Halaman

    Social Items

Ads 728x90

masa pendudukan jepang di indonesia

Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia


Bersamaan dengan pecah Perang Dunia 2 pada 1939-1945, Jepang melancarkan serangan ke Pangkalan Armada Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7 Desember 1941. Serangan mendadak tersebut dengan waktu singkat dapat memukul mundur pasukan Amerika Serikat pada 8 Desember 1941. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi Jepang untuk memasuki negara-negara di Asia.

Perang Asia Pasifik adalah sebutan untuk peperangan Jepang melawan Sekutu. Rentetan kemenangan yang dicapai oleh Jepang dalam perang Asia pasifik membuka pintu bagi mereka untuk menduduki tahan Hindia Belanda (Indonesia). Serangan-serangan itu seolah-olah tidak dapat dibendung. Kemenangan Jepang berhasil menghancurkan pasukan militer Sekutu di Thailand, Birma (Myanmar), Filipina, kemudian serangan Jepang juga akan dilancarkan ke Indonesia.

Serangan terhadap Indonesia bertujuan untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang seperti, minyak bumi, timah, dan alumunium. Sebab, persediaan minyak di Indonesia diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan Jepang selama Perang Pasifik.

Jepang masuk ke Indonesia harus melawan tentara Sekutu Belanda terlebih dahulu, karena sebelum Jepang datang ke Indonesia, bangsa Belanda sudah terlebih dahulu menguasai Tanah Air Indonesia.

Jepang Masuk ke Indonesia


Secara berurutan Jepang masuk ke Indonesia (Hindia Belanda) di awali dengan serangan di Tarakan, Kalimantan Timur (11 Januari 1942), Balikpapan (24 Januari 1942), Pontianak (29 Januari 1942), Samarinda (3 Februari 1942), dan Banjarmasin (10 Februari 1942). Setelah berhasil menguasai daerah-daerah luar Jawa, Jepang kemudian memusatkan serangan ke Pulau Jawa. Semua serangan Jepang terhadap daerah-daerah tersebut berhasil memukul mundur pasukan Sekutu khususnya pasukan pemerintahan Hindia Belanda.

Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus, yaitu di Teluk Banten,  Eretan Wetan, sebelah barat Cirebon (Jawa Barat), dan Kragan (Jawa Tengah). Setelah menguasai wilayah-wilayah tersebut, Belanda pada tanggal 5 Maret 1942 mengumumkan bahwa Batavia (Jakarta) sebagai kota terbuka. Artinya, sudah tidak lagi dipertahankan oleh Belanda.

Serangkaian serangan pasukan Jepang tidak mampu dibendung oleh Belanda, akhirnya pada tangga 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kali Jati, Subang, Jawa Barat. Sejak saat itulah Jepang secara penuh menguasai Indonesia. Penyerahan tanpa syarat tersebut ditandatangani oleh Letnan Jenderal Hithosi Imamura dari pihak Jepang dan Letnan Jenderal H. Ter Poorten dari pihak Belanda. Dengan demikian, bangsa Indonesia memasuki era baru, yaitu masa pendudukan Jepang.

Sebenarnya dalam menghadapi serangan tentara Jepang, pihak Sekutu sudah membentuk suatu komando gabungan yang disebut American Dutch Australian Command (ABDACOM). Markas besar komando gabungan ini terletak di Lembang, dekat Bandung. Panglima komando ABDACOM adalah Jenderal Sir Archibald Wavell. Sedangkan Letnan Jenderal H. Ter Poorten diangkat sebagai panglima tentara Hindia Belanda (KNIL).

Tujuan Jepang Menduduki Indonesia


Suatu negara menjajah bangsa lain tentu ada tujuan dan tanpa sebab. Tujuan utama pendudukan Jepang atas Indonesia adalah;

  1. Menjadikan Indonesia sebagai daerah penghasil dan penyuplai bahan mentah dan bahan bakar bagi kepentingan industri Jepang.
  2. Menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk mendapatkan tenaga buruh yang banyak dengan upah yang relatif murah.
  3. Menjadikan Indonesia sebagai tempat pemasaran hasil industri Jepang.
  4. Indonesia dijadikan tempat pemasaran hasil industri Jepang karena jumlah penduduk Indonesia sangat banyak.

Secara umum, Asia sangat potensial bagi kepentingan perindustrian Jepang. Selain memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah, Asia juga mempunyai penduduk yang sangat banyak.  Ketika Jepang mulai membangun industri di negaranya, kawasan Asia umumnya telah menjadi negara jajahan negara-negara Eropa. Dan Indonesia adalah salah satu negara yang di incar oleh Jepang.


Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang


Ambisi Jepang yang begitu besar untuk menguasai Indonesia mengharuskan Jepang menciptakan berbagai strategi untuk menarik simpati dari rakyat Indonesia. Propaganda Jepang pun dilancarkan dengan berbagai strategi, diantaranya:

  1. Jepang mengaku sebagai "saudara tua" bagi bangsa di Asia termasuk Indonesia dan berjanji membebaskan Asia dari penindasan bangsa Barat.
  2. Jepang memperkenalkan semboyan Gerakan 3A yaitu, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia.
  3. Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia, seperti janji menunaikan haji dan menjual barang dengan harga murah.


Selain itu, pada awal kedatangannya, Jepang menunjukkan sikap yang menarik simpati bangsa Indonesia. Jepang memperkenankan pengibaran bendera merah putih bersama bendera Jepang. Rakyat Indonesia boleh menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

Sambutan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang


Kedatangan Jepang di Indonesia pada awalnya disambut dengan senang hati olah rakyat Indonesia. Jepang dielu-elukan sebagai Saudara Tua yang dianggap dapat membebaskan bangsa Indonesia dari kekuasaan Belanda. Sementara itu, pihak Jepang terus melakukan propaganda-propaganda untuk terus menggerakkan dukungan rakyat Indonesia. Simpati dan dukungan rakyat nampaknya juga karena Jepang sangat membenci Belanda.

Sikap simpatik bangsa Indonesia terhadap Jepang antara lain juga dipengaruhi oleh kepercayaan ramalan Jayabaya yang terkenal dengan meramalkan akan datangnya orang kate yang akan berkuasa di Indonesia seumur jagung dan setelah itu dianggap sebagai suatu kemenangan bangsa-bangsa Asia atas Eropa yang sekaligus mengikis adanya anggapan bangsa Barat sebagai bangsa yang tak terkalahkan.

Tentara Jepang juga mempropaganda bahwa kedatangaan Jepang ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari penjajahan Bangsa Barat. Untuk meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan kembali bahwa Jepang adalah saudara tua, bahkan Jepang membentuk perkumpulan yang diberi nama Gerakan 3A.

Pembentukan Pemerintahan Jepang di Indonesia


Dengan menyerahnya Belanda kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, maka berakhirlah pemerintahan Belanda di Indonesia. Jepang pun mendirikan pemerintahan militer yang diperkuat dengan pemerintahan sipil. Dengan resmi ditegakkan pemerintahan Jepang, Indonesia memasuki periode baru, yaitu periode pendudukan Jepang.

Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia

Pada pertengahan tahun 1942 timbul pemikiran dari Markas Besar Tentara Jepang agar penduduk di daerah pendudukan dilibatkan dalam aktivitas pertahanan dan kemiliteran (termasuk semi militer). Oleh karena itu, pemerintah Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. Di seluruh Kepulauan Indonesia bekas Hindia Belanda itu wilayahnya dibagi menjadi tiga wilayah pemerintahan militer.

Adapun pembagian pemerintahan militer Jepang di Indonesia adalah

  1. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Keenam Belas (Asamu Shudan) untuk Jawa dan Madura. Pusatnya di Jakarta. Kekuatan pemerintah militer ini kemudian ditambah dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai).
  2. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Kedua Puluh Lima (Tomi Shudan) untuk Sumatra. Pusatnya di Bukittinggi.
  3. Pemerintahan militer Angkatan Laut, yaitu (Armada Selatan Kedua) untuk daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pusatnya di Makassar


Pemerintahan Sipil Jepang di Indonesia

Untuk mendukung kelancaran pemerintahan pendudukan Jepang yang bersifat militer, Jepang juga mengembangkan pemerintahan sipil. Pada bulan Agustus 1942, pemerintahan militer berusaha meningkatkan sistem pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU No. 27 tentang aturan pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan UU No. 28 tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi.

Dengan UU tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini, pemerintahan daerah yang tertinggi adalah shu (karesidenan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Yogyakarta dan Kochi Surakarta, dibagi menjadi daerah-daerah shu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 shu.

Kebijakan Pendudukan Jepang di Indonesia


Sesudah pendudukan militer Jepang mulai berkuasa, ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan terhadap bekas jajahan Hindia-Belanda. Pertama, Jepang berusaha menghapuskan semua pengaruh Barat di dalam masyarakat Indonesia. Kedua, segala kekuatan dimobilisasi untuk mendorong tercapai kemenangan perang Asia Timur Raya.

Dengan demikian, pendidikan pun diarahkan pada tujuan yang dianggapnya suci, yaitu untuk mencapai kemakmuran bersama Asia Timur Raya dengan Jepang yang bertindak sebagai pemimpin. Oleh sebab itu, segala kekuatan dan sumber-sumber yang ada diarahkan pada peperangan guna mencapai tujuan Jepang.

Pada awalnya, pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia, tetapi akhirnya sikap baik itu berubah sedikit demi sedikit menampakkan wajah aslinya. Apa yang ditetapkan pemerintah Jepang sebenarnya bukan untuk mencapai kemakmuran dan kemerdekaan Indonesia, melainkan demi kepentingan dan tujuan perang Jepang semata. Tetapi setelah pemerintah Jepang mengetahui betapa besarnya hasrat bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan maka dimulailah propaganda-propaganda tersebut yang seolah-olah demi kepentingan bangsa Indonesia.

Organisasi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang


Untuk memperkuat pendudukan Jepang di Indonesia dan menarik hati rakyat Indonesia, Jepang juga membentuk beberapa organisasi, baik organisasi non militer, semi militer, dan organisasi militer. Selain mengambil hati rakyat, sebenarnya organisasi tersebut dibentuk untuk keperluan kemenagan Perang di Asia Pasifik.

Ada tiga jenis organisasi yang dibentuk oleh Jepang, yaitu organisasi non militer, organisasi militer dan organisasi semi militer. Berikut penjelasan organisasi-organisasi tersebut.

Organisasi non Militer Bentukan Jepang

  1. Gerakan 3A
  2. Putera (Pusat Tenaga Rakyat)
  3. MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia)
  4. Masyumi
  5. Jawa Hokokai


Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang

  1. Pengerahan Tenaga Pemuda
  2. Seinendan
  3. Keibodan
  4. Barisan Pelopor
  5. Hizbullah


Organisasi Militer Bentukan Jepang

  1. Heiho
  2. Peta

Organisasi-organisasi tersebut bagi Jepang adalah untuk memikat simpati rakyat dan untuk membantu Jepang dalam Perang di Asia Pasifik. Terbukti, bahwa banyak rakyat Indonesia yang diberangkatkan ke Malaysia, Myanmar, dan Thailand untuk bertempur melawan tentara Sekutu. Namun bagi rakyat Indonesia, organisasi tersebut sebagai wadah untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, mempererat tali persaudaraan, dan membangun Nasionalisme bangsa.

Kekejaman Pendudukan Jepang di Indonesia


Ternyata Jepang membawa dampak yang sangat buruk bagi rakyat Indonesia. Ketika Jepang menduduki Indonesia berbagai faktor produksi penting telah hancur dan sebagian besar kehidupan ekonomi lumpuh. Akibat pemerasan sumber daya alam, rakyat Indonesia menderita kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan. Selain melakukan eksploitasi sumber daya alam, pemerintah pendudukan Jepang juga melakukan eksploitasi sumber daya manusia.

Eksploitasi dan Pengontrolan Sumber Ekonomi


Pemerintah pendudukan Jepang mulai mengeluarkan peraturan untuk menjalankan ekonomi. Pengawasan terhadap penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang diperketat. Untuk mencegah kenaikan harga barang, pemerintah pendudukan Jepang mengeluarkan peraturan pengendalian harga. Pelanggaran terhadap peraturan itu dijatuhi hukuman berat. Semua harta benda dan perusahaan penting, seperti pertambangan, listrik, telekomunikasi, dan transportasi, langsung dikuasai pemerintah pendudukan Jepang.

Pemerintah pendudukan Jepang merupakan pemerintahan militer. Oleh karena itu, sesuai dengan keadaan perang pada saat itu, semua jenis kegiatan diarahkan untuk kepentingan perang. Pemerintah pendudukan Jepang telah melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam Indonesia serta tenaga manusia yang ada. Pengisapan sumber daya alam dan tenaga manusia ini dilakukan Jepang demi memenangkan perang melawan Sekutu.

Usaha Jepang dalam memeras sumber daya alam di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

  1. Petani harus menyerahkan sebagian hasil panen, ternak, dan harta miliknya yang lain kepada pemerintah pendudukan Jepang untuk biaya Perang Asia Pasifik.
  2. Hasil kekayaan alam di Indonesia yang berupa hasil tambang, perkebunan, dan hutan diangkut ke Jepang.
  3. Jepang memaksa penduduk untuk menanam pohon jarak pada lahan pertaniannya.


Eksploitasi dan Pengontrolan Sumber Daya Manusia


Rakyat desa yang tenaga dan hartanya diperas oleh tentara pendudukan Jepang masih dibebani kewajiban kerja paksa tanpa upah (romusha). Mereka diperintahkan mengerjakan sarana militer untuk kepentingan Jepang. Para romusha dipaksa bekerja keras sepanjang hari tanpa upah, makan pun sangat terbatas sehingga kelaparan dan banyak yang meninggal di tempat kerja.

Sikap dan perilaku tentara Jepang dalam mengawasi para romusha sangat keras, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka yang kurang sungguh-sungguh bekerja akan ditempeleng atau dipukul dan yang berani menentang akan disiksa dan dibunuh. Menurut catatan sejarah, jumlah romusha yang dikerahkan keluar Jawa dan keluar negeri, seperti Burma (Myanmar), Malaya (Malaysia), dan Thailand mencapai 300.000 orang.

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia juga telah merambah ke berbagai sektor, seperti ekonomi, politik, dan pendidikan.

Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Pendudukan Jepang


Sikap baik Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia tidak berlangsung lama. Penindasan telah dilakukan dengan berbagai kebijakan. Tentu saja bangsa Indonesia berusaha melawan. Perlawanan itu dilaksanakan di berbagai kekuatan sosial politik. Mereka memperjuangkan tercapainya kemerdekaan. Perlawanan terhadap pendudukan Jepang dilakukan berbagai kalangan masyarakat. Bentuk-bentuk perlawanannya juga bermacam-macam.

Berbagai Golongan Masyarakat Melawan Jepang


Di Indonesia pada waktu itu terdapat berbagai kekuatan sosial politik yang memperjuangkan tercapainya tujuan Indonesia merdeka. Golongan atau organisasi yang melawan kekuasaan Jepang di antaranya adalah: golongan pangreh praja dan pegawai, para santri dan u lama Islam, golongan sosialis di bawah Syahrir, golongan komunis di bawah Amir Syarifudin, golongan Pemuda Menteng, pegawai-pegawai pada dinas Angkatan Laut, golongan nasionalis nonagama di bawah Soekarno, dan perkumpulan-perkumpulan pelajar.

Bentuk Perjuangan Melawan Jepang


Bagaimana kelompok pemuda itu mengadakan perlawanan terhadap Jepang? Mereka mengadakan perjuangan atau perlawanan melalui lembaga resmi pemerintahan, melalui gerakan bawah tanah, dan melalui tindakan kekerasan serta pemberontakan.

Perjuangan melalui kerjasama 

Perjuangan melawan Jepang yang dimaksud adalah dengan kerjasama dengan pemerintah Jepang. Tujuan utamanya adalah memperjuangakan kemerdekaan Indonesia melalui Lembaga pemerintah pendudukan Jepang. Kerja sama kooperatif dengan pemerintah Jepang hanyalah suatu siasat atau taktik belaka.

Dengan cara ini, para pejuang dapat du duk dalam lembaga-lembaga pemerintah. Dengan demikian, mereka dapat memperjuangkan atau membela nasib rakyat. Di samping itu, para pejuang dapat memanfaatkan organisasi dan lembaga-lembaga yang didirikan pemerintah Jepang untuk perjuangan kaum nasionalis.

Perjuangan melalui gerakan bawah tanah

Pada zaman perjuangan kemerdekaan, tidak sedikit pemimpin pergerakan nasional yang menolak bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Mereka melakukan kegiatan perjuangan secara rahasia di luar kerangka pemerintahan. Gerakan mereka tidak menjurus ke perlawanan bersenjata. Akan tetapi, gerakan mereka lebih bertujuan untuk menggalang solidaritas dan memperteguh cita-cita perjuangan.

Para tokoh pemimpin pergerakan kebangsaan yang berjuang melalui gerakan non-koperasi antara lain Sutan Syahrir, Achmad Subarjo, Adam Malik, Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, dan Amir Syarifudin. Berikut ini kegiatan gerakan bawah tanah yang dilakukan Sutan Syahrir dan kawan-kawan.


  1. Melakukan kontak rahasia antarkelompok pergerakan agar semangat kebangsaan tetap bergelora.
  2. Mengadakan persiapan yang perlu bagi penyambutan kemerdekaan.
  3. Memantau keadaan perang di luar negeri agar dapat menentukan saat yang tepat untuk merdeka. Pemantauan keadaan ini dilakukan dengan mendengarkan radio Sekutu. Informasi itu kemudian disebarluaskan di antara anggota pergerakan, serta melakukan diskusi.


Akhir Pendudukan Jepang di Indonesia


Kedudukan Jepang pada tahun 1944 dalam Perang Asia Pasifik mulai terdesak. Daerah jajahannya satu per satu mulai jatuh ke tangan pasukan Sekutu. Pada bulan Juli 1944, Kepulauan Saipan yang letaknya paling dekat dengan wilayah Jepang telah jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat. Kejadian itu tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat Jepang.

Situasi dalam negeri Jepang juga tidak kalah mengkhawatirkan. Moral masyarakat Jepang mulai turun dan hasil produksi industrinya pun ikut menurun, sehingga mengurangi pasokan senjata dan amunisi untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Pada perkembangan lain pasukan Sekutu untuk sementara waktu berhasil membobol garis pertahanan Jepang di Pasifik. Bahkan, wilayah Makassar, Ambon, dan Surabaya telah mendapat serangan udara dari Sekutu. Menghadapi situasi yang krisis tersebut, Letnan Jenderal Kumakici Harada pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Lembaga BPUPKI dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Jumbi Cosakai. Tujuan pembentukan BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang berhubungan dengan berbagai hal yang menyangkut pembentukan Indonesia merdeka. Tindakan pembentukan BPUPKI merupakan langkah konkret pertama kebijakan politik janji Perdana Menteri Koiso. Kebijakan politik menjelang berakhirnya pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia adalah menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Lembaga tersebut dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai. Pemilihan anggota PPKI dilakukan secara langsung oleh Jenderal Besar Terauci, penguasa perang tertinggi Jepang untuk seluruh Asia Tenggara.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 kota Hiroshima dibom atom oleh pasukan Amerika Serikat. Demikian juga kota Nagasaki dibom atom pada tanggal 19 Agustus 1945. Pemboman kedua kota penting di Jepang tersebut menyebabkan Jepang menyerah dan menandai berakhirnya Perang Asia Pasifik.

Penyerahan Jepang pada Sekutu menyebabkan wilayah Indonesia pun dalam pengawasan Sekutu. Jepang harus mampu mempertahankan status quo di Indonesia tanpa boleh mengambil kebijakan apa pun selain atas perintah Sekutu. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Jepang yang menguasai Indonesia selama tiga setengah tahun.

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

masa pendudukan jepang di indonesia

Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia


Bersamaan dengan pecah Perang Dunia 2 pada 1939-1945, Jepang melancarkan serangan ke Pangkalan Armada Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7 Desember 1941. Serangan mendadak tersebut dengan waktu singkat dapat memukul mundur pasukan Amerika Serikat pada 8 Desember 1941. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi Jepang untuk memasuki negara-negara di Asia.

Perang Asia Pasifik adalah sebutan untuk peperangan Jepang melawan Sekutu. Rentetan kemenangan yang dicapai oleh Jepang dalam perang Asia pasifik membuka pintu bagi mereka untuk menduduki tahan Hindia Belanda (Indonesia). Serangan-serangan itu seolah-olah tidak dapat dibendung. Kemenangan Jepang berhasil menghancurkan pasukan militer Sekutu di Thailand, Birma (Myanmar), Filipina, kemudian serangan Jepang juga akan dilancarkan ke Indonesia.

Serangan terhadap Indonesia bertujuan untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang seperti, minyak bumi, timah, dan alumunium. Sebab, persediaan minyak di Indonesia diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan Jepang selama Perang Pasifik.

Jepang masuk ke Indonesia harus melawan tentara Sekutu Belanda terlebih dahulu, karena sebelum Jepang datang ke Indonesia, bangsa Belanda sudah terlebih dahulu menguasai Tanah Air Indonesia.

Jepang Masuk ke Indonesia


Secara berurutan Jepang masuk ke Indonesia (Hindia Belanda) di awali dengan serangan di Tarakan, Kalimantan Timur (11 Januari 1942), Balikpapan (24 Januari 1942), Pontianak (29 Januari 1942), Samarinda (3 Februari 1942), dan Banjarmasin (10 Februari 1942). Setelah berhasil menguasai daerah-daerah luar Jawa, Jepang kemudian memusatkan serangan ke Pulau Jawa. Semua serangan Jepang terhadap daerah-daerah tersebut berhasil memukul mundur pasukan Sekutu khususnya pasukan pemerintahan Hindia Belanda.

Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus, yaitu di Teluk Banten,  Eretan Wetan, sebelah barat Cirebon (Jawa Barat), dan Kragan (Jawa Tengah). Setelah menguasai wilayah-wilayah tersebut, Belanda pada tanggal 5 Maret 1942 mengumumkan bahwa Batavia (Jakarta) sebagai kota terbuka. Artinya, sudah tidak lagi dipertahankan oleh Belanda.

Serangkaian serangan pasukan Jepang tidak mampu dibendung oleh Belanda, akhirnya pada tangga 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kali Jati, Subang, Jawa Barat. Sejak saat itulah Jepang secara penuh menguasai Indonesia. Penyerahan tanpa syarat tersebut ditandatangani oleh Letnan Jenderal Hithosi Imamura dari pihak Jepang dan Letnan Jenderal H. Ter Poorten dari pihak Belanda. Dengan demikian, bangsa Indonesia memasuki era baru, yaitu masa pendudukan Jepang.

Sebenarnya dalam menghadapi serangan tentara Jepang, pihak Sekutu sudah membentuk suatu komando gabungan yang disebut American Dutch Australian Command (ABDACOM). Markas besar komando gabungan ini terletak di Lembang, dekat Bandung. Panglima komando ABDACOM adalah Jenderal Sir Archibald Wavell. Sedangkan Letnan Jenderal H. Ter Poorten diangkat sebagai panglima tentara Hindia Belanda (KNIL).

Tujuan Jepang Menduduki Indonesia


Suatu negara menjajah bangsa lain tentu ada tujuan dan tanpa sebab. Tujuan utama pendudukan Jepang atas Indonesia adalah;

  1. Menjadikan Indonesia sebagai daerah penghasil dan penyuplai bahan mentah dan bahan bakar bagi kepentingan industri Jepang.
  2. Menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk mendapatkan tenaga buruh yang banyak dengan upah yang relatif murah.
  3. Menjadikan Indonesia sebagai tempat pemasaran hasil industri Jepang.
  4. Indonesia dijadikan tempat pemasaran hasil industri Jepang karena jumlah penduduk Indonesia sangat banyak.

Secara umum, Asia sangat potensial bagi kepentingan perindustrian Jepang. Selain memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah, Asia juga mempunyai penduduk yang sangat banyak.  Ketika Jepang mulai membangun industri di negaranya, kawasan Asia umumnya telah menjadi negara jajahan negara-negara Eropa. Dan Indonesia adalah salah satu negara yang di incar oleh Jepang.


Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang


Ambisi Jepang yang begitu besar untuk menguasai Indonesia mengharuskan Jepang menciptakan berbagai strategi untuk menarik simpati dari rakyat Indonesia. Propaganda Jepang pun dilancarkan dengan berbagai strategi, diantaranya:

  1. Jepang mengaku sebagai "saudara tua" bagi bangsa di Asia termasuk Indonesia dan berjanji membebaskan Asia dari penindasan bangsa Barat.
  2. Jepang memperkenalkan semboyan Gerakan 3A yaitu, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia.
  3. Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia, seperti janji menunaikan haji dan menjual barang dengan harga murah.


Selain itu, pada awal kedatangannya, Jepang menunjukkan sikap yang menarik simpati bangsa Indonesia. Jepang memperkenankan pengibaran bendera merah putih bersama bendera Jepang. Rakyat Indonesia boleh menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

Sambutan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang


Kedatangan Jepang di Indonesia pada awalnya disambut dengan senang hati olah rakyat Indonesia. Jepang dielu-elukan sebagai Saudara Tua yang dianggap dapat membebaskan bangsa Indonesia dari kekuasaan Belanda. Sementara itu, pihak Jepang terus melakukan propaganda-propaganda untuk terus menggerakkan dukungan rakyat Indonesia. Simpati dan dukungan rakyat nampaknya juga karena Jepang sangat membenci Belanda.

Sikap simpatik bangsa Indonesia terhadap Jepang antara lain juga dipengaruhi oleh kepercayaan ramalan Jayabaya yang terkenal dengan meramalkan akan datangnya orang kate yang akan berkuasa di Indonesia seumur jagung dan setelah itu dianggap sebagai suatu kemenangan bangsa-bangsa Asia atas Eropa yang sekaligus mengikis adanya anggapan bangsa Barat sebagai bangsa yang tak terkalahkan.

Tentara Jepang juga mempropaganda bahwa kedatangaan Jepang ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari penjajahan Bangsa Barat. Untuk meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan kembali bahwa Jepang adalah saudara tua, bahkan Jepang membentuk perkumpulan yang diberi nama Gerakan 3A.

Pembentukan Pemerintahan Jepang di Indonesia


Dengan menyerahnya Belanda kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, maka berakhirlah pemerintahan Belanda di Indonesia. Jepang pun mendirikan pemerintahan militer yang diperkuat dengan pemerintahan sipil. Dengan resmi ditegakkan pemerintahan Jepang, Indonesia memasuki periode baru, yaitu periode pendudukan Jepang.

Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia

Pada pertengahan tahun 1942 timbul pemikiran dari Markas Besar Tentara Jepang agar penduduk di daerah pendudukan dilibatkan dalam aktivitas pertahanan dan kemiliteran (termasuk semi militer). Oleh karena itu, pemerintah Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. Di seluruh Kepulauan Indonesia bekas Hindia Belanda itu wilayahnya dibagi menjadi tiga wilayah pemerintahan militer.

Adapun pembagian pemerintahan militer Jepang di Indonesia adalah

  1. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Keenam Belas (Asamu Shudan) untuk Jawa dan Madura. Pusatnya di Jakarta. Kekuatan pemerintah militer ini kemudian ditambah dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai).
  2. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Kedua Puluh Lima (Tomi Shudan) untuk Sumatra. Pusatnya di Bukittinggi.
  3. Pemerintahan militer Angkatan Laut, yaitu (Armada Selatan Kedua) untuk daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pusatnya di Makassar


Pemerintahan Sipil Jepang di Indonesia

Untuk mendukung kelancaran pemerintahan pendudukan Jepang yang bersifat militer, Jepang juga mengembangkan pemerintahan sipil. Pada bulan Agustus 1942, pemerintahan militer berusaha meningkatkan sistem pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU No. 27 tentang aturan pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan UU No. 28 tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi.

Dengan UU tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini, pemerintahan daerah yang tertinggi adalah shu (karesidenan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Yogyakarta dan Kochi Surakarta, dibagi menjadi daerah-daerah shu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 shu.

Kebijakan Pendudukan Jepang di Indonesia


Sesudah pendudukan militer Jepang mulai berkuasa, ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan terhadap bekas jajahan Hindia-Belanda. Pertama, Jepang berusaha menghapuskan semua pengaruh Barat di dalam masyarakat Indonesia. Kedua, segala kekuatan dimobilisasi untuk mendorong tercapai kemenangan perang Asia Timur Raya.

Dengan demikian, pendidikan pun diarahkan pada tujuan yang dianggapnya suci, yaitu untuk mencapai kemakmuran bersama Asia Timur Raya dengan Jepang yang bertindak sebagai pemimpin. Oleh sebab itu, segala kekuatan dan sumber-sumber yang ada diarahkan pada peperangan guna mencapai tujuan Jepang.

Pada awalnya, pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia, tetapi akhirnya sikap baik itu berubah sedikit demi sedikit menampakkan wajah aslinya. Apa yang ditetapkan pemerintah Jepang sebenarnya bukan untuk mencapai kemakmuran dan kemerdekaan Indonesia, melainkan demi kepentingan dan tujuan perang Jepang semata. Tetapi setelah pemerintah Jepang mengetahui betapa besarnya hasrat bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan maka dimulailah propaganda-propaganda tersebut yang seolah-olah demi kepentingan bangsa Indonesia.

Organisasi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang


Untuk memperkuat pendudukan Jepang di Indonesia dan menarik hati rakyat Indonesia, Jepang juga membentuk beberapa organisasi, baik organisasi non militer, semi militer, dan organisasi militer. Selain mengambil hati rakyat, sebenarnya organisasi tersebut dibentuk untuk keperluan kemenagan Perang di Asia Pasifik.

Ada tiga jenis organisasi yang dibentuk oleh Jepang, yaitu organisasi non militer, organisasi militer dan organisasi semi militer. Berikut penjelasan organisasi-organisasi tersebut.

Organisasi non Militer Bentukan Jepang

  1. Gerakan 3A
  2. Putera (Pusat Tenaga Rakyat)
  3. MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia)
  4. Masyumi
  5. Jawa Hokokai


Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang

  1. Pengerahan Tenaga Pemuda
  2. Seinendan
  3. Keibodan
  4. Barisan Pelopor
  5. Hizbullah


Organisasi Militer Bentukan Jepang

  1. Heiho
  2. Peta

Organisasi-organisasi tersebut bagi Jepang adalah untuk memikat simpati rakyat dan untuk membantu Jepang dalam Perang di Asia Pasifik. Terbukti, bahwa banyak rakyat Indonesia yang diberangkatkan ke Malaysia, Myanmar, dan Thailand untuk bertempur melawan tentara Sekutu. Namun bagi rakyat Indonesia, organisasi tersebut sebagai wadah untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, mempererat tali persaudaraan, dan membangun Nasionalisme bangsa.

Kekejaman Pendudukan Jepang di Indonesia


Ternyata Jepang membawa dampak yang sangat buruk bagi rakyat Indonesia. Ketika Jepang menduduki Indonesia berbagai faktor produksi penting telah hancur dan sebagian besar kehidupan ekonomi lumpuh. Akibat pemerasan sumber daya alam, rakyat Indonesia menderita kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan. Selain melakukan eksploitasi sumber daya alam, pemerintah pendudukan Jepang juga melakukan eksploitasi sumber daya manusia.

Eksploitasi dan Pengontrolan Sumber Ekonomi


Pemerintah pendudukan Jepang mulai mengeluarkan peraturan untuk menjalankan ekonomi. Pengawasan terhadap penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang diperketat. Untuk mencegah kenaikan harga barang, pemerintah pendudukan Jepang mengeluarkan peraturan pengendalian harga. Pelanggaran terhadap peraturan itu dijatuhi hukuman berat. Semua harta benda dan perusahaan penting, seperti pertambangan, listrik, telekomunikasi, dan transportasi, langsung dikuasai pemerintah pendudukan Jepang.

Pemerintah pendudukan Jepang merupakan pemerintahan militer. Oleh karena itu, sesuai dengan keadaan perang pada saat itu, semua jenis kegiatan diarahkan untuk kepentingan perang. Pemerintah pendudukan Jepang telah melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam Indonesia serta tenaga manusia yang ada. Pengisapan sumber daya alam dan tenaga manusia ini dilakukan Jepang demi memenangkan perang melawan Sekutu.

Usaha Jepang dalam memeras sumber daya alam di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

  1. Petani harus menyerahkan sebagian hasil panen, ternak, dan harta miliknya yang lain kepada pemerintah pendudukan Jepang untuk biaya Perang Asia Pasifik.
  2. Hasil kekayaan alam di Indonesia yang berupa hasil tambang, perkebunan, dan hutan diangkut ke Jepang.
  3. Jepang memaksa penduduk untuk menanam pohon jarak pada lahan pertaniannya.


Eksploitasi dan Pengontrolan Sumber Daya Manusia


Rakyat desa yang tenaga dan hartanya diperas oleh tentara pendudukan Jepang masih dibebani kewajiban kerja paksa tanpa upah (romusha). Mereka diperintahkan mengerjakan sarana militer untuk kepentingan Jepang. Para romusha dipaksa bekerja keras sepanjang hari tanpa upah, makan pun sangat terbatas sehingga kelaparan dan banyak yang meninggal di tempat kerja.

Sikap dan perilaku tentara Jepang dalam mengawasi para romusha sangat keras, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka yang kurang sungguh-sungguh bekerja akan ditempeleng atau dipukul dan yang berani menentang akan disiksa dan dibunuh. Menurut catatan sejarah, jumlah romusha yang dikerahkan keluar Jawa dan keluar negeri, seperti Burma (Myanmar), Malaya (Malaysia), dan Thailand mencapai 300.000 orang.

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia juga telah merambah ke berbagai sektor, seperti ekonomi, politik, dan pendidikan.

Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Pendudukan Jepang


Sikap baik Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia tidak berlangsung lama. Penindasan telah dilakukan dengan berbagai kebijakan. Tentu saja bangsa Indonesia berusaha melawan. Perlawanan itu dilaksanakan di berbagai kekuatan sosial politik. Mereka memperjuangkan tercapainya kemerdekaan. Perlawanan terhadap pendudukan Jepang dilakukan berbagai kalangan masyarakat. Bentuk-bentuk perlawanannya juga bermacam-macam.

Berbagai Golongan Masyarakat Melawan Jepang


Di Indonesia pada waktu itu terdapat berbagai kekuatan sosial politik yang memperjuangkan tercapainya tujuan Indonesia merdeka. Golongan atau organisasi yang melawan kekuasaan Jepang di antaranya adalah: golongan pangreh praja dan pegawai, para santri dan u lama Islam, golongan sosialis di bawah Syahrir, golongan komunis di bawah Amir Syarifudin, golongan Pemuda Menteng, pegawai-pegawai pada dinas Angkatan Laut, golongan nasionalis nonagama di bawah Soekarno, dan perkumpulan-perkumpulan pelajar.

Bentuk Perjuangan Melawan Jepang


Bagaimana kelompok pemuda itu mengadakan perlawanan terhadap Jepang? Mereka mengadakan perjuangan atau perlawanan melalui lembaga resmi pemerintahan, melalui gerakan bawah tanah, dan melalui tindakan kekerasan serta pemberontakan.

Perjuangan melalui kerjasama 

Perjuangan melawan Jepang yang dimaksud adalah dengan kerjasama dengan pemerintah Jepang. Tujuan utamanya adalah memperjuangakan kemerdekaan Indonesia melalui Lembaga pemerintah pendudukan Jepang. Kerja sama kooperatif dengan pemerintah Jepang hanyalah suatu siasat atau taktik belaka.

Dengan cara ini, para pejuang dapat du duk dalam lembaga-lembaga pemerintah. Dengan demikian, mereka dapat memperjuangkan atau membela nasib rakyat. Di samping itu, para pejuang dapat memanfaatkan organisasi dan lembaga-lembaga yang didirikan pemerintah Jepang untuk perjuangan kaum nasionalis.

Perjuangan melalui gerakan bawah tanah

Pada zaman perjuangan kemerdekaan, tidak sedikit pemimpin pergerakan nasional yang menolak bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Mereka melakukan kegiatan perjuangan secara rahasia di luar kerangka pemerintahan. Gerakan mereka tidak menjurus ke perlawanan bersenjata. Akan tetapi, gerakan mereka lebih bertujuan untuk menggalang solidaritas dan memperteguh cita-cita perjuangan.

Para tokoh pemimpin pergerakan kebangsaan yang berjuang melalui gerakan non-koperasi antara lain Sutan Syahrir, Achmad Subarjo, Adam Malik, Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, dan Amir Syarifudin. Berikut ini kegiatan gerakan bawah tanah yang dilakukan Sutan Syahrir dan kawan-kawan.


  1. Melakukan kontak rahasia antarkelompok pergerakan agar semangat kebangsaan tetap bergelora.
  2. Mengadakan persiapan yang perlu bagi penyambutan kemerdekaan.
  3. Memantau keadaan perang di luar negeri agar dapat menentukan saat yang tepat untuk merdeka. Pemantauan keadaan ini dilakukan dengan mendengarkan radio Sekutu. Informasi itu kemudian disebarluaskan di antara anggota pergerakan, serta melakukan diskusi.


Akhir Pendudukan Jepang di Indonesia


Kedudukan Jepang pada tahun 1944 dalam Perang Asia Pasifik mulai terdesak. Daerah jajahannya satu per satu mulai jatuh ke tangan pasukan Sekutu. Pada bulan Juli 1944, Kepulauan Saipan yang letaknya paling dekat dengan wilayah Jepang telah jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat. Kejadian itu tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat Jepang.

Situasi dalam negeri Jepang juga tidak kalah mengkhawatirkan. Moral masyarakat Jepang mulai turun dan hasil produksi industrinya pun ikut menurun, sehingga mengurangi pasokan senjata dan amunisi untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Pada perkembangan lain pasukan Sekutu untuk sementara waktu berhasil membobol garis pertahanan Jepang di Pasifik. Bahkan, wilayah Makassar, Ambon, dan Surabaya telah mendapat serangan udara dari Sekutu. Menghadapi situasi yang krisis tersebut, Letnan Jenderal Kumakici Harada pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Lembaga BPUPKI dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Jumbi Cosakai. Tujuan pembentukan BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang berhubungan dengan berbagai hal yang menyangkut pembentukan Indonesia merdeka. Tindakan pembentukan BPUPKI merupakan langkah konkret pertama kebijakan politik janji Perdana Menteri Koiso. Kebijakan politik menjelang berakhirnya pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia adalah menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Lembaga tersebut dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai. Pemilihan anggota PPKI dilakukan secara langsung oleh Jenderal Besar Terauci, penguasa perang tertinggi Jepang untuk seluruh Asia Tenggara.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 kota Hiroshima dibom atom oleh pasukan Amerika Serikat. Demikian juga kota Nagasaki dibom atom pada tanggal 19 Agustus 1945. Pemboman kedua kota penting di Jepang tersebut menyebabkan Jepang menyerah dan menandai berakhirnya Perang Asia Pasifik.

Penyerahan Jepang pada Sekutu menyebabkan wilayah Indonesia pun dalam pengawasan Sekutu. Jepang harus mampu mempertahankan status quo di Indonesia tanpa boleh mengambil kebijakan apa pun selain atas perintah Sekutu. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Jepang yang menguasai Indonesia selama tiga setengah tahun.

Subscribe Our Newsletter