada pada ketinggian di bawah 200 meter hingga 0 meter dari permukaan laut. Dataran rendah dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, perikanan, dan peternakan. Pada umumnya, dataran rendah terdapat di sekitar pesisir pantai atau di wilayah yang digunakan sebagai pesawahan. Bentuk muka bumi yang nyaris datar disebut juga dengan daratan rendah.

12. Plato
dataran tinggi plato
Gambar Plato (Image by: Enduspensa.id)

Plato juga termasuk dataran tinggi yang memiliki ketinggian di atas 500-700 meter dari permukaan laut, dengan bagian atasnya yang luas dan datar, serta memiliki dinding horizontal. Plato terbentuk akibat erosi dan sedimentasi. Perbedaan dataran tinggi dengan plato adalah kalau plato sudah pasti dataran tinggi, tetapi dataran tinggi belum tentu berbentuk plato, karena puncak gunung dan lereng gunung juga bisa disebut dataran tinggi.

13. Depresi Kontinental
Gambar Depresi kontinental
Gambar Depresi kontinental (Image by: Enduspensa.id)

Daratan yang memiliki ketinggian di bawah permukaan laut atau lebih rendah dari permukaan laut di sebut dengan depresi kontinental. Daratan yang mengalami penurunan ini memiliki ketinggian dibawah 0 meter dari permukaan laut sehingga meliki bentuk yang unik. Contoh depresi kontinental berada di kawasan Amsterdam, Belanda.

Bentuk Muka Bumi Lautan (Perairan)

bentuk muka bumi lautan
Gambar Bentuk Muka Bumi Lautan

Macam-macam bentuk muka bumi yang ada di perairan (lautan) tidak jauh berbeda dari bentuk daratan. Karena sebenarnya muka bumi yang ada di lautan adalah dasar laut dan bisa disebut dengan permukaan bumi yang tertutup oleh air laut. Bentuk muka bumi lautan ada tujuh macam yang akan dijelaskan di bawah ini.

1. Palung Laut

Palung merupakan bagian permukaan bumi yang terdapat di dasar laut dengan kedalaman lebih dari 5000 meter. Bentuknya memanjang dan sempit sebagai akibat dari proses penengelaman dasar laut yang terus menerus. Contoh palung laut adalah Palung Jawa dengan kedalaman 7.700 meter, Palung Mindanau (10.030 m), dan Palung Marianan (11.034 M). Palung laut juga disebut dengan jurang yang berada di dasar laut dan bagian terdalam dari dasar laut lainya.

2. Lubuk Laut

Lubuk laut merupakan bentuk muka bumi perairan yang berada di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 5.000 meter. Terjadi karena pemerosotan dasar laut, berdinding curam dan berbentuk seperti mangkuk. Pada dasarnya proses terjadinya sama dengan palung laut tetapi, berbeda bentuknya. Bentuk palung laut seperti huruf V sedangkan lubuk laut seperti mangkuk atau gentong. Contohnya, Lubuk Laut Sulu, Lubuk Laut Flores, dan Lubuk Laut Banda.

3. Pulau Karang

Sebuah pulau yang berada di dasar laut yang terbentuk dari batu karang yang sangat banyak sehingga membentuk sebuah pulau. Pulau ini terjadi karena binatang-binatang yang sudah mati tertumpuk menjadi satu dan lama-lama berubah menjadi karang.

4. Gunung Laut

Seperti gunung yang ada di daratan, gunung laut merupakan permukaan laut yang menonjol ke atas, akan tetapi kaki gunung berada di dasar laut. Puncak gunung laut biasanya akan muncul dan terlihat di permukaan laut, namun ada juga yang tidak terlihat.

5. Ambang Laut

Bentuk muka bumi lautan yang selanjutnya adalah ambang laut. Merupakan daratan luas yang ada di dasar laut yang memisahkan antara dua laut dalam. Ambang laut adalah pulau yang berada di dasar laut dan terletak di antara laut dalam.

6. Punggung Laut

Punggung laut atau disebut dengan Ridge merupakan bagian dasar laut yang menjulang ke atas sebagai pegunungan besar dan sangat panjang yang ada di tengah samudra, sebagian ada yang muncul di atas permukaan laut. Perbedaan dengan gunung laut adalah bentuknya yang memanjang dan amat besar. Contoh punggung laut adalah Punggung Laut Sibolga dan Snelius.

7. Dangkalan (Shelf)

Dangkalan atau paparan merupakan bentuk muka bumi lautan berupa dasar laut dangkal yang luas dengan kedalaman kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Contohnya adalah dangkalan Sunda yang terletak di antara Pulau Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.

Itulah penjelasan tentang macam-macam bentuk muka bumi daratan dan lautan yang jumlahnya ada 20. Semoga bermanfaat bagi Sang Pembaca dan dapat menambah informasi pengetahuan.

20 Bentuk Muka Bumi Daratan dan Lautan Beserta Penjelasannya

Pengertian Sejarah

Pengertian sejarah secara umum adalah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kejadian masa lalu yang penuh dengan peristiwa penting harus dikenang, bila perlu diabadikan dalam sebuah dokumen, baik dalam bentuk gambar, tulisan, atau video, karena semua itu akan menjadi bukti bahwa sebuah kejadian atau peristiwa benar-benar terjadi.

Dalam penelitian sejarah sangat memerlukan sumber sejarah, karena dapat dijadikan sebagai rujukan, dasar, dan bukti bahwa suatu peristiwa masa lampau yang diceritakan memang benar-benar terjadi dan bukan hoaks. Seperti naskah proklamasi yang berada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat, adalah bukti bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia memang benar-benar telah terjadi.

Ahli sejarah menyebutkan bahwa definisi sejarah dapat diartikan sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas secara sistematis tentang seluruh perubahan, perkembangan, dan dinamika kehidupan masyarakat yang telah terjadi pada masa lampau. Pembahasan dan kajian sejarah harus secara sistematis dan kaidah-kaidah metode penelitian sejarah yang telah berlaku.

Pengertian Sejarah

Pengertian Sejarah Secara Umum
Pengertian Sejarah Secara Umum
Pengertian sejarah secara terminologi adalah suatu peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu berdasarkan sumber atau peninggalan-peninggalan masa lampau. Suatu sejarah dapat dikatakan benar (bukan hoaks) karena ada bukti yang menunjukkan kebenarannya.

Banyak sekali sejarah yang masih menjadi misteri dan kontroversi, dikarenakan belum adanya bukti yang cukup kuat untuk membenarkannya. Berbagai teori dan argumentasi yang dipaparkan oleh para pakar sejarawan kadang, bahkan sering berbeda-beda. Walaupun para ahli sejarawan mengemukakan sebuah teori dan argumen berdasarkan masing-masing sumber sejarah, namun jika suatu sejarah masih sepenggal-sepenggal informasi yang didapat dari peninggalan masa lalu, maka bisa saja benar dan bisa saja salah.

Dengan demikian, pengertian sejarah adalah kejadian atau peristiwa masa lalu yang dikaji secara sistematis berdasarkan bukti sejarah (peninggalan-peninggalan masa lampau seperti candi atau prasasti).

Pengertian Sejarah Secara Bahasa

Pengertian Sejarah Secara Bahasa
Ilustrasi Pengertian Sejarah Secara Bahasa

Secara bahasa, kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun berarti "pohon kayu". Mengapa sejarah di ibaratkan seperti pohon kayu?, karena pohon kayu berasal dari benih, kemudian akan tumbuh sampai memiliki cabang-cabang yang banyak dan saling berhubungan. Begitu pula dengan sejarah, ia akan berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu dan memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Misalnya, seseorang yang baru lahir di ibaratkan benih dari sejarah. Orang yang lahir lama-lama akan tumbuh menjadi besar dan dewasa, dengan berjalannya waktu, orang tersebut akan membuat sejarahnya dengan sendirinya. Orang-orang yang berpengaruh atau orang yang berprestasi biasanya akan membawa perubahan besar. Oleh karenanya, ketika seseorang mengalami hal yang luar biasa dan berpengaruh di masyarakat akan membawa perubahan yang akan menjadi sejarah.

Jadi, sejarah secara terminologi adalah arti kata sejarah yang berasal dari bahasa Arab (syajaratun) adalah pohon kayu. Untuk mendalami dan lebih memahami arti kata sejarah kami merekomendasikan untuk membaca Pengertian dan Asal-Usul Kata Sejarah.

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli
Para Ahli Sejarawan
Orang-orang yang telah mendalami ilmu sejarah serta mengembangkan dan menemukan teori-teori baru akan disebut dengan Pakar Sejarawan. Di samping itu, ada juga yang menyebutnya Ahli Sejarah. Banyaknya Para Pakar Sejarah membuat ilmu sejarah menjadi berkembang, sehingga ilmu di bidang sejarah tidak akan habisnya.

Para Ahli Sejarah, telah memberikan pendapat yang berbeda-beda mengenai pengertian sejarah. Kendati demikian, inti dari masing-masing pengertian sama saja, hanya bahasa mereka yang membedakannya. Berikut ini beberapa pendapat pengertian sejarah menurut para ahli:

1. Ibnu Khaldun
Pengertian sejarah menurut Ibnu Khaldun adalah sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.

2. J. V. Bryce

Definisi sejarah menurut J. V. Bryce adalah sebuah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.

3. Leopold Von Ranke

Menurut Leopald Von Ranke, definisi dan pengertian sejarah sangat sederhana yaitu hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi.

4. Aristoteles

Pengertian sejarah menurut Aristoteles merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal tersusun dalam bentuk kronologi. Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, record-record atau bukti-bukti yang konkrit.

5. J. Bank

Sejarah adalah semua kejadian/peristiwa masa lampau. Sejarah dapat membantu para siswa untuk memahami perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Semua kejadian yang dimaksud dalam pendapat tersebut adalah kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia. Dalam kejadian atau peristiwa tersebut terdapat bagaimana manusia berperilaku.

6. Thomas Carlyle

Pengertian sejarah menurut Thomas Carlyle merupakan sebuah peristiwa pada masa lampau yang mempelajari tentang biografi orang terkenal. Mereka merupakan seorang penyelamat pada zamannya. Mereka juga merupakan orang yang besar yang dicatat sebagai peletak dasar sejarah tersebut.

7. R. G. Collingwood

Pengertian sejarah menurut R. G. Collingwood adalah sebuah bentuk penyelidikan tentang hal-hal yang telah dilakukan oleh manusia pada masa lampau.

8. Herodotus

Pengertian sejarah menurut Herodotus yang dijuluki sebagai The Father of History adalah sejarah dapat diartikan sebagai satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.

9. Wiliam H. Frederick

Menurut William H. Frederick, kata sejarah berasal dari bahasa Arab ‘syajaratun’ yang berarti pohon atau keturunan atau asal-usul. Dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘sejarah’. Menurut kata syajarah atau sejarah berarti gambaran silsilah atau keturunan.

10 Edward Hallet Carr

Sejarah menurut Edward Hallet Carr adalah dialog yang tak pernah selesai antara masa sekarang dan masa lampau, suatu proses interaksi yang berkesinambungan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya.

11. Karl Popper

Ilmu sejarah menurut Karl Popper adalah ilmu pengetahuan yang tertarik pada peristiwa-peristiwa spesifik dan penjelasannya. Sejarah sering dideskripsikan sebagai peristiwa-peristiwa masa lalu sebagaimana peristiwa itu benar-benar terjadi secara aktual.

12. Rober V. Daniels

Menurut Robert V. Daniels, pengertian sejarah adalah kenangan dari tumpuan masa silam. Sejarah dimaksud dalam definisi sejarah manusia sebagai pelaku sejarah. Kemampuan yang dimiliki oleh manusia adalah kemampuan untuk menangkap kejadian-kejadian yang ada di sekelilingnya. Hasil tangkapan tersebut menjadi ingatan atau memori dalam dirinya yang akan menjadi sumber sejarah.

13. John Tosh

Definisi sejarah menurut John Tosh adalah memori kolektif, sumber pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial orang-orang dan prospek orang-orang tersebut di masa yang akan datang.

14. Beverley Southgate

Arti sejarah menurut Beverley Southgate adalah suatu studi tentang masa lampau dimana suatu studi yang hasilnya secara ideal merupakan suatu penyajian masa lalu sebagaimana adanya. Hasil pembelajaran ini dapat juga bermanfaat sebagai pelajaran moral bagi manusia.

15. Ismaun

Arti sejarah menurut Ismaun adalah suatu ilmu pengetahuan tentang kisah mengenai peristiwa-peristiwa yang benar-benar telah terjadi atau berlangsung dalam segala aspeknya di masa lampau. Sejarah merupakan catatan atau rekaman pilihan yang disusun secara teliti tentang segala aspek kehidupan umat manusia di masa lampau.

16. W. J. S. Poerwadarminta

Pengertian sejarah menurut W. J. S. Poerwadarminta dibahas dalam buku berjudul Kamus Umum Bahasa Indonesia, dimana arti sejarah dapat diartikan sebagai :

  • Silsilah atau asal-usul.
  • Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
  • Ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar telah terjadi.

17. Drs. Sidi Gazalba

Definisi sejarah menurut Drs. Sidi Gazalba adalah masa lalu manusia dan seputarnya yang disusun secara ilmiah dan lengkap meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan pemahaman tentang apa yang berlaku.

18. Moh. Hatta

Pengertian sejarah menurut Moh. Hatta adalah dalam wujudnya tentang masa lampau. Sejarah bukan sekadar melahirkan kriteria dari kejadian di masa lalu, tetapi pemahaman masa lampau yang mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematik pelajaran bagi manusia berikutnya.

19. Moh. Ali

Pengertian sejarah menurut Moh. Ali adalah sejarah merupakan keseluruhan perubahan dan kejadian-kejadian yang benar-benar telah terjadi. Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perubahan-perubahan yang benar-benar terjadi di masa lampau.

20. Muhammad Yamin

Pengertian sejarah menurut Muhammad Yamin adalah ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

21. Kuntowijoyo

Pengertian sejarah menurut Kuntowijoyo adalah hal-hal yang menyuguhkan fakta secara diakronis, ideografis, unik, dan empiris.

  • Sejarah bersifat diakronis karena berhubungan dengan waktu.
  • Sejarah bersifat ideografis karena sejarah menggambarkan dan menceritakan sesuatu.
  • Sejarah bersifat unik karena berisi hasil penelitian tentang hal unik.
  • Sejarah bersifat empiris artinya sejarah bersandar pada pengalaman manusia yang sungguh-sungguh.

22. Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, pengertian sejarah adalah peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia sebagai makhluk bermasyarakat yang terjadi di masa lampau.

23. Rochiati Wiriatmaja

Pengertian sejarah menurut Rochiati Wiriatmadja bahwa sejarah adalah disiplin ilmu yang menjanjikan etika, moral, kebijaksanaan, nilai-nilai spritual dan kultural karena kajiannya yang bersifat memberikan pedoman kepada keseimbangan hidup, harmoni dalam nilai-nilai, keteladanan dalam keberhasilan dan kegagalan dan cerminan pengalaman kolektif yang menjadi kompas untuk kehidupan masa depan.

24. Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, pengertian sejarah adalah peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia sebagai makhluk bermasyarakat yang terjadi di masa lampau.

25. Taufik Abdullah

Pengertian sejarah menurut Taufik Abdullah adalah tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu di masa lampau yang dilakukan di tempat tertentu.

26. Sartono Kartodirdjo

Pengertian sejarah menurut Sartono Kartodirdjo merupakan bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lalu, dan untuk mengungkapnya dapat melalui aktualisasi dan penetasan pengalaman masa lalu. Menceritakan suatu kejadian adalah cara membuat hadirnya kembali peristiwa tersebut dengan cara pengungkapan verbal.

Kesimpulan


Arti kata sejarah adalah syajaratun yang berarti pohon kayu. Pengertian sejarah secara umum adalah kejadian atau peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau berdasarkan bukti-bukti sejarah. Sedangkan pengertian sejarah menurut para ahli sendiri terdapat perbedaan, bahkan sepertinya mereka berbeda-beda dalam mendefinisikan sejarah, namun secara umum tidak lepas dari masa lampau yang terjadi pada masyarakat.

Artikel Terkait:
Sejarah Sebagai Peristiwa, Seni, Ilmu, dan Kisah Beserta Contohnya
Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah dalam Penelitian Sejarah
4 Ruang Lingkup Sejarah LENGKAP Ciri-Ciri dan Contohnya

Pengertian Sejarah: Secara Umum, Bahasa, dan Menurut Para Ahli

Apa yang dimaksud dengan kaum Muhajirin dan kaum Anshar? Tentu sebagian orang akan mempertanyakan kedua istilah tersebut karena sebagai umat Islam kita perlu mengetahui sejarah Islam pada masa Nabi. Jawaban pertanyaan tersebut berada pada pengertian dari kedua istilah tersebut.

Pengertian kaum Muhajirin adalah umat Islam yang hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) untuk menghindari penindasan orang-orang Mekkah yang menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Kata "muhajirin" sendiri berasal dari Bahasa Arab yang artinya "orang-orang yang berhijrah", namun dalam pembahasan ini khusus untuk penduduk Mekkah yang memeluk agama Islam dan hijrah ke Madinah.

Maka ketika ditanya apa yang dimaksud dengan kaum Muhajirin? Anda dapat menjawab, kaum Muhajirin adalah Umat Islam yang hijrah meninggalkan Mekkah dalam rangka menjaga keimanan dan menyelamatkan diri dari penindasan penduduk Mekkah yang menentang dakwah Rasul Muhammad SAW.

Pengertian kaum Anshar adalah orang-orang yang menolong dan menerima kaum Muhajirin ketika sampai di Madinah. Kata "anshar" berasal dari Bahasa Arab yang berarti "penolong". Maka ketika kaum Muslimin Mekkah pindah ke Madinah, orang-orang yang menolong dan menerima mereka adalah penduduk Madinah.

Saat itu, tidak semua masyarakat Madinah beragama Islam, namun mereka tetap disebut dengan kaum Anshar karena walaupun non Muslim, mereka tetap yang menolong kaum Muhajirin yang pindah di kota Madinah. Namun, pendapat yang kuat adalah kaum Muslimin penduduk Madinah yang menolong Muhajirin.

Jadi, kaum Muslimin yang hijrah dari Mekkah ke Madinah disebut dengan kaum Muhajirin, sedangkan kaum Muslimin Madinah yang menolong kaum Muhajirin disebut kaum Anshar.

Kaum Anshar menerima kaum Muhajirin dengan senang hati dan sangat gembira. Apa lagi ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah. Sambutan mereka sangat luar biasa, baik muslim maupun non Muslim penduduk Madinah sangat antusias dengan kedatangan Rasul Muhammad. Bahkan masyarakat Madinah berlomba-lomba menghiasi rumah dengan indah agar Nabi mau berkunjung dan menginap di rumah mereka.

Langkah pertama dakwah Nabi Muhammad saat di Madinah adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar yang telah telah memeluk agama Islam. Dengan begitu, kaum Muslim Mekkah tidak akan merasa asing di Madinah. Dan dengan terbentuknya tali persaudaraan di antara kaum Muhajirin dan Anshar, maka persatuan mereka akan sangat erat.

kaum muhajirin dan kaum anshar


Kaum Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan hidup dengan rukun dan saling menghormati. Meraka membentuk masyarakat yang kokoh untuk mendukung Nabi Muhammad dalam rangka menyebarkan agama Islam. Oleh sebab itu, perjuangan kedua kaum tersebut sangat berarti bagi umat Muslim.

Betapa indahnya ketika kaum Muhajirin di sambut hangat oleh kaum Anshar di Madinah. Mereka seperti kawan dekat yang telah berpisah dan bertemu lagi. Pelukan demi pelukan terbentuk di antara mereka, menyambut kedatangan saudara seiman. Apa lagi ketika Nabi Muhammad SAW yang ditemani oleh Abu Bakar dan Ali tiba di Madinah, syair Thala'al Badru 'alaina berkumandang, Nabi menunggang untanya dengan gagah dan penuh wibawa. Penduduk Madinah menyambutnya dengan sangat gembira, Bahkan mereka merasa sangat beruntung jika rumah mereka disinggahi Nabi.

Masa hijrah kaum Muhajirin terhitung sejak tahun 7 Sebelum Hijriah (613 M) sampai Fakhul Mekkah pada tahun 8 H (629 M). Setelah penaklukan Mekkah, mereka yang hijrah ke Madinah tidak lagi disebut dengan kaum Muhajirin, karena tujuan dari hijarahnya mereka adalah untuk menghindari penindasan kaum Kafir Quraisy.

Kaum Muhajirin meninggalkan tanah kelahiran mereka, termasuk rumah, harta, dan keluarga demi mempertahankan iman. Mereka hijrah karena telah mendapat tekanan dan ancaman dari kaum kafir Mekkah. Mereka menggunakan cara apapun agar kaum Muslimin mau kembali pada kepercayaan nenek moyang mereka yakni menyembah berhala dan keluar dari ajaran Islam.

Dalam sejarah islam, kaum Muslimin melakukan hijrah sebanyak dua kali. Hijrah yang pertama ke Habsyi yang terjadi pada tahun 615 M dan hijrah kedua dari Mekkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M.

Sebab-Sebab Kaum Muslimin Hijrah Ke Madinah

  1. Karena penyiksaan dan tekanan kaum Musyrikin Mekkah.
  2. Untuk menjaga iman, jiwa dan raga mereka
  3. Perintah Allah SWT melalui malaikat Jibril
  4. Penduduk Madinah menerima Islam dengan baik


Perbedaan kaum muhajirin dan anshra adalah Kaum Muhajirin merupakan kaum Muslimin yang berasal dari Mekkah kemudian hijrah ke Madinah, sedangkan kaum Anshar adalah umat Islam yang telah menolong dan menerima kaum Muhajirin ketika hijrah di Madinah. Intinya, umat Islam penduduk Mekkah yang Hijrah ke Madinah adalah kaum Muhajirin dan umat Islam penduduk Madinah yang menerima dan menolong kaum Muhajirin adalah kaum Anshar.

Pengertian dan Kisah Kaum Muhajirin dan Anshar Yang Dipersaudarakan Oleh Rasulullah SAW

Muawiyah bin Abu Sufyan adalah pendiri Dinasti Umayyah dan resmi menjadi khalifah pada tahun 661 M. Ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus saudara tiri Ummu Habibah Ramlah, salah satu istri Rasulullah SAW. Sebenarnya, Utsman bin Affan merupakan khalifah pertama dari Bani Umayyah, namun Muawiyah adalah khalifah yang menjadikan Umyyah sebagai dinasti di kekhalifahan.

muawiyah bin abu sufyan


Muawiyah juga dikenal sebagai khalifah pertama dari Bani Umayyah yang berasal dari garis keturunan Abu Sufyan bin Harb. Nama lengkap Muawiyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Umyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia memeiliki nama julukan yaitu, Abdurrahman dan al-Quraisyi al-Umawi al-Makki.

Pada masa pemerintahan Khalifah bin Abu Sufyan pusat pemerintahan atau ibu kota telah dipindahkan dari Madinah ke Damaskus. Ia juga telah melanjutkan perluasan wilayah yang telah dilakukan oleh khalifah-khalifah sebelumnya. Disamping itu, Muawiyah juga mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan menetapkan aturan kiriman pos.

Muawiyah mneninggal pada 22 Rajab tahun 60 H. Menjelang wafatnya, ia mengangkat putranya yang bernama Yazid menjadi putra mahkota untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya. Pada tahun 681 Yazid telah resmi menjadi khalifah. Itu berarti menandakan berakhirnya masa kepemimpinan Muawiyah.

Ciri-Ciri Fisik Muawiyah bin Abu Sufyan
Muawiyah memiliki fisik berbadan tinggi dan kulit yang putih. Wajahnya tampan serta memiliki aura wibawa yang kuat. Umar bin Khattab pernah berkata bahwa Muawiyah menyukai makanan yang lezat dan bergaya seperti raja. Wajar saja jika Muawiyah seperti itu, karena ia berasal dari kabilah terpandang. Selain itu, Umar berkata demikian bukan bermaksud mengejek Muawiyah, akan tetapi hanya memberi informasi saja bahwa Muawiyah memiliki ciri seperti itu.

Memeluk Agama Islam
Pendapat yang sudah mashur dikalangan umat Islam bahwa Muawiyah masuk Islam pada masa Fatkhul Makkah (Penaklukan Mekkah). Akan tetapi Muawiyah pernah berkata bahwa ia masuk Islam sebelum Penaklukan Mekkah, tepatnya dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 Hijriah.

Beliau menyembunyikan keimanannya karena pada masa itu Muawiyah dalam posisi yang sangat sulit. Mengingat ayahnya (Abu Sufyan) belum masuk Islam, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy yang menentang Nabi Muhammad SAW.

Keturunan Muawiyah
Muawiyah memiliki beberapa anak baik putra maupun putri. Berikut nama-nama anak Muawiyah:

  1. Yazid bin Muawiyah
  2. Abdurrahman bin Muawiyah
  3. Abdullah bin Muawiyah
  4. Ramlah binti Muawiyah
  5. Hindun binti Muawiyah
  6. Aisyah binti Muawiyah
  7. Atikah binti Muawiyah
  8. Shafiyyah binti Muawiyah


Ketengan: "bin" berarti anak laik-laki dan "binti" berarti anak perempuan.

Semasa hidupnya, Muawiyah memiliki beberapa istri. Nama-nama istri Muawiyah adalah Maisun binti al Kalbiyah, Fakhitah binti Qarazhah, Kanud binti Qarazhah, dan Na'ilah binti Imarah.


Sekilas Biografi Muawiyyah bin Abu Sofyan;
Nama: Muawiyah bin Abdu Sufyan
Lahir: pada tahun 602 M di Mekkah, Jazirah Arab
Wafat: 22 Rajab tahun 60 H (26 April 680 M) di Damaskus, Syria
Usia: 77 Tahun
Ayah: Abu Sufyan bin Harb
Ibu Hindun binti Utbah
Berkuasa: selama 20 tahun dari 661-680 M

Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Sebagai khalifah pertama dari Bani Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan memiliki karier yang gemilang dalam kancah politik dan sebagai pemimpin. Selain menjabat sebagai gubernur, ia juga ditunjuk sebagai pemimpin pasukan untuk memperluas kekuasaan Islam.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, Muawiyah pernah ikut pertempuran dalam Perang Yamamah, yaitu peperangan melawan Musailamah al Kadzab (nabi palsu). Setelah permasalahan internal (pemberontakan) selesai, Abu Bakar mengirim pasukan ke beberapa daerah, salah satunya negeri Syam. Dalam pasukan tersebut, terdapat satu divisi pasukan yang dipimpin oleh Muawiyah.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, ia pernah ditunjuk sebagai gubernur Syria pada tahun 639. Membentuk angkatan laut Muslim yang pertama kalinya adalah salah satu bukti bahwa ia merupakan gubernur yang cakap dan cerdas. Namun pada masa Khalifah Umar, pasukan angkatan laut belum boleh digunakan karena orang Arab pada saat itu belum begitu akrab dengan lautan. Sehingga, pada masa Utsman bin Affan angkatan laut baru dipergunakan.

Selain menjadi gubernur di masa khalifah Umar, Muawiyah juga pernah ditugaskan untuk membebaskan kota Qaisariyah (Palestina) yang memiliki benteng pertahanan dan pasukan yang kuat. Kegigihannya dalam memimpin pasukan dan berjihad membuat benteng tersebut dapat di tembus dan berhasil menguasainya. Dikisahkan pengepungan kota Qaisariyah memakan waktu hingga 1 bulan.

muawiyah bin abu sufyan
Ilustrasi Muawiyah Memimpin Pasukan

Kedua peristiwa tersebut membuat Muawiyah ditunjuk sebagai gubernur Yordania pada 17 H. Yazid bin Abu Sufyan kemudian meninggal pada tahun 18 H karena penyakit Tha'un. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Khalifah Umar menunjuknya untuk menggantikan posisi Yazid memimpin Damaskus dan Yordania (Ba'labakm dan Balqa).

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Muawiyah adalah seorang gubernur yang paling berpengaruh dan menguasai mayoritas negeri Syam. Meninggalnya dua gubernur Syam membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya yang meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria.

Ia banyak melakukan perluasan wilayah ke beberapa daerah perbatasan Syam, sehingga beberapa daerah berhasil dikuasai. Pada tahun 32 H, Cyprus (Qubrush) telah menginkari perjanjian karena Bizantium. Ia pun kembali berhasil merebut Cyprus dari kekuasaan Bizantium yang semena-mena terhadap negeri jajahannya. Setelah menguasai Cyprus Muawiyah membangun kota-kota baru dan memperbaiki keadaan ekonomi masyarakatnya.

Muawiyah Pada Masa Ali bin Abi Thalib

Sebenarnya Muawiyah sangat menghormati dan mengakui Khalifah Ali bin Abi Thalib karena keutamaanya. Namun karena terdapat perbedaan pendapat tentang hukuman terhadap pelaku pembunuhan Khalifah Utsman, Muawiyah tidak mau baiat terhadap Ali.

Karena situasi dan kondisi yang sangat pelik terjadilah Perang Shiffain antara pihak Ali dan Muawiyah. Kondisi carut-marut dalam tubuh Islam memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk membunuh Ali. Saat mendengar terbunuhnya Ali, sebenarnya Muawiyah sangat sedih karena ia menganggap dengan kematian Ali, maka banyak manusia kehilangan keutamaan, fikih, dan ilmu.

Setelah Khalifah Ali meninggal, kaum Muslimin sempat mengangkat Hasan bin Ali (cucu Nabi) sebagai pemimpin Umat Islam. Namun karena keadaan yang sangat pelik membuat Hasan menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah di Kuffah setelah enam bulan setelah pengangkatan.

muawiyah bin abu sufyan
Ilustrasi Masa Pemerintahan Muawiyah

Masa Pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan

Khalifah pertama bani Umayyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia telah memindahkan pusat pemerintahan ke Damakus karena ia telah menjadi gubernur selama 22 tahun di daerah tersebut. Selain itu, ia juga memiliki pendukung yang dapat diandalkan di sana. Muawiyah untuk pertama kalinya membentuk tim pengawal pribadi dengan alasan keamanan dirinya. Muawiyah juga memperkuat pemerintahan dengan mengembangkan armada angkatan laut yang memiliki 1.700 buah kapal.

Dalam peradaban Islam Khalifah Muawiyah berkuasa dari tahun 661 sampai 680 M. Semenjak berkuasa, Muawiyah memulai langkah-langkah untuk merubah sistem pemerintahan dari demokrasi ke sistem monarki. Ia memperkuat barisan militer dan memperluas kekuasaan administratif negara.

Pertama, ia berusaha menertibkan kebijakan militer dengan tetap mempertahankan panglima-panglima Arab yang memimpin pasukan kesukuan Arab. Selanjutnya ia berusaha meningkatkan pendapatan negara dari penghasilan pribadi dan lahan pertanian yang diambil alih dari Bizantium dan Sasania serta dari investasi pembukuan tanah baru dan irigasi.

Sejalan dengan perkembangan administrasi, kehidupan istana kekhilafahan juga teroganisir. Pegawai-pegawai administrasi, pejabat sekretaris raja, para pengawal dan juru tulis mengerumini raja sebagai mana yang telah diakukan oleh kalangan tokoh Arab sebelumnya.

Pos-pos penting dalam pemerintahan masih dijabat oleh tokoh Arab, tetapi aktifitas pemerintahan tidak lagi bergantung kepada dewan-dewan tokoh Arab, melainkan bergantung pada pejabat-pejabat profesional.

Sekalipun administrasi Umayyah bernuansa islami, namun inspirasi yang sebenarnya berasal dari praktek Bizantium dan Sasania. Organisasi kemiliteran Syria mengikuti kemiliteran Bizantium. Di Iraq pola organisasi administrasi menggunakan pola Sasania, yakni menjadi 4 bidang, Bidang Keuangan, bagian surat-menyurat, kemiliteran, dan bidang kedutaan.

Muawiyah Bin Abu Sufyan: Biografi dan Masa Pemerintahan

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah khalifah pertama yang menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad ketika Beliau SAW meninggal dunia. Menjadi khalifah dengan cara musyawarah di antara pemuka kaum Muhajirin dan Anshor membuatnya menanggung amanah yang sangat berat.

Kisah pengangkatan Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah, telah terjadi kontroversi di kalangan kaum muslimin. Pertama, kaum Syi'ah yang berpendapat bahwa, Ali bin Abi Thalib yang pantas untuk menggantikan Nabi sebagai pemimpin kaum muslimin. Kedua, kaum Sunni yang berpendapat bahwa, Nabi lebih mengutamakan musyawarah dan menolak untuk menunjuk pemimpin selanjutnya.

Musyawarah yang dilaksanakan oleh kaum Muhajirin dan Anshor juga sempat terjadi perbedaan pendapat. Golongan Muhajirin menganggap, pemimpin baru umat Islam harus diambil dari kaum Muhajirin, sedangkan golongan Anshor berpendapat bahwa, pemimpin baru kaum muslimin harus dari golongan Anshor.

Menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW, beliau menderita sakit yang cukup parah, sehingga memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat berjama'ah di masjid bersama sahabat yang lain. Ketika Nabi meninggal dunia, kondisi umat Islam sangat terguncang. Banyak kaum muslimin yang tidak percaya bahwa Nabi telah meninggal dan ada pula yang histeris karena sedih yang amat sangat mendalam.

Dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, mau tidak mau harus segera memilih pemimpin baru agar umat Islam tidak terpecah dan dapat menjaga kedaulatan Negara Islam yang berpusat di Madinah. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

Kisah Abu Bakar ash Shiddik


Kisah Abu Bakar ash Shiddiq Menjadi Khalifah

Kisah khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq di awali dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Saat itu kaum Muslimin sedang dalam keadaan terguncang karena kabar meninggalnya Nabi. Sebagian kaum muslimin tidak percaya bahwa, nabi telah wafat, sebagian yang lain dalam kondisi yang sangat sedih, sementara beberapa kaum muslimin juga ada yang amat sangat bingung karena telah ditinggal wafat Nabi.

Mereka bingung karena bagaimana umat Islam setelah Nabi meninggal dunia, serta siapa yang akan memimpin umat selanjutnya. Abu Bakar yang mendengar Nabi wafat langsung menuju rumah Rasulullah SAW. Ketika masuk ke dalam rumah Nabi, ia melihat bahwa Nabi sudah ditutup dengan kain burd hibara (buatan Yaman). Ia kemudian membuka penutup wajah Nabi dan menciumnya.

Dalam keadaan yang sangat mencekam dan histeris ini, tiba-tiba Abu Bakar keluar dari rumah Rasulullah dan berpidato dengan lantang. Isi pidato Abu Bakar Siddiq ketika Nabi Muhammad meninggal adalah: "Saudara-saudara, barang siapa yang menyembah Muhammad maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah maha hidup dan kekal".

Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah Q.S. Ali Imran: 144 yang artinya: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharad bagi Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur".

Mereka yang mendengarkan ayat yang telah dibacakan Abu Bakar menjadi sadar bahwa Nabi benar-benar wafat. Sahabat Umar bin Khattab yang tidak percaya bahwa Nabi Muhammad wafat akhirnya tersungkur. Kedua kakinya sudah tidak kuat menahan lagi setelah ia yakin bahwa nabi telah meninggal.

Musyawarah di Saqifah bani Saidah

Proses pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah berlangsung dengan dramatis. Kaum muslimin yang berada di Madinah berusaha untuk mencari pengganti Nabi sebagai pemimpin Umat Islam. Perdebatan antara kamu Anshar dan Muhajirin pun terjadi di Tsaqifah bani Saidah. Masing-masing pembesar kaum Anshar dan Muhajirin mengajukan argumen tentang siapa yang berhak untuk diangkat sebagai khalifah.

Para pembesar kaum Anshar mencalonkan seorang pemuka dari suku Khajraj yaitu, Said bin Ubaidillah untuk menggantikan Nabi sebagai khalifah. Kaum Muhajirin yaitu, Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah tdak tinggal diam dan menyampaikan pendapatnya bahwa, agar menetapkan pemimpin baru dari kalangan suku Quraisy.

Perdebatan mulai memanas. Abu Bakar lalu mengajukan dua calon khalifah ( Umar bin Khattab dan Ubaidah bin Zahrah ). Akan tetapi kedua tokoh tersebut menolak usulan Abu Bakar.

Umar yang melihat perdebatan semakin rumit langsung mengambil tindakan. Dengan suara lantang beliau membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Ubaidah pun mengikuti Umar dengan membaiat Abu bakar. Ternyata tindakan Umar yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah banyak yang setuju, sehingga proses baiat terhadap Abu Bakar terus berlanjut. Basyir bin Saad dan juga pengikutnya yang hadir dalam musyawarah juga ikut membaiatnya.

Abu Bakar yang telah diangkat oleh sebagian kaum Muslimin lalu menghampiri kaum Anshor yang hadir dalam majelis Saidah bani Tsaqifah. Ia mengatakan bahwa, kami adalah pemimpinnya dan kalian adalah para menterinya. Tindakan ini secara politik adalah untuk menghindari pertikaian antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Kisah Abu Bakar ash Shiddiq diangkat menjadi khalifah tidak hanya berakhir di situ saja.

Terdapat beberapa kaum muslimin yang tidak ikut membaiat Abu Bakar seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Salman al Fasisi, Khalid bin Said, Fadl bin al-Abbas, dan Ammah bin Yasir. Telah terjadi pertemuan antara kaum Anshar, Muhajirin, dan Ali bin Abi Thalib di rumah Fatimah. Meraka bermaksud membaiat Ali sebagai khalifah karena beranggapan bahwa beliau lebih patut menjadi khalifah karena berasal dari bani Hasyim.

Selama enam bulan, Ali bin Abi Thalib dan beberapa keluarganya tidak ikut mengucapkan sumpah setia kepada Abu Bakar. Nabi mempunyai beberapa potong tanah di Madinah dan di Khaibar. Putri Nabi (istri Ali) dan paman Nabi (Abbas) telah menuntut tanah tersebut. Tetapi Abu Bakar tidak menyetujuinya berdasarkan keterangan yang telah diucapkan oleh Rasulullah.

"Kami, Nabi-Nabi tidak dapat diwarisi", demikian ucapan Rasulullah. Apapun yang kami tinggalkan kemudian menjadi hak bersama (umat Islam). Fatimah tidak mengetahui apa yang telah diucapkan oleh ayahnya, sehingga menyebabkan terjadi salam paham.

Selama Fatimah sakit, Abu Bakar mengunjunginya dan menjelaskan permasalahan tersebut. Enam bulan setelah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, Fatimah, istri Ali meninggal dunia. Kondisi ini membuat Ali memutuskan datang menemui Abu Bakar untuk membicarakan masalah tanah.

Ali mendapatkan jawaban dari Abu Bakar yang membuat hatinya menjadi tenang. Kemudian Ali masuk ke dalam Masjid dan di hadapan orang banyak ia mengucapkan baiat sumpah setia kepada Abu Bakar.

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah selama 2 tahun 76 hari. Ia berkuasa dari tanggal 8 Juni tahun 632 M sampai 23 Agustus 634 M. Masa pemerintahan Abu Bakar banyak permasalahan dalam tubuh Islam, namun dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan ia telah meraih beberapa prestasi yang luar biasa.

Kaum Sunni dan Syi'ah

Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subjek kontroversi dan menjadi perpecahan pertama dalam islam, dimana umat terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Kaum Syi'ah percaya bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib karena telah ditunjuk oleh Nabi. Sedangkan kaum Sunni berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum Sunni berargumen bahwa Nabi mengedepankan musyawarah untuk memilih pemimpin.

Kisah Abu Bakar ash Shiddiq Diangkat Menjadi Khalifah Yang Pertama

Masa pemerintahan abu bakar ash shiddiq

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Khalifah pertama yang memimpin umat Islam setelah Rasulullah Muhammad Wafat  dari tahun 632 sampai 634 M. Lahir pada tanggal 27 Oktober tahun 573 M di Mekkah dan wafat pada tanggal 23 Agustus tahun 634 M di Madinah. Ia adalah salah satu sahabat utama Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin yang berkuasa selama 2 tahun 2 bulan.

Masa pemerintahan Abu Bakar yang hanya berlangsung selama 2 tahun dipergunakan oleh Abu Bakar dengan sangat baik. Selama kepemimpinannya masyarakat Arab di Bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuan yang pesat baik dalam bidang sosial, budaya, dan penegakan hukum. Masa pemerintahan Abu Abakar ash Shiddiq juga telah berhasil memperluas wilayah kekuasaan ke sebagian Jazirah Arab, Persia, hingga menaklukkan sebagian Bizantium.

Pengangkatan Abu Bakar Menjadi Khalifah

Peristiwa genting yang mengguncang Umat Islam telah membuat kaum Muslimin seperti terombang-ambing kebingungan. Berita tentang wafatnya Nabi Muhammad SAW telah tersebar di kalangan umat Islam. Keadaan yang sangat genting ini harus segera diadakan pengangkatan pemimpin baru yang dapat mengayomi masyarakat agar tidak terpecah belah.

Segera setelah Nabi meninggal dunia, dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar di Tsaqifah bani Saidah yang terletak di Madinah untuk memilih pemimpin baru. Dalam musyawarah tersebut telah terjadi perdebatan yang sangat alot, hingga pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai pemimpin baru dan menjadi Khalifah pertama umat Islam.

Sebelum terjadi mufakat dalam musyawarah tersebut, telah terjadi perbedaan pendapat antara kaum Muhairin dan Anshar. Mereka berselisih pendapat tentang siapa yang mengganti Nabi sebagai khalifah kaum muslimin. Pihak Muhajirin menghendaki bahwa golongan Muhajirinlah yang pantas untuk menjadi khalifah, sementara itu pihak Anshor berpendapat bahwa golongan Anshor yang pantas untuk dijadikan khalifah.

Mendengar kejadian itu, Abu Bakar mendatangi mereka dan menyodorkan dua kandidat calon khalifah yaitu; Umar bin Khattab dan Ubu Ubaidah bin Jarrah. Tidak disangka-sangka, Umar bin Khattab malah membai'at Abu Bakar sebagai khalifah. Mereka yang berselisih pendapat juga sepakat bahwa Abu Bakar adalah pemimpin kaum Muslimin selanjutnya.

Peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah telah menimbulkan perpecahan politik dalam tubuh Islam, dimana Umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Pada saat musyawarah Kaum Sunni berpendapat bahwa Nabi menolak untuk menunjuk penggantinya dan Nabi Muhammad mengedepankan musyawarah dalam memilih pemimpin, sedangkan Kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib yang menjadi pemimpin umat Islam dan ini adalah keputusan Rasulullah sendiri.

Terlepas dari kontroversi dan kebenaran dari masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya dan membai'at Abu Bakar sebagai pemimpin baru dan dua Khalifah setelahnya yaitu Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Sementara kaum Syi'ah berpendapat bahwa Ali melakukan bai'at secara pro formal setelah beberapa bulan kemudian tepatnya setelah Fatimah meninggal dunia.

Bai'at (Peresmian) Abu Bakar Sebagai Khalifah

Abu Bakar ash-Shiddiq diangkat menjadi khalifah pada tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi, setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Abu Bakar menjadi khalifah dengan cara musyawarah, yaitu antara kaum Muhajirin dan Anshor di Tsaqifah bani Saidah, Madinah.

Sebagai khalifah, Abu Bakar telah mengalami dua kali bai'at, pertama bai'at di Tsaqifah yang dikenal dengan Bai'at Hasanah dan yang ke dua di Masjid Nabawi yang dikenal dengan Bai'at 'Ammah. Bai'at yang terjadi di Tsaqifah merupakan bai'at yang dilakukan oleh pembesar kaum Muhajirin dan Anshor, sedangkan bai'at di Masjid Nabawi merupakan bai'at untuk umum atau masyarakat.

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah pertama


Menjadi Khalifah Pertama

Bai'at atau sumpah setia kepada khalifah baru yang dilaksanakan di Masjid Nabawi telah usai. Sebagai khalifah baru yang memimpin kaum muslimin Abu Bakar berdiri dan mengucapkan pidato. Pidato Abu Bakar setelah bai'at usai adalah sebagai berikut:

Aku telah kalian pilih sebagai khalifah (kepala negara), tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Karena itu, jika aku melakukan hal yang benar, maka ikutilah dan bantulah aku. Tetapi jika aku melakukan hal yang salah, perbaikilah, sebab menurut pendapatku menyatakan yang benar adalah amanah, membohongi rakyat adalah pengkhianatan.

Setelah Abu Bakar dibai'at dan resmi menjadi pemimpin umat Islam, muncul beberapa masalah yang mengancam persatuan stabilitas komunitas dan negara Islam. Pemberontakan terjadi di mana-mana yang dilakukan oleh orang-orang muslim. Beberapa suku Arab yang berasal dari Nejed dan Hijaz membangkang kepada khalifah dengan sistem yang ada. Beberapa ada juga yang menolak membayar Zakat meski tetap setia terhadap agama Islam.

Orang-orang yang telah memeluk Islam beberapa telah murtad dan kembali kepada ajaran nenek moyang untuk menyembah berhala. Mereka yang menimbulkan masalah mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen kepada Nabi Muhammad, dan dengan wafatnya Nabi maka komitmen tersebut tidak berlaku lagi.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar diwarnai dengan kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad yang kembali kepada ajaran nenek moyang dengan menyembah berhala, aktifnya orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi (nabi palsu), pemberontakan di beberapa kabilah Arab dan banyak yang ingkar membayar zakat.

Kemunculan orang-orang murtad disebabkan oleh keyakinan mereka terhadap ajaran Islam belum begitu mantap, sehingga meninggalnya Nabi Muhammad SAW dapat menggoyahkan iman mereka. Kemunculan nabi palsu sebenarnya juga terjadi pada masa Nabi Muhammad, tetapi kewibawaan Rasul Muhammad SAW telah menenggelamkan mereka, sehingga aktivitas nabi palsu tidak begitu terlihat.

Diantara nabi-nabi palsu yang terkenal adalah Musailamah al-Kadzab dari Bani Hanifah, Tulaihah bin Walid dari Bani As'ad Saj'ah, Tamimiyah dari Bani Yarbu, dan Aswad al-Ansi dari Yaman.

Pemberontakan kabilah disebabkan oleh anggapan bahwa, perjanjian damai yang mereka buat bersama Nabi SAW bersifat pribadi, sehingga dengan wafatnya Nabi, maka perjanjian tersebut telah usai. Sementara itu orang-orang yang enggan membayar zakat tergolong orang yang lemah imannya namun masih memeluk agama Islam.

Mengatasi Orang-Orang Murtad

Khalifah Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam segara mengambil tindakan tegas atas masalah yang timbul dikalangan umat. Ia menyatakan perang terhadap mereka. Peperangan tersebut dikenal dengan sebutan Perang Riddah, yaitu perang melawan kemurtadan. Dalam perang Riddah, pertempuran terbesar adalah melawan Musailamah al-Kadzab (Ibnu Habi al-Hanafi) yang menyatakan dirinya adalah nabi baru yang menggantikan Muhammad.

Pertempuran Riddah terjadi dengan begitu dahsyat. Abu Bakar memerintahkan panglima Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan Islam.  Pada akhir peperangan pasukan musuh berhasil ditumpas, sedangkan Musailamah sendiri terbunuh oleh al Wahsyi, seorang budak yang telah dibebaskan Hindun binti Abu Sofyan karena telah berhasil membunuh Hamzah (paman Nabi) dalam Perang Uhud.

Musailamah al-Kadzab adalah nabi palsu. Ia mengaku bahwa dirinya adalah nabi baru yang menggantikan Nabi Muhammad SAW. Padahal Allah telah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman, yaitu tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad. Oleh sebab itu Musailamah di juluki "al-Kadzab" yang artinya Pendusta.

Untuk menumpas aktivitas pemberontakan, Abu Bakar membentuk sebelas pasukan. Dari sebelas pasukan itu masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh, seperti Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Syurahbil bin Hasanah.

Perluasan Wilayah

Setelah menyelesaikan permasalahan internal secara penuh di kalangan umat Islam dan menumpas orang-orang yang murtad, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq memperluas wilayah kekuasaan. Khalid bin Walid pada tahun 633 M diperintah oleh Khalifah untuk melaksanakan kegiatan ekspansi di wilayah-wilayah perbatasan Syria dan Persia.

Khlid bin Walid kemudian mengirim surat kepada komandan pasukan Persia. Isi surat tersebut terdapat tiga poin penting, yaitu: Ajakan untuk memeluk Agama Islam, Kewajiban membayar pajak, dan siap untuk berperang. Humruz yang menjadi komandan pasukan Persia memilih untuk berperang melawan pasukan Islam.

Pertempuran antara pasukan Muslim dengan pasukan Persia disebut dengan Perang Rantai, karena pasukan Persia membuat barisan pertahanan dengan rantai-rantai besar yang mengikat mereka satu sama lainnya. Perang ini terjadi di Hafir, kurang lebih 50 mil sebelah utara Uballah.

Akhirnya pasukan Persia menyerah, sedangkan komandan mereka telah terbunuh. Setelah Perang Rantai selesai, juga terjadi sejumlah peperangan kecil. Pasukan Persia tersesak mundur dan terusir ke wilayah Mesopotamia.

Pasukan muslim juga telah berhasil mengepung dan menguasai wilayah Hira. Penguasa wilayah setempat menyerah dan mengadakan perdamaian dengan membayar sejumlah pajak. Khalid yang telah berhasil menguasai wilayah Hira kemudian bergerak ke arah Utara hingga sampai Ambar, yaitu sebuah wilayah yang berada di pesisir Pantai Euphrat.

Ekspedisi untuk membebaskan Syria juga telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Syria merupakan salah satu wilayah jajahan Romawi. Sejak jaman dahulu negeri Arab telah menjalin hubungan dagang dengan Syria.

peta ekspansi pada masa khalifah abu bakar
Peta Ekspansi (Image by: saripedia.wordpress.com)


Lembaga Keuangan dan Pengadilan

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum, Abu Bakar membentuk Baitul Mal (semacam lembaga keuangan) untuk menyimpan kas negara. Pengolahan kas negara diserahkan oleh seseorang yang dijuluki Amin al-Ummah oleh sahabat Nabi. Arti dari Amin al-Ummah adalah "dapat dipercaya oleh umat".

Kebijakan lain yang telah dilakukan oleh Abu Bakar tentang keuangan adalah membagi sama rata harta rampasan perang (ghanimah). Alasannya adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam akan mendapat pahala dari Allah SWT, maka biarlah di dunia mereka mendapat bagian yang sama.

Selain kebijakan dalam urusan keuangan, pada masa kepemimpinan Abu bakar juga didirikan lembaga pengadilan. Lembaga ini diketuai langsung oleh Khalifah. Jadi ketika ada permasalahan baik perdata maupun pidana, maka akan diserahkan kepada Abu Bakar.

Perkembangan Hukum

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, penetapan hukum terhadap suatu masalah telah mengalami perkembangan. Cara yang dilakukan Abu Bakar dalam menetapkan hukum ada beberapa metode. Mula-mula ia memecahkan masalah dengan al-Qur'an sebagai sumbernya. Ketika permasalahan tidak terpecahkan, maka ia cari dalam Sunnah Rasulullah (Hadits). Bila permasalahan tidak kunjung terpecahkan, Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat Nabi.

Dalam musyawarah tersebut para sahabat duduk dalam satu majelis dan melakukan ijtihad bersama (ijtihad kolektif). Maka timbullah keputusan bersama yang disebut dengan Ijma' sabahat dalam masalah tertentu.

Mengumpulkan al-Qur'an

Sejumlah Hafidz al-Qur'an (orang-orang yang hafal al-Qur'an) telah banyak yang gugur dalam perang Yamamah, sehingga Abu Bakar khawatir terhadap al-Aqur'an. Maka dari itu, Abu Bakar membentuk tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabid untuk mengumpulkan seluruh al-Qur'an yang masih berupa lembaran-lembaran untuk dijadikan dalam satu mushaf.

Kodifikasi al-Qur'an yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar belum selesai, karena Khalifah telah wafat. Sehingga pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, pengumpulan dan penulisan mushaf baru usai.

Khalifah Abu Bakar Wafat

Abu Bakar wafat pada tanggal 23 Agustus tahun 634 M (21 Jumadil Akhir 13 H). Beliau dikebumikan di Masjid Nabawi, Madinah, dekat dengan makam Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar wafat pada usia 61 tahun karena sakit yang telah dideritanya.

Kematian Abu Bakar tersebar di kalangan umat Islam, membuat para sahabat sedih berlinang air mata. Kejadian untuk memilih pemimpin baru bagi umat Islam terulang kembali. Utsman bin Khattab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar sebagai Khalifah yang selanjutnya.

Prestasi

Selama menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar telah berhasil meraih beberapa prestasi. Paling tidak ada beberapa prestasi Abu Bakar ash-Shiddiq yang dapat kami sebutkan, yaitu;

  • Berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga menaklukan dua negara adijaya (Persia dan Bizantium)
  • Berhasil menumpas pemberontakan dan kemurtadan
  • Membangun lembaga keuangan dan lembaga pengadilan
  • Mengembangkan cara penetapan hukum melalui ijtihat sahabat
  • Kodifikasi atau mengumpulkan al-Qur'an walaupun belum usai.


Kesimpulan

Abu Bakar ash Shiddiq menjadi khalifah selama 2 tahun 76 hari, dari tanggal 8 Juni 632 sanpai 23 Agustus 634 M. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah dengan cara musyawarah yang dilaksanakan di Tsaqifah bani Saidah. Musyawarah yang laksanakan dalam memilih pemimpin baru telah menimbulkan perpecahan politik, yaitu antara kaum Sunni dan Syi'ah.

Ketika menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar telah meraih banyak prestasi antara lain, meperluas wilayah kekuasaan dan menaklukan negara adijaya yaitu, sebagian daerah Bizantium dan Persia. membangun lembaga keuangan (Baitul Mal) dan lembaga pengadilan, menumpas pemberontakan dan nabi palsu. Abu Bakar wafat di usia 61 tahun karena sakit yang ia derita.

Masa Pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Prestasinya

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib (dalam tulisan Arab = علي بن أﺑﻲ طالب) adalah khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan dan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang menyandang gelar Khulafaur Raysidin. Lahir pada 15 September 601 atau 13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah. Ia merupakan sepupu Nabi serta menjadi menantunya setelah menikahi salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Memeluk agama Islam pada masa awal dakwah Rasul Muhammad SAW, membuatnya termasuk golongan pemeluk Islam awal.

Julukan Ali bin Abi Thalib adalah Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Sibthain, Abu Raihanatain, dan Abu Turab. Di antara beberapa nama julukan tersebut, Ali paling menyukai Abu Turab sebagai julukannya, karena Nabi Muhammad SAW sendiri yang memberikan julukan tersebut. Turab artinya debu. Ketika Nabi mencari menantunya Ali, ternyata ia sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu menempel di punggung Ali. Kemudian Nabi duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "duduklah Abu Turab".

Nama lengkap Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab. Ayah Ali bernama Abu Thalib, salah satu paman Nabi yang berjasa mengasuh Muhammad SAW dari kecil hingga dewasa, ketika Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Ali mengikuti semua peperangan melawan kafir Quraisy, kecuali Perang Tabuk.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tahun 656 setelah Khalifah Utsman wafat dan berakhir pada tahun 661. Ia berkuasa selama 4 tahun, 223 hari dari 20 Juni 656 hingga 29 Januari 661. Masa kekuasaan Ali merupakan salah satu periode tersulit dalam sejarah Islam, karena pada saat itu telah terjadi perang saudara yang pertama dalam tubuh umat Islam yang mengakibatkan pembunuhan khalifah ke tiga Utsman bin Affan.

Biografi Ali bin Abi Thalib

Biografi Singkat Ali bin Abi Thalib

Nama Panggilan: Ali
Nama Asli: Asad bin Abu Thalib
Nama Lengkap: Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab
Julukan: Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Shibthain, Abu Rahainatain, dan Abu Turab.
Gelar: Khulafaur Rasyidin
Lahir: 15 September, 601 (13 Rajab, 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Ka'bah, Mekkah
Wafat: 29 Januari 661 (21 Ramadhan, 40 H) di Kuffah pada usia 59 tahun
Pemakaman: Sekitar Masjid Imam Ali
Suku: Quraisy dari golongan Bani Hasyim
Berkuasa: 20 Juli 656 sampai 29 Januari 661 (4 tahun, 223 hari)
Ayah: Abu Thalib
Ibu: Fatimah binti Asad
Pasangan: Fathimah binti Muhammad, Umamah binti Sainab, Fathimah binti Hizam, Laila binti Mas'ud, Asma binti 'Umaiys, Khaulah binti Ja'far, dan as-Sahba' binti Rabi'ah
Anak: Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, Muhsin, Muhammad, 'Abbas, Abdullah, Hilal

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Sejarah Singkat Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Riwayat Hidup di Masa Nabi

Ali bin Abi Thalib lahir pada 15 September 601 M  (13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Mekkah. Ayah Ali bernama Abu Thalib, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Asad. Abu Thalib merupakan paman Nabi Muhammad SAW yang mengasuh beliau ketika masih kecil dan ikut melindungi Nabi ketika ditekan oleh Kafir Mekkah. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi. Walaupun Abu Thalib tidak menyatakan Imannya ke pada Nabi, akan tetapi dalam hatinya mempercayai dan meyakini bahwa ajaran Nabi itu benar.

Masa Kecil Hingga Remaja

Ali dari lahir diberi nama Assad bin Abu Thalib. Assad artinya adalah macan, yang berarti dari pihak keluarga ingin bahwa kelak Ali menjadi sosok yang pemberani, tangguh dan disegani oleh masyarakat. Namun, Abu Thalib yang baru mengetahui bahwa anaknya diberi nama Assad, ayahnya memanggil dengan nama Ali, yang berarti luhur derajatnya.

Masa kecil Ali bin Abi Thalib telah banyak dihabiskan bersama Nabi dan Isrinya Khadijah. Karena keluarga Ali sangat sibuk, maka hal tersebut memberi kesempatan Nabi dan Khadijah untuk mengasuhnya. Ali bin Abi Thalib diasuh oleh Nabi saat berusia enam tahun.

Kehadiran Ali di tengah-tengah keluarga Nabi menjadi kebahagiaan tersendiri, bahkan ia dianggap sebagai anak oleh Nabi. Bergabungnya Ali dalam keluarga Nabi juga memberikan kesempatan untuk membalas budi kepada pamannya, karena Nabi juga pernah diasuh oleh Ayahnya Ali.

Maka akan menjadi masuk akal, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda "Aku (Nabi) adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya", karena sejak kecil hingga remaja Ali sudah bersama Nabi. Ditambah lagi ia telah menjadi menantu Nabi ketika telah menikah dengan salah satu putrinya yang bernama Fatimah binti Muhammad. Maka Ali lebih banyak memiliki kesempatan untuk selalu dekat dengan Nabi dan menerima pelajaran-pelajaran lebih dari sahabat-sahabat lainnya.

Pada usianya yang remaja, Nabi Muhammad SAW telah menerima wahyu, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa, Ali adalah laki-laki yang pertama kali mempercayai wahyu tersebut atau bisa dikatakan bahwa Ali adalah orang kedua yang percaya setelah Khadijah, istri Nabi. Diceritakan bahwa, pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Masa remaja Ali bin Abi Thalib, setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, ia banyak belajar langsung dari Nabi, karena sebagai anak asuh ia berkesempatan untuk selalu dekat dengan Beliau. Didikan langsung dari Nabi dalam semua aspek, menjadikan Ali sebagai pemuda yang sangat cerdas, berani, dan bijak.

Baca Juga: Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

Berjuang Membantu Nabi Untuk Hijrah Ke Madinah

Setelah beberapa lama masuk Islam, perintah untuk hijrah ke Madinah pun turun. Kaum Muslimin kemudian berbondong-bondong hijrah ke Madinah dan dibagi menjadi tiga ronde. Sebagian besar para sahabat Nabi akhirnya sudah hijrah dan kini tinggal Nabi Muhammad dan beberapa sahabat yang masih di Mekkah, termasuk Ali bin Abi Thalib.

Hal ini dilakukan karena jika Nabi berangkat ke Madinah bersama dengan kaum Muslimin yang lainnya, maka kaum kafir Quraisy akan menghalangi kaum Muslim lainnya. Oleh sebab itu, selain menunggu perintah dari Allah SWT, Nabi tetap tinggal di Mekkah agar kaum Muslimin tidak dihalang-halangi oleh pembesar Quraisy untuk hijrah ke Madinah.

Kini hanya Nabi, Abu Bakar ash-Shidiq, dan Ali bin Abi Thalib yang berada di Mekkah. Perintah untuk segara hijrah ke Madinah khusus bagi Nabi Muhammad akhirnya turun.

Ali saat itu masih menemani Nabi di kediamannya, sementara itu Abu Bakar berada di rumahnya sendiri. Setelah malam tiba, Nabi menuju rumah Abu Bakar secara diam-diam agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy, karena rumahnya sedang dikepung.

Ali yang malam itu menemani Nabi tetap berada di kediaman Nabi dan tidur di dalam kamarnya. Hal ini dilakukan untuk mengecoh orang-orang yang sedang mengepung rumah Nabi Muhammad. Maka ketika para kaum Quraisy mengintip ke dalam kamar Nabi, ia masih melihat bahwa Nabi masih tidur di dalam rumahnya, padahal yang mereka lihat adalah Ali bin Abi Thalib.

Seolah-olah Nabi mengorbankan Ali demi keselamatannya sendiri, akan tetapi sebenarnya Ali yang menawarkan diri untuk melindungi Nabi dengan cara seperti itu. Ia rela mengorbankan jiwanya demi Nabi Muhammad karena cintanya yang amat luar biasa.

Menjelang pagi orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Ali yang sedang tidur di dalam rumah Nabi. Mereka terkecoh, karena selama ini mereka mengira bahwa Nabi yang sedang tidur di dalam rumah. Padahal Nabi sudah berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur untuk sementara waktu.

Itulah mengapa Ali menjadi salah satu sahabat utama Nabi, karena ia rela mengorbankan jiwanya demi tegaknya Islam. Iman yang kuat dan saking cintanya terhadap Nabi, membuat Ai rela mengorbankan jiwa tanpa rasa takut. Sejarah tersebut merupakan salah satu peristiwa yang amat penting, karena dapat dijadikan suri tauladan yang baik bagi kaum Muslimin.

Baca Juga: Fathul Mekkah dan Faktor Kemenangan Pembebasan Kota Mekkah

Menetap di Madinah

Setelah hijrah ke Madinah Ali bin Abi Thalib berjuang bersama Nabi Muhammad SAW dan sahabat yang lainnya untuk menegakkan Agama Islam. Selanjutnya, ia menikah dengan salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Tertulis dalam sejarah, bahwa Ali tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup. Sebagian besar peperangan melawan orang-orang yang memusuhi Nabi telah juga telah ia ikuti.

Peperangan yang telah diikuti Ali bin Abi Thalib antara lain, Perang Badar, Perang Khandak, dan Perang Khaibar.

Beberapa saat setelah menikah dengan salah satu putri Nabi terjadilah perang yang pertama dalam sejarah Islam yaitu, Perang Badar. Selain Hamzah (paman Nabi), Ali juga menjadi pahlawan, karena banyak Quraisy Mekkah yang tumbang oleh Ali. Dalam Perang Khandaq Ali juga telah menjadi sosok yang pemberani. Ia dapat menewaskan Amar bi Abdi Wud dalam satu tebasan.

Perjanjian Hudaibyah yang telah disepakati oleh Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi telah dikhianati oleh orang-orang Yahudi, maka terjadilah Perang Khaibar. Kaum Yahudi yang bertahan di dalam Benteng Khaibar yang sangat kokoh. Para sahabat kesulitan untuk menembus benteng tersebut. Namun, Ali bin Abi Thalib dengan gagah berani mampu merangsak dan menembus benteng tersebut, serta dapat membunuh pasukan Yahudi yang dikenal pemberani dalam sekali tebas.

Sekian lama Ali berjuang bersama Nabi, tentu banyak sekali waktu yang telah ia lewatkan bersama Nabi Muhammad SAW. Apa lagi selain menjadi sepupu Nabi, ia juga menjadi menantunya. Hingga pada suatu hari Nabi Muhammad SAW wafat.

Khalifah Ali bin Abi Thalib

Menjadi Khalifah

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tanggal 20 Juni 656 sampai 29 Januari 661 kurang lebih selama 4 tahun 223 hari. Menjelang pengangkatan Ali menjadi khalifah, situasi politik sangat genting karena terbunuhnya khalifah sebelumnya, yaitu Utsman bin Affan. Dalam kekacauan tersebut, Abn Harb memegang kendali terhadap keamanan di Madinah sampai terpilihnya khalifah yang baru.

Setelah terbunuhnya Utman, maka segeralah kaum Muslimin meminta Ali untuk menggantikan khalifah sebelumnya. Mereka beranggapan, bahwa tidak ada orang yang patut untuk menjadi khalifah kecuali Ali.

Beliau sempat menolak untuk menjadi khalifah, namun akhirnya ia menerima tanggungjawab tersebut. Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dengan cara tidak seperti khalifah Abu Bakar dan Umar, sebab hanya orang-orang yang pro terhadap Ali saja yang melakukan bai'at. Ali diangkat menjadi khalifah pada hari Jumat, 13 Zulhijjah tahun 35 Hijriah.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah yang ke empat setelah Utsman bin Affan. tindakan Ali setelah resmi diangkat menjadi khalifah adalah memecat semua gubernur yang telah diangkat oleh khalifah Utsman dan mengangkat pejabat-pejabat baru. Lahan pertanian yang telah dibagikan pada masa Utsman ditarik kembali. Ia juga menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap para pejabat agar tidak terjadi penyelewengan.

Akan tetapi kebijakan atas pemecatan dan pengangkatan para pejabat menimbulkan pro dan kontra di kalangan rakyat. Ada yang menolak dan ada yang menerima serta ada pula yang netral. Pada masa pemerintahan Ali juga telah berhasil melakukan perluasan wilayah setelah pemberontakan di Kabu dan Sistan ditumpas. Mendirikan benteng-benteng yang kuat di daerah utara perbatasan Paris juga telah berhasil dibangun.

Dalam pengendalian uang beliau mengikuti prinsip-prinsip yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar. Harta yang diambil dari rakyat termasuk pajak dikembalikan ke rakyat dan untuk keperluan rakyat. Sikap jujur dan adil yang telah diterapkan oleh Ali ternyata malah menimbulkan amarah bagi sebagian orang dan kemudian membuat berpihak kepada Muawiyyah.

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib kebijakan-kebijakan untuk memulihkan kestabilan politik dan situasi umat Islam tidaklah mudah, mengingat Muawiyah dan Thalhah menuntut agar kasus pembunuhan terhadap Utsman untuk segera diusut dan diselesaikan.

Akan tetapi tuntutan tersebut belum sempat untuk diselesaikan karena beberapa hal. Pertama, karena situasi yang tidak menguntungkan yaitu kondisi umat Islam yang sedang kacau dan tidak stabil. Hal ini membuat Ali harus mengembalikan kondisi panasnya politik menjadi stabil kembali. Kedua, Menghukum para pembunuh Utsman tidak lah mudah, mengingat bahwa orang yang membunuhnya tidak hanya satu orang saja.

Perang Jamal pun tidak dapat dihindari karena pihak Thalhah dan sekutunya sulit untuk diajak damai, sehingga membuat Thalhah dan Zuabair terbunuh, sedangkan Aisyah (istri Nabi) dikembalikan ke Madinah.

Muawiyah yang telah dipecat dari jabatannya tidak terima akan hal itu. Akibatnya terjadilah Perang Siffin antara pihak Ali dan Muawiyah. Ali sebenarnya tidak menginginkan terjadinya perang, namun Muawiyah sulit untuk diajak damai. Akibatnya terjadilah peperangan yang menelan banyak korban.

Dalam Perang Siffin di pihak Ali menunjukan tanda-tanda kemenangan, sedangkan di pihak Muawiyah berada di ujung tanduk akan mengalami kekalahan. Tiba-tiba dari pihak Muawiyah ada seseorang yang mengangkat al-Qur'an di atas tombak, menunjukan ingin mengadakan gencatan senjata (arbitrase/tahkim)

Banyak dari pihak Ali yang tidak setuju untuk melakukan gencatan senjata, karena hampir dapat dipastikan bahwa kemenangan ada di pihak Ali. Namun gencatan senjata tetap disetujui oleh Khalifah Ali sehingga dilakukan perundingan.

Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Musa al-Asy'ari sebagai wakil, sedangkan dari pihak Muawiyah mengutus Amr bin Ash untuk melakukan perundingan. Sungguh disayangkan perundingan politik yang telah dilakukan ternyata merugikan pihak Ali dan boleh dikatakan bahwa dalam perundingan tersebut pihak Ali yang kalah.

Peristiwa itu membuat sebagian orang keluar dari barisan Ali. Orang-orang yang keluar dari barisan Ali disebut dengan golongan Khawarij yang kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Ali.

Akhir Hayat Ali bin Abi Thalib

Akhir Hayat

Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 29 januari tahun 661 M (21 Ramadhan tahun 40 H). Pada tanggal 27 Ramadhan Ali diserang oleh seseorang dari golongan Khawarij. Ia ditikam dengan pedang yang telah dilumiri racun, sehingga dua hari kemudian Ali meninggal dunia. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib dilakukan pada saat sujud dalam shalat subuh, hari Jumat.

Pembunuh Ali bernama Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya Ali bin Abi Tahlib, ia berwasiat agar tidak menyerang orang Khawarij, apa bila Ali selamat dari tikaman itu, Abdrrahman akan diampuni, dan bila Ia meninggal maka Abdurrahman akan dihukum dengan tikaman yang sama.

Takdir yang tidak bisa terelakkan, pada 29 Januari tepatnya pada 21 Ramadhan Ali meninggal dunia. Hasan, putra Ali sekaligus cucu Nabi memenuhi wasiat ayahnya dengan memberikan hukuman yang sama atas wasiat tersebut.

Kesimpulan

Ali bin Abi Thalib merupakan sosok dan salah satu sahabat yang luar biasa. Ia mampu melaksanakan misi yang penuh dengan risiko tanpa rasa takut ketika Nabi berangkat ke Madinah. Ali diperintahkan untuk tidur di rumah Nabi untuk memperdaya kaum Quraisy yang ingin menghalangi Nabi untuk Hijrah.

Abi bin Abi Thalib menghabiskan masa kecilnya bersama dengan Rasulullah, karena sejak umur enam tahun ia telah diasuh oleh Nabi sehingga terbentuklah kecerdasan dan kebijaksanaan yang luhur. Tidak sampai disitu saja, ketika berada di Madinah, Ali menjadi menantu Nabi setelah menikahi Fatimah, salah satu putri Nabi.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada saat kondisi umat Islam sedang genting. Banyak pemberontakan dari kalangan Muslim untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Maka terjadilah peperangan yang disebut dengan perang Jamal dan perang Siffin. Walaupun Ali lebih memilih menghindari perang saudara, namun pertikaian tidak dapat dihindari.

Perang Siffin mengakibatkan terpecahnya umat Islam menjadi tiga golongan, yaitu orang yang setia terhadap Ali, orang yang membela Muawiyah, dan orang yang keluar dari barisan Ali.


Ali bin Abi Thalib: Biografi Singkat Dari Lahir Hingga Wafat

Subscribe Our Newsletter